the curiousity within
Menanggapi status seseorang di Facebook, saya menulis ini:
Tidak ada kemuliaan intrinsik pada konsep “perjuangan”. Alam tidak berjuang utk eksis. Matahari tdk “berjuang” utk memberi energi kehidupan. Bulan tdk “berjuang” membagikan keindahan. Bumi tdk “berjuang” menopang kehidupan. Seluruh bintang dan planet tdk “berjuang” pada lintas-edarnya. Malaikat tdk “berjuang” memuliakan Tuhan. Iblis tdk “berjuang” utk menyesatkan manusia. Tuhan tdk “berjuang” utk ada. “Berjuang” terjadi hanya ketika sebuah eksistensi ada dlm disharmoni. Manusia selaras tdk “berjuang”, dia hanya menjadi sepenuhnya diri sendiri.
Terus-terang, terkadang saya suka kaget dengan lontaran ide sendiri;-).
Tetapi memang sudah beberapa lama saya percaya bahwa “being” lebih baik daripada “doing”. “Being” di sini adalah menjadi diri kita sepenuh-penuhnya, dengan pemahaman diri selengkap-lengkapnya, sehingga apa pun yang kita lakukan bukanlah sesuatu yang berat, tapi merupakan suatu pernyataan alamiah kesejatian diri kita yang mengalir apa adanya. Dalam kondisi ini, apa pun yang kita kerjakan, seberat apa pun tantangan yang dihadapi, tidak membuat kita merasa kepayahan dalam “perjuangan”.
Sebaliknya, “perjuangan” dalam diri hanya terjadi ketika kita tidak mampu mengenali dan mewujudkan diri kita yang sesungguhnya, ketika bagian-bagian diri kita dari berbagai aspeknya (lahir, batin, mental, intelektual, spiritual) terpecah-pecah ke dalam berbagai arah.
(to be continued, udah malem banget sih …”
Tulisan-tulisan terkait: