Michael Jackson, Selamat Jalan

In: General| Opini| Umum

28 Jun 2009

Jum’at pagi, 26 Juni 2009, sebelum berangkat ke kantor saya sempat membaca status teman-teman di Facebook, sebagian mengabarkan bahwa Michael Jackson dan Farrah Fawcett telah meninggal dunia.

Awalnya tidak ada perasaan khusus terhadap kabar ini, biasa saja. Tetapi lambat laun dalam perjalanan ke kantor, beberapa lagu Michael seperti berputar sendiri di benak saya. Satu lagu yang “keras kepala” berputar terus di benak adalah “She’s Out of My Life.”

She’s out of my life
She’s out of my life
I don’t know whether to laugh or cry
And I don’t know whether to live or die
And it cuts like a knife
She’s out of my life

It’s out of my hand
It’s out of my hand
To think for two years she was here
And I took her for granted, I was so cavalier
Now the way that it stands
She’s out of my hand

So I’ve learned that love is not possession
And I’ve learned that love won’t wait
Now I’ve learned that love needs expression
But I learned too late

And she’s out of my life
She’s out of my life
Damn indecision and cursed pride
I kept my love for her locked deep inside
And it cuts like a knife
She’s out of my life

Lagu yang menceritakan kepedihan dan penyesalan atas kehilangan seseorang yang kita cintai, tanpa kita sempat menyatakan cinta kita itu, terasa semakin merasuk. Tanpa terasa, mata saya basah.

Seperti sahabat sejati, lewat lagu-lagunya Michael pernah menangis, tertawa, atau marah “bersama” saya. Betapa shared moment itu terasa begitu berharga kini.

Ada bagian jiwa ikut pergi bersama Michael, selamanya terindukan.

Saya jadi sadar, betapa selama ini saya — dan mungkin banyak orang lain — telah membuat Michael taken for granted.

Padahal, seperti banyak seniman besar lain, Michael harus menanggung disonansi atau gap menganga yang besar antara kedalaman jiwanya dengan dunia di luar dirinya. Tekanan seperti ini amat berat dan menyakitkan, tapi ini pula yang menjadi sumber kekuatan kreativitasnya.

Hanya seorang jenius yang mampu mengartikulasikan dengan tepat kedalaman jiwa tersebut dalam karya-karya yang kemudian bisa dipahami banyak orang. Namun tetap saja, ada bagian kedalaman jiwanya yang tidak bisa dimengerti banyak orang.

Adapun pencapaian reputasi atau finansial seorang Michael hanya konsekuensi alamiah dari limpahan nilai tambah yang ia berikan buat kita lewat karya-karyanya. Itu pun masih tidak sebanding dengan pengorbanan yang ia berikan buat kita: kesepian abadi dalam jiwanya sendiri.

Michael memberi begitu banyak, tapi ia menerima begitu sedikit. Uang tidak melenyapkan penderitaannya.

Dan, sepertinya ia telah meramalkan akhir kehidupannya sendiri ketika melantunkan “Gone Too Soon”.


Like a comet
Blazing ‘cross the evening sky
Gone too soon

Like a rainbow
Fading in the twinkling of an eye
Gone too soon

Shiny and sparkly
And splendidly bright
Here one day
Gone one night


Like the loss of sunlight
On a cloudy afternoon
Gone too soon


Like a castle
Built upon a sandy beach
Gone too soon


Like a perfect flower
That is just beyond your reach
Gone too soon


Born to amuse,
to inspire, to delight
Here one day
Gone one night

Like a sunset
Dying with the rising of the moon
Gone too soon
Gone too soon

Selamat jalan, Michael, semoga Allah SWT memberimu ampunan dan kasih sayangNya. Aku mendoakanmu lepas dari benar atau tidaknya kabar bahwa engkau telah menjadi muslim.

Share on Facebook

Tulisan-tulisan terkait:

  1. biarkan kenyataan bicara [Translate] (baru saja menemukan kembali sebuah tulisan saya sendiri di milis – tertanggal 28 juli 2001, lumayan untuk jadi...
  2. Dalih-dalih Lemah [Translate] Dalih adalah kebohongan yang kita buat untuk menghindari berhadapan dengan kebenaran yang tak nyaman. Tetapi selama kita masih...
  3. Tidak Ada Kemuliaan Intrinsik Pada Konsep “Perjuangan” [Translate] Menanggapi status seseorang di Facebook, saya menulis ini: Tidak ada kemuliaan intrinsik pada konsep “perjuangan”. Alam tidak berjuang...
  4. Posting 100 Hari Bill Fitz Patrick’s “How Americans Get Rich”Mulai hari ini saya akan melakukan sebuah eksperimen (kecil) yang saya harapkan hasilnya menarik. Saya ingin melakukan posting secara teratur...
  5. Wordpress Stats | Menghidupkan Kembali Statistik Pengunjung Blog WordpressSeperti saya posting sebelumnya, saya mendapati bahwa trafik pengunjung ke situs saya, http://ferli.net, turun drastis menjadi 0 mulai sekitar November...
  6. Allah Rahman, Allah Rahim, Allahu ya Ghafar ya Nurul Qolbi [Translate] Lagu “Cahaya Hati” dari Opick ini belum pernah gagal membuat mata saya basah setiap kali mendengar “pekikan” kalimat...
  7. Kemalasan Adalah Penggerak Segala Kemajuan [Translate] Ada satu slogan unik yang masih terngiang-ngiang: “Lazyness drives all progress in the world“, alias “Kemalasan adalah penggerak...
  8. Menguji Law of Attraction dengan Metoda Ilmiah [Translate] Di Milis Profec (theprofec [at] yahoogroups.com, thread http://finance.groups.yahoo.com/group/TheProfec/message/23896), Pak Susanto Salim mengajukan saran untuk menguji secara ilmiah Law...
  9. Anda Tahu atau Pernah Mimpi Lusid? Cobain deh … [Translate] Saya gak tau persis apa padanan Bahasa Indonesia yang tepat dari “Lucid Dreaming“, so dengan semangat “kebebasan berekspresi...
  10. 13. Risk FailureBe ready. There is no better time to start taking posi tive action than right now. You research and you...

Comment Form

About this blog

Exploring the curiousity within.

Teman-teman Facebook

Sudah Menjadi Anggota?
Login
Login Lewat Facebook:
Pengunjung Terakhir
Mari bergabung di ferli.net

Kategori Tulisan

Arsip-arsip