the curiousity within
Ketika kita berpikir atau mengingat tentang masa lalu, yakinkah kita bahwa masa lalu itu ada dan riil?
Ingatan kita tentang masa lalu belum tentu menunjukkan masa lalu itu sendiri. Seberapa besar akurasi ingatan kita? Bagaimana kita yakin bahwa ingatan kita bukanlah hasil sejenis pemrograman atau simulasi yang dipasang pada kesadaran kita?
Istilah “masa lalu” sebenarnya lebih tepat disebut sebagai “ingatan saat ini”. Ketika kita menerima kenyataan bahwa ingatan kita tidak mutlak akurat, maka yang bisa dijadikan pegangan adalah kenyataan bahwa hanya kesadaran saat ini saja yang bisa diandalkan.
Sedikit banyak, masa lalu itu “tidak ada”. Masa lalu adalah proses konstruksi kesadaran kita SAAT INI, tidak beda dengan jenis pikiran lain seperti perenungan atau imajinasi. Yang berbeda hanyalah jenis relasi antara objek2 dalam jenis2 pikiran itu.
So, nothing really exists beyond this very moment.
Sebenarnya kita hidup selalu dalam saat ini, suatu saat yang kekal, suatu ketika yang abadi, a “one eternal moment”.
Maka konsep2 besar yang jamak seperti “proses”, “perubahan”, atau “kemajuan”, yang begitu sering jadi bahan obsesi manusia di tingkat individu mau pun kolektif, yg menyebabkan perang ideologi dan fisik, yg menyebabkan justru penderitaan bagi kemanusiaan itu sendiri, bisa jadi memudar dalam sudut pandang “one eternal moment” ini.
Bukan berarti kita perlu menafikan perbaikan atau penyempurnaan, tapi kita perlu berpikir ulang tentang apa2 sajakah yang penting dalam “satu ketika yang abadi” ini.
Saya pikir, yang paling penting dalam hal ini adalah proses2 yang juga menuju pada kekekalan, proses2 yg – misal – ketika kita sudah meninggal, ketika kultur kita sudah punah, ketika alam semesta menjadi tiada, maka proses2 itu tetap berharga untuk dilakukan saat ini.
Jadi, misalnya, “kesejahteraan”, “kesuksesan”, mestinya pudar dibandingkan “cinta kasih” dan “keadilan”.
Inilah yg menurut saya perlu ditekankan lagi dalam cara kita menata tujuan dan aktivitas berpolitik, berbisnis, berkeluarga, dll.
Ini misalnya bisa digunakan utk menjawab pertanyaan: Apakah lebih penting membangun waduk utk kesejahteraan atau menjaga ketentraman alam dan sosial? Apakah bisnis kita menguntungkan diri kita dan tetap adil bagi karyawan dan lingkungan usaha? Apakah kesibukan kita mencari nafkah lebih penting drpd hubungan kita dg pasangan dan anak2 kita?
Menurut saya, sebaiknya kita pilih apa2 yang abadi, yang membangun keabadian.
Karena keabadian adalah saat ini juga, dan saat ini juga adalah kesadaran kita, dan kesadaran kita adalah identitas sejati kita sendiri
Tulisan-tulisan terkait: