the curiousity within
The post is my translation from Steve Pavlina’s “The Power of Now”:
| # | Source | Target |
| 1 | The Power of Now | “The Power of Now” – Kekuatan Saat Ini |
| 2 | This is a post about a major shift in my thinking that occurred several years ago, a shift that caused a dramatic improvement in my enjoyment of life. If you’d like to experience more joy in your life right now instead of merely hoping things will get better in your future, you might find this story helpful. | Ini adalah suatu tulisan tentang pergeseran besar dalam pemikiran saya yang terjadi beberapa tahun lalu, suatu pergeseran yang menyebabkan peningkatan dramatik dalam cara saya menikmati kehidupan. Jika Anda ingin lebih mersa berbahagia saat ini alih-alih sekedar berharap segalanya akan membaik di masa depan, Anda akan mendapatkan cerita ini berguna. |
| 3 | Many years ago when I was developing computer games, one of my goals was to become very wealthy. I figured that would be a very positive goal to achieve, one that would give me a lot more freedom. However, I noticed that even though I was running my own business, I wasn’t enjoying much freedom in the present. I had to answer to publishers, customers, and other stakeholders. I had to meet deadlines set by others. And I had to do many tasks I didn’t particularly like. When I gazed into the future, I saw the potential for wealth and freedom, but in order to reach that point, I would have to endure a definite absence of those qualities in the present. | Bertahun-tahun lalu ketika saya saya mengembangkan permainan komputer, salah satu tujuan saya adalah untuk menjadi sangat kaya. Saya pikir itu adalah tujuan yang sangat positif untuk dicapai, sesuatu yang akan memberikan saya kebebasan melimpah. Tetapi, saya melihat bahwa meski saya menjalankan bisnis sendiri, saya tidak banyak menikmati kebebasan di saat kini. Saya harus menanggapi para penerbit, pelanggan, dan berbagai pemangku kepentingan lain. Saya harus memenuhi tenggat waktu yang ditetapkan orang-orang lain. Dan saya harus melakukan berbagai tugas tertentu yang saya tidak sukai. Ketika saya menatap masa depan, saya melihat potensi kekayaan dan kebebasan, tapi untuk mencapai titik itu, saya harus menahankan kehilangan kualitas-kualitas itu pada saat kini. |
| 4 | Initially this plan of delayed gratification seemed sensible and intelligent to me. Shouldn’t I make sacrifices while I’m young in order to create a better future for myself? Wouldn’t it be great to become a millionaire in my 20s? | Awalnya rencana penundaaan kesenangan ini tampak masuk akal dan cerdas buat saya. Bukankah saya harus berkorban selagi muda supaya tercipta masa depan lebih baik buat saya sendiri? Bukankah hebat untuk menjadi jutawan di usia 20-an? |
| 5 | But something about that mindset didn’t sit right with me. My intellect liked it, but my intuition kept fighting it. I experienced a major head-vs-heart battle as I pondered the issue of sacrificing freedom in the present in order to achieve supposedly greater freedom in the future. I figured it was just a matter of discipline and self-sacrifice and that in the long run, all my efforts would pay off. But after years of hard work and encountering some major roadblocks along the way, I felt like I just wasn’t getting any closer to my goal. It always seemed to be just a few more years away. | Tetapi sesuatu tentang pemikiran tersebut tidak terasa cocok buat saya. Intelektualitas saya menyukainya, tapi intuisi saya selalu melawannya. Saya mengalami pertarungan kepala versus hati selagi saya mempertimbangkan pengorbanan kebebasan saat kini supaya mencapai kebebasan lebih besar di masa depan. Saya pikir hal itu hanyalah sekedar masalah disiplin dan pengorbanan diri dan bahwa dalam jangka panjang, segala usaha saya akan terbayar. Tetapi setelah bertahun-tahun bekerja keras dan menghadapi kendala-kendala besar di sepanjang jalan, saya merasa saya tidak semakin dekat dengan tujuan saya. Hal itu tampak seperti selalu beberapa tahun lagi saja. |
| 6 | While browsing through a bookstore one day, a certain book practically jumped off the shelf at me: Eckhart Tolle’s The Power of Now. I had such a strong intuitive sense about the book that I just bought it right away. | Ketika menjelajahi suatu toko buku di suatu hari, sebuah buku sepertinya melompat dari rak ke arah saya: Buku “The Power of Now” karya Eckhart Tolle. Saya merasakan intuisi kuat tentang buku itu sehingga saya langsung membelinya. |
| 7 | The Power of Now is the sort of book that continues to swirl about in your consciousness weeks after you’ve read it. It left me permanently changed. | “The Power of Now” adalah sejenis buku yang terus berputar-putar dalam kesadaran Anda berminggu-minggu setelah Anda membacanya. Buku itu membuat saya berubah secara permanen. |
| 8 | The basic principle of the book is quite simple — nothing exists outside this present moment. But that’s a very different way of thinking than I was used to. I used to think of my lifetime as a line segment from birth to death. The present moment was a single point on that line moving slowly forward. The past was the part of the line behind that point, and the future was the part ahead of it. After reading The Power of Now, I stopped thinking of my life in this way. I finally understood that this model was extremely disempowering. | Prinsip dasar dari buku itu sederhana saja — tak ada sesuatu di luar saat ini. Tetapi hal itu adalah cara berpikir yang sangat berbeda dari kebiasaan saya. Saya biasa berpikir tentang hidup saya sebagai segmen garis dari kelahiran hingga kematian. Saat ini adalah suatu titik tunggal pada garis itu yang bergerak maju secara perlahan. Masa lalu adalah bagian dari garis di belakang titik itu, dan masa depan adalah bagian di depannya. Setelah membaca “The Power of Now”, saya berhenti memikirkan hidup saya dengan cara ini. Saya akhirnya menyadari bahwa model ini amat sangat melemahkan. |
| 9 | The Power of Now taught me that there is no line segment. The point is all there is. The past and the future are illusions. They only exist to the degree we focus our attention on them right now. We create the past and the future by imagining them in the present. But we don’t even exist outside the Now. | “The Power of Now” mengajari saya bahwa tidak ada garis segmen. Titik saat ini adalah segalanya. Masa lalu dan masa depan adalah ilusi. Mereka ada hanya pada tingkat di mana kita memfokuskan perhatian kita saat ini. Kita menciptakan masa lalu dan masa depan dengan membayangkannya pada saat ini. Tetapi kita tidak ada di luar “Sekarang”. |
| 10 | This might seem like just a semantic difference, perhaps even an erroneous one, but it was a radical new way of thinking for me, and I was eager to test it. As I grasped the idea that nothing exists outside this present moment, I turned my overall life strategy upside down. I understood that if I am to experience anything in life, I must create it in this moment. It must exist in some form right now, or it doesn’t exist at all. So the idea of creating freedom and wealth in the future by constraining myself in the present was nothing but a fool’s errand. That future would never arrive as long as I was creating confinement and scarcity in the here and now. | Ini sepertinya hanya merupakan perbedaan semantik, yang bahkan sepertinya keliru, tapi itu adalah suatu cara baru berpikir yang sangat radikal buat saya, dan saya sangat berhasrat untuk mengujinya. Setelah saya menyerap gagasan bahwa tidak ada sesuatu di luar saat ini, saya menjungkirbalikkan keseluruhan strategi hidup saya. Saya menyadari bahwa jika saya ingin memiliki pengalaman apa pun dalam hidup, saya harus menciptakannya pada saat ini. saya harus menciptakannya sekarang, atau hal itu tidak akan terjadi sama sekali. Jadi ide tentang menciptakan kebebasan dan kekayaan di masa depan dengan membelenggu diri sendiri dalam saat ini tak lain hanyalah gagasan bodoh. Masa depan tidak akan pernah tiba selagi saya masih menciptakan batasan dan kelangkaan di sini dan sekarang. |
| 11 | The future is certainly a convenient mental construct, but I found that projecting too much of what I wanted into my future was hurting the enjoyment of my present. What’s the point of working to create a future of joy and freedom if my present reality is just the opposite? If I wanted freedom and wealth in the future, I had to seed its creation right here, right now. The only power I have to create anything is here in the present. I adopted the mindset, “If it doesn’t exist in some form right now, it never will exist.” | Masa depan memanglah suatu konstruksi mental yang selayaknya, tapi saya menemukan bahwa terlalu membayangkan apa yang saya inginkan di masa depan telah merugikan kebahagiaan saat ini. Apa artinya bekerja menciptakan masa depan kesenangan dan kebebasan jika kenyataan saat ini adalah kebalikannya? Jika saya ingin kebebasan dan kekayaan di masa depan, saya harus menanam benih penciptaannya di sini, saat ini juga. Kekuatan penciptaan satu-satunya yang saya miliki ada di sini dan pada saat ini. Saya mengikuti cara pikir itu, “Jika hal itu tidak ada saat ini dalam bentuk tertentu, hal itu tidak akan pernah ada.” |
| 12 | This shift in thinking produced a significant shift in my priorities. I began focusing more of my energy on improving the quality of my present reality instead of projecting all those improvements into the realm of someday. I started asking questions like, “How can I experience more joy in this very moment?” | Pergeseran dalam pemikiran ini menghasilkan pergeseran besar dalam pengaturan prioritas saya. Saya mulai memfokuskan lebih banyak energi untuk meningkatkan kualitas kenyataan saya saat ini alih-alih memproyeksikan perbaikan-perbaikan itu ke dalam kemungkinan masa depan. Saya mulai mempertanyakan hal-hal seperti, “Bagaimana saya bisa mengalami lebih banyak kebahagiaan pada saat ini?” |
| 13 | My present reality didn’t transform instantly, but it did change massively over a period of years. As part of this process, I eventually stopped developing computer games and shifted my focus to personal development full-time. Why? Largely because I enjoyed personal development more than game development. I got rid of my office and began working from home. I stopped doing deadline-oriented project work and started blogging and writing articles I could complete in a single sitting. I started taking more time off. I began doing more things I enjoyed, such as exercising, reading, meditating, and spending time with my wife. I became less stingy with my cash and began spending it more liberally when the situation warranted. | Kenyataan saya saat ini tidak bertransformasi seketika, tapi hal itu berubah sangat besar dalam rentang waktu tahunan. Sebagai bagian dari proses ini, saya akhirnya menghentikan pengembangan permainan komputer dan menggeser fokus saya pada pengembangan pribadi secara purna-waktu. Mengapa? Terutama karena saya lebih menikmati pengembangan diri lebih besar daripada pengembangan permainan komputer. Saya tinggalkan kantor saya dan mulai bekerja dari rumah. Saya hentikan pekerjaan proyek berorientasi tenggat-waktu dan memulai blogging dan menulis artikel yang dapat saya selesaikan dalam satu kali duduk. Saya mulai mengambil lebih banyak waktu luang. Saya mulai mengerjakan hal-hal yang saya senangi, seperti berolahraga, membaca, bermeditasi, dan menghabiskan waktu bersama istri saya. Saya mulai kurang pelit dengan uang dan mulai membelanjakannya dengan bebas ketika situasinya memungkinkan. |
| 14 | I was initially concerned that focusing too much on the present moment would make me shortsighted. But my experience has been just the opposite. I’m still able to make plans for the future and work on long-term goals. In the past I would set goals because I believed that achieving those goals would increase my happiness. But now the flow goes in reverse. Today I set goals to increase my expression of the happiness I’m already enjoying. | Awalnya saya kuatir bahwa terlalu berfokus pada saat ini akan membuat saya berpikiran jangka pendek. Tetapi pengalaman saya justru sebaliknya. Saya masih tetap mampu membuat rencana untuk masa depan dan bekerja untuk sasaran-sasaran jangka panjang. Di masa lalu saya biasa menetapkan sasaran karena saya percaya bahwa mencapai sasaran-sasaran itu akan meningkatkan kebahagiaan saya. Tetapi kini alurnya terbalik. Kini saya menetapkan sasaran untuk meningkatkan pernyataan diri tentang kebahagiaan yang sedang saya nikmati. |
| 15 | Consider the goal of building web traffic. With my games business, I wanted to build web traffic because of what I thought it would bring me: more leads, more sales, more money, more success, etc. With this personal development business, I also want to keep building web traffic. But now it’s mainly because I’m so passionate about the work I’m doing that I want to share it with as many people as possible. Again, the flow has been reversed. I don’t look to this business to make me happy. I look to this business to express my happiness outward and to share it with others. | Lihatlah sasaran tentang membangun trafik pengunjung web. Dengan bisnis permainan saya, saya ingin membangun trafik pengunjung web karena saya pikir hal itu akan membawakan saya: lebih banyak calon pembeli, lebih banyak penjualan, lebih banyak uang, lebih banyak kesuksesan, dll. Dengan bisnis pengembangan diri ini, saya juga ingin tetap membangun trafik pengunjung web. Tetapi sekarang hal itu terutama disebabkan saya begitu bergairah tentang pekerjaan saya sehingga saya ingin membaginya dengan sebanyak mungkin orang. Lagi, alurnya telah dibalik. Saya tidak mencari kebahagiaan melalui bisnis ini. Saya menggunakan bisnis ini sebagai pernyataan kebahagiaan saya ke luar dan untuk membaginya dengan banyak orang. |
| 16 | The big irony is that my future is in much better shape even though I focus most of my attention on the present. By making my present reality as enjoyable as possible, my motivation has just been soaring. I’m working from a state of joy instead of a feeling of obligation. I write because I enjoy writing, not because I feel I must keep writing in order to make money. If I don’t feel like writing, I don’t write. Whenever I feel like taking several days off, I do that. | Ironi besarnya adalah masa depan saya jauh lebih baik meski saya memfokuskan perhatian pada saat ini. Dengan membuat realitas saat ini semenyenangkan mungkin, semangat saya menjadi membumbung tinggi. Saya bekerja dari keadaan sukacita alih-alih dari keterpaksaan. Saya menulis karena saya menikmati penulisan, bukan karena saya merasa saya harus menulis untuk menghasilkan uang. Jika saya tidak sedang merasa suka menulis, saya tidak menulis. Bilamana saya merasa ingin berlibur beberapa hari, saya pun berlibur. |
| 17 | I’ve actually created the very situation I was hoping money would someday grant me. I imagined what I would do if I was already rich beyond my wildest dreams. I saw myself spending lots of time working on personal growth, doing all sorts of interesting experiments, and then sharing what I learned with others. I thought to myself, “That would be a truly incredible life for me.” But instead of waiting to become rich first, I decided to find a way to make it happen right now, even if I’d only be doing it for free in my spare time. I realized that telling myself I would do certain things after I was rich was just an excuse. Do you ever catch yourself saying, “Someday when I’m rich, I’ll do X”? Deep down you know that it isn’t a lack of money that’s holding you back though — it’s just fear. Why not find a way to do those things right now, if only on a small scale? | Sesungguhnya saya telah menciptakan situasi yang saya harapkan hanya bisa diberikan oleh uang suatu hari nanti. Saya bayangkan apa yang akan saya lakukan bila saya telah kaya lebih dari impian terliar saya. Saya bayangkan diri saya menghabiskan waktu bekerja untuk pengembangan diri, melakukan berbagai eksperimen yang menarik, dan lalu membagikan pelajaran yang saya peroleh kepada banyak orang lain. Saya berpikir, “Betapa menakjubkannya bila hidup saya seperti itu.” Tetapi alih-alih menunggu untuk menjadi kaya terlebih dahulu, saya putuskan untuk mencari cara mewujudkannya saat ini juga, bahkan pun jika saya hanya melakukannya gratis dalam waktu luang saya. Saya menyadari bahwa meyakinkan diri saya untuk melakukan hal tertentu setelah saya menjadi kaya hanyalah alasan semata. Apakah Anda pernah mengamati diri sendiri berkata, “Suatu hari nanti ketika saya kaya, saya akan melakukan X”? Tetapi di hati terdalam Anda tahu bahwa bukanlah kekurangan uang yang menahan Anda — yang menahan Anda adalah rasa takut. Mengapa tidak mencari cara untuk melakukannya saat ini juga, meski secara kecil-kecilan? |
| 18 | This line of thinking produced some amazing results for me. Even though I don’t have millions of dollars in the bank, I feel like I’m already living the way I would live if I were financially set for life. If I won $100 million in the lottery, I’d keep doing what I’m doing right now. The money would simply expand my capacity but not the essence of what I’m doing. What would you do if you were already set for life? Figure out what that is, and find a way to begin doing it on some level right now. | Cara pikir seperti ini telah memberikan hasil luar biasa buat saya. Meski saya tidak memiliki jutaan dolar di bank, saya merasa seolah saya sudah hidup dengan cara yang saya inginkan ketika saya sudah hidup bebas secara finansial. Jika saya memenangkan lotere 100 juta dolar, saya akan tetap melakukan hal yang saya lakukan saat ini. Uang tersebut sekedar akan mengembangkan kapasitas saya tapi bukannya hal inti dari apa yang saya lakukan. Apa yang akan Anda lakukan jika Anda telah mapan dalam hidup? Caritahulah apa hal tersebut, dan carilah cara untuk melakukannya dalam tingkat tertentu saat ini juga. |
| 19 | Today I’m so happy it’s almost ridiculous. I couldn’t even have imagined being this happy on a daily basis five years ago. And I certainly wasn’t depressed back then — I was at least content. But now my default emotional state is highly positive, not just neutral. I stopped seeking happiness in the future and instead looked for ways to create it right now. | Saat ini saya begitu bahagia sampai-sampai terasa hampir seperti menggelikan. Saya bahkan tidak pernah membayangkan setiap hari sebahagia ini lima tahun lalu. Dan tentu saja saya tidak sedang depresi waktu itu — saya sedikitnya puas waktu itu. Tetapi saat ini keadaan emosional sehari-hari saya sangat positif, tidak hanya netral. Saya berhenti mencari kebahagiaan di masa depan dan alih-alih mencari cara untuk menciptakannya saat ini. |
| 20 | I’ve noticed that the happier I feel, the less attached I am to outcomes. Instead of trying to acquire money, possessions, or other externalities, my focus has shifted to self-expression. I have a burning desire to create. Instead of having a craving to eat, it’s like I have a craving to cook. But of course by focusing on expressing instead of acquiring, I end up doing the very things that enable me to easily acquire whatever I want. Really I’m just doing what I love most. | Saya amati bahwa semakin saya merasa bahagia, semakin tak terikat saya pada hasilnya. Alih-alih mencoba memperoleh uang, harta benda, dan hal-hal keduniawian lainnya, fokus saya telah bergeser kepada pernyataan-diri. Saya memiliki hasrat membara untuk mencipta. Alih-alih bernafsu makan, seolah saya bernafsu untuk memasak. Tetapi tentu saja dengan berfokus pada pernyataan alih-alih pada perolehan, saya akhirnya melakukan hal-hal yang justru membuat saya mampu dengan mudah memperoleh apa pun yang saya inginkan. Sungguh saya hanya melakukan apa yang paling saya sukai. |
| 21 | How do you feel about your life right this moment? Are you gushingly positive and overflowing with passion? | Bagaimana perasaan Anda tentang hidup Anda pada saat ini? Apakah semangat positif Anda menyembur-nyembur dan gairah Anda meluap-luap? |
| 22 | Or do you find yourself stuck in the same situation I was in several years ago, sacrificing your present happiness for the hope of a better tomorrow? How is that strategy working for you? Are you becoming significantly happier and more fulfilled with each passing year? Or are you just running on a treadmill while trying to convince yourself that someday things will be better? | Atau Anda mendapati diri terapit dalam situasi yang sama dengan yang saya alami beberapa tahun lalu, mengorbankan kebahagiaan saat ini untuk harapan esok hari yang lebih baik? Bagaimana strategi itu bekerja untuk Anda? Apakah Anda menjadi lebih bahagia dan terpuaskan tahun demi tahun? Ataukah Anda hanya berlari di tempat sementara Anda meyakinkan diri bahwa suatu hari segalanya akan menjadi lebih baik? |
| 23 | There is no someday, you know. There is only right now. If your current life path isn’t a joyful one, turn around and take a different path. Other people will probably whine about your decision — no one on the treadmill of unhappiness likes being reminded that it’s possible to get off at any time. But I’ll tell you that a few years later, those same people will be asking you for help to make the same choice, especially when they see how disgustingly happy you are. | Tidak ada “suatu hari”, Anda tahu. Hanya ada saat ini. Jika jalan hidup Anda bukanlah sesuatu yang membuat Anda sukacita, berbeloklah dan ambil jalur lain. Orang lain mungkin akan meratapi keputusan Anda — tak ada orang dalam tredmil ketakbahagiaan senang diingatkan bahwa adalah mungkin untuk meloloskan diri kapan saja. Tetapi saya katakan bahwa beberapa tahun lagi, orang-orang yang sama akan meminta tolong Anda untuk membuat keputusan yang sama, terutama ketika mereka melihat betapa Anda berbahagia sehingga membuat mereka mual. |
Tulisan-tulisan terkait: