Waktu: Satu Ketika yang Abadi

In: Hakikat|Identitas

5 Dec 2008

Ketika kita berpikir atau mengingat tentang masa lalu, yakinkah kita bahwa masa lalu itu ada dan riil?

Ingatan kita tentang masa lalu belum tentu menunjukkan masa lalu itu sendiri. Seberapa besar akurasi ingatan kita? Bagaimana kita yakin bahwa ingatan kita bukanlah hasil sejenis pemrograman atau simulasi yang dipasang pada kesadaran kita?

Istilah “masa lalu” sebenarnya lebih tepat disebut sebagai “ingatan saat ini”. Ketika kita menerima kenyataan bahwa ingatan kita tidak mutlak akurat, maka yang bisa dijadikan pegangan adalah kenyataan bahwa hanya kesadaran saat ini saja yang bisa diandalkan.

Sedikit banyak, masa lalu itu “tidak ada”. Masa lalu adalah proses konstruksi kesadaran kita SAAT INI, tidak beda dengan jenis pikiran lain seperti perenungan atau imajinasi. Yang berbeda hanyalah jenis relasi antara objek2 dalam jenis2 pikiran itu.

So, nothing really exists beyond this very moment.

Sebenarnya kita hidup selalu dalam saat ini, suatu saat yang kekal, suatu ketika yang abadi, a “one eternal moment”.

Maka konsep2 besar yang jamak seperti “proses”, “perubahan”, atau “kemajuan”, yang begitu sering jadi bahan obsesi manusia di tingkat individu mau pun kolektif, yg menyebabkan perang ideologi dan fisik, yg menyebabkan justru penderitaan bagi kemanusiaan itu sendiri, bisa jadi memudar dalam sudut pandang “one eternal moment” ini.

Bukan berarti kita perlu menafikan perbaikan atau penyempurnaan, tapi kita perlu berpikir ulang tentang apa2 sajakah yang penting dalam “satu ketika yang abadi” ini.

Saya pikir, yang paling penting dalam hal ini adalah proses2 yang juga menuju pada kekekalan, proses2 yg – misal – ketika kita sudah meninggal, ketika kultur kita sudah punah, ketika alam semesta menjadi tiada, maka proses2 itu tetap berharga untuk dilakukan saat ini.

Jadi, misalnya, “kesejahteraan”, “kesuksesan”, mestinya pudar dibandingkan “cinta kasih” dan “keadilan”.

Inilah yg menurut saya perlu ditekankan lagi dalam cara kita menata tujuan dan aktivitas berpolitik, berbisnis, berkeluarga, dll.

Ini misalnya bisa digunakan utk menjawab pertanyaan: Apakah lebih penting membangun waduk utk kesejahteraan atau menjaga ketentraman alam dan sosial? Apakah bisnis kita menguntungkan diri kita dan tetap adil bagi karyawan dan lingkungan usaha? Apakah kesibukan kita mencari nafkah lebih penting drpd hubungan kita dg pasangan dan anak2 kita?

Menurut saya, sebaiknya kita pilih apa2 yang abadi, yang membangun keabadian.

Karena keabadian adalah saat ini juga, dan saat ini juga adalah kesadaran kita, dan kesadaran kita adalah identitas sejati kita sendiri

Tulisan-tulisan terkait:

  1. Ketika Tuhan Mencipta Indonesia …Suatu hari Tuhan tersenyum puas melihat sebuah planet yang baru saja diciptakan-Nya. Malaikat pun bertanya, "Apa yang baru saja Engkau...
  2. Menyesali Hari EsokPenulis menjelaskan cara visualisasi yang benar, yaitu dengan membayangkan keinginan Anda terjadi di saat ini, alih-alih di masa depan....
  3. Kau Pikir Siapakah Diriku?Aku bukanlah namaku. Aku bukanlah jabatanku. Aku bukanlah statusku. Aku bukanlah pendidikanku. Aku bukanlah hartabendaku. Aku bukanlah keberhasilanku. Aku bukanlah...
  4. Menguji Law of Attraction dengan Metoda IlmiahDi Milis Profec (theprofec [at] yahoogroups.com, thread http://finance.groups.yahoo.com/group/TheProfec/message/23896), Pak Susanto Salim mengajukan saran untuk menguji secara ilmiah Law of Attraction...
  5. biarkan kenyataan bicara(baru saja menemukan kembali sebuah tulisan saya sendiri di milis – tertanggal 28 juli 2001, lumayan untuk jadi kenang-kenangan) gini....
  6. Dalih-dalih LemahDalih adalah kebohongan yang kita buat untuk menghindari berhadapan dengan kebenaran yang tak nyaman. Tetapi selama kita masih mempercayai dalih-dalih...
  7. Rahasia Keberlimpahan dan KekayaanPerbedaan antara yang kaya dan yang miskin tidak terletak pada jumlah uang yang mereka miliki, tapi pada cara mereka berpikir,...
  8. Tidak Ada Kemuliaan Intrinsik Pada Konsep “Perjuangan”Menanggapi status seseorang di Facebook, saya menulis ini: Tidak ada kemuliaan intrinsik pada konsep “perjuangan”. Alam tidak berjuang utk eksis....
  9. Allah Rahman, Allah Rahim, Allahu ya Ghafar ya Nurul QolbiLagu “Cahaya Hati” dari Opick ini belum pernah gagal membuat mata saya basah setiap kali mendengar “pekikan” kalimat ini: Allah...
  10. Penjelasan (Tak Terlalu) Ilmiah tentang Law of AttractionApakah ada sesuatu yang bisa kita pelajari dari kontroversi ilmiah (atau tak imiah) tentang Law of Attraction? LoA menjadi topik...

Comment Form

About this blog

Exploring the curiousity within.

Dapatkan Tulisan dan Perangkat Lunak Terbaru

Isilah form di bawah untuk berlangganan blog ini dan saya akan mengabari Anda setiap kali ada tulisan atau perangkat lunak gratis baru, seperti Glosarium dan Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Zero spam tolerance.

Teman-teman Facebook

Sudah Menjadi Anggota?
Login
Login Lewat Facebook:
Pengunjung Terakhir
Mari bergabung di ferli.net

Kategori Tulisan

Arsip-arsip