the curiousity within
Jum’at pagi, 26 Juni 2009, sebelum berangkat ke kantor saya sempat membaca status teman-teman di Facebook, sebagian mengabarkan bahwa Michael Jackson dan Farrah Fawcett telah meninggal dunia.
Awalnya tidak ada perasaan khusus terhadap kabar ini, biasa saja. Tetapi lambat laun dalam perjalanan ke kantor, beberapa lagu Michael seperti berputar sendiri di benak saya. Satu lagu yang “keras kepala” berputar terus di benak adalah “She’s Out of My Life.”
She’s out of my life
She’s out of my life
I don’t know whether to laugh or cry
And I don’t know whether to live or die
And it cuts like a knife
She’s out of my life
It’s out of my hand
It’s out of my hand
To think for two years she was here
And I took her for granted, I was so cavalier
Now the way that it stands
She’s out of my hand
So I’ve learned that love is not possession
And I’ve learned that love won’t wait
Now I’ve learned that love needs expression
But I learned too late
And she’s out of my life
She’s out of my life
Damn indecision and cursed pride
I kept my love for her locked deep inside
And it cuts like a knife
She’s out of my life
Lagu yang menceritakan kepedihan dan penyesalan atas kehilangan seseorang yang kita cintai, tanpa kita sempat menyatakan cinta kita itu, terasa semakin merasuk. Tanpa terasa, mata saya basah.
Seperti sahabat sejati, lewat lagu-lagunya Michael pernah menangis, tertawa, atau marah “bersama” saya. Betapa shared moment itu terasa begitu berharga kini.
Ada bagian jiwa ikut pergi bersama Michael, selamanya terindukan.
Saya jadi sadar, betapa selama ini saya — dan mungkin banyak orang lain — telah membuat Michael taken for granted.
Padahal, seperti banyak seniman besar lain, Michael harus menanggung disonansi atau gap menganga yang besar antara kedalaman jiwanya dengan dunia di luar dirinya. Tekanan seperti ini amat berat dan menyakitkan, tapi ini pula yang menjadi sumber kekuatan kreativitasnya.
Hanya seorang jenius yang mampu mengartikulasikan dengan tepat kedalaman jiwa tersebut dalam karya-karya yang kemudian bisa dipahami banyak orang. Namun tetap saja, ada bagian kedalaman jiwanya yang tidak bisa dimengerti banyak orang.
Adapun pencapaian reputasi atau finansial seorang Michael hanya konsekuensi alamiah dari limpahan nilai tambah yang ia berikan buat kita lewat karya-karyanya. Itu pun masih tidak sebanding dengan pengorbanan yang ia berikan buat kita: kesepian abadi dalam jiwanya sendiri.
Michael memberi begitu banyak, tapi ia menerima begitu sedikit. Uang tidak melenyapkan penderitaannya.
Dan, sepertinya ia telah meramalkan akhir kehidupannya sendiri ketika melantunkan “Gone Too Soon”.
Like a comet
Blazing ‘cross the evening sky
Gone too soon
Like a rainbow
Fading in the twinkling of an eye
Gone too soon
Shiny and sparkly
And splendidly bright
Here one day
Gone one night
Like the loss of sunlight
On a cloudy afternoon
Gone too soon
Like a castle
Built upon a sandy beach
Gone too soon
Like a perfect flower
That is just beyond your reach
Gone too soon
Born to amuse,
to inspire, to delight
Here one day
Gone one night
Like a sunset
Dying with the rising of the moon
Gone too soon
Gone too soon
Selamat jalan, Michael, semoga Allah SWT memberimu ampunan dan kasih sayangNya. Aku mendoakanmu lepas dari benar atau tidaknya kabar bahwa engkau telah menjadi muslim.
Tulisan-tulisan terkait:
1 Response to Michael Jackson, Selamat Jalan
Nicole Ellis
May 3rd, 2010 at 7:35 pm
there is no doubt that Michael Jackson is the best ever pop music artist of the Centruy,”: