Menyesali Hari Esok

In: Hakikat| Niat| Opini| Umum

28 Mar 2009

Oleh Steve Pavlina, sumber asli: http://www.stevepavlina.com/blog/2006/03/regretting-tomorrow/

Terjemahan oleh Ferli Deni Iskandar

# Source Target
1 Regretting Tomorrow, March 31st, 2006 by Steve Pavlina Menyesali Hari Esok, 31 Maret, 2006 oleh Steve Pavlina
2 “I regret tomorrow more than yesterday” – from “Long Way Home” by ATB “Saya menyesali hari esok lebih daripada kemarin” – dari “Long Way Home” oleh ATB
3 The above is one of my favorite song lines. Do you ever regret the future before it has even happened? Di atas adalah salah satu lirik lagu favorit saya. Pernahkah Anda menyesali masa depan bahkan sebelum hal itu terjadi?
4 When you regret, fear, or worry about the future, you project your consciousness beyond the present moment. Essentially you become unconscious because you lose awareness of the present moment, and consequently, you lose awareness of the real you, which exists only in the present. The future is something of an illusion because you never actually exist there. Past and future are merely memories and projections. Your real experiences occur only in the present. Ketika Anda menyesali, takut, atau kuatir tentang masa depan, Anda memroyeksikan kesadaran Anda jauh di luar saat ini. Ini berarti Anda menjadi tidak sadar karena Anda kehilangan kesadaran tentang saat ini, dan konsekuensinya, Anda kehilangan kesadaran tentang diri sejati Anda, yang sesungguhnya ada hanya pada saat ini. Masa depan adalah suatu ilusi karena Anda tidak pernah ada di sana. Masa lalu dan masa depan hanyalah ingatan dan proyeksi. Pengalaman And sesungguhnya ada hanya pada saat ini.
5 When you live in the future, you experience suffering because to suffer is to be unconscious. When you can keep your full awareness in the present moment, there is no suffering, regardless of circumstances. Every moment feels perfect because you simply accept it. When you push your consciousness into the future, you resist the present moment, fighting what is and wishing it to be something else. The result is emotional pain. Ketika Anda hidup di masa depan, ketidaksadaran Anda membuat Anda menderita. Ketika Anda dapat mempertahankan kesadaran penuh Anda pada saat ini, tidak ada penderitaan, apa pun situasinya. Setiap saat terasa sempurna karena Anda mengikhlaskannya. Ketika Anda mendesak kesadaran Anda ke masa depan, Anda melawan kekinian, berkelahi dengan apa yang ada dan mengharapkan sesuatu yang lain. Hasilnya adalah derita emosional.
6 What about visualization or planning? Is it OK to imagine what you want to happen in the future? Visualization is fine, but there’s a way to visualize what you want without leaving the present moment. Instead of visualizing the future, visualize a new present moment. Feel the presence of what you wish to create in the here and now. Feel its energy in your reality right now, instead of projecting it beyond the present into the future. Bagaimana tentang visualisasi atau perencanaan? Apakah OK untuk membayangkan apa yang Anda inginkan terjadi di masa depan? Visualisasi boleh-boleh saja, tapi ada cara untuk memvisualisasikan keinginan Anda tanpa meninggalkan saat ini. Alih-alih memvisualisasikan masa depan, visualisasikanlah kekinian yang baru. Rasakanlah kehadiran apa yang Anda ingin ciptakan di sini sekarang. Rasakan energinya dalam realitas Anda saat ini, alih-alih memproyeksikannya ke masa depan.
7 For example, if you wish to create more wealth for yourself, imagine yourself enjoying more wealth and abundance in this very moment. Don’t project that enjoyment off into some distant future; otherwise you’re visualizing that the wealth and abundance will never come to you. This is a common mistake people make when visualizing — they inadvertently project the results they want to achieve into the future, which sends the message that this is a wish that will never be fulfilled. Sebagai contoh, Jika Anda ingin menciptakan lebih banyak kekayaan bagi diri Anda sendiri, bayangkan diri Anda menikmati kekayaan dan keberlimpahan dalam saat ini juga. Jangan proyeksikan kenikmatan itu ke sesuatu yang berada jauh di masa depan; jika tidak Anda memvisualisasikan bahwa kekayaan dan keberlimpahan itu tidak akan pernah datang pada Anda. Ini adalah kesalahan umum yang biasa dilakukan orang pada saat bervisualisasi — mereka ceroboh dengan memproyeksikan hasil yang mereka inginkan ke masa depan, yang mana ini mengirimkan pesan bahwa harapan ini tidak akan pernah terwujudkan.
8 The same is true of planning. When you make plans, realize that the purpose of planning is to focus your present-moment decisions. It is NOT to create a map of the future, which is outside of your control (and your consciousness) anyway. You need only do enough planning to achieve clarity in the present moment. When you have clarity, further planning is unnecessary. So when you create plans, do so with the intention of generating clarity in the here and now. Hal yang sama juga berlaku untuk perencanaan. Ketika Anda membuat rencana, sadarilah bahwa tujuan dari perencanaan adalah untuk memfokuskan keputusan-keputusan Anda saat ini. Perencanaan BUKAN untuk menciptakan peta masa depan, yang bagaimanapun juga berada di luar kendali (dan kesadaran) Anda. Anda hanya perlu melakukan perencanaan secukupnya untuk mencapai kejernihan saat ini. Ketika Anda memiliki kejernihan, perencanaan lebih jauh tidak diperlukan. Jadi ketika Anda membuat rencana, lakukan dengan niat untuk mendapatkan kejernihan di sini dan saat ini.
9 Living consciously requires keeping yourself centered in the present moment, which is actually the most secure, safe, protected place for you to be, free of regrets about past or future. Hidup berkesadaran mensyaratkan Anda untuk tetap berada di tengah-tengah saat ini, yang mana merupakan hal yang paling aman, selamat, tempat terlindungi bagi Anda, bebas dari penyesalan masa lalu atau pun masa depan.

Share on Facebook

Tulisan-tulisan terkait:

  1. Posting 100 Hari Bill Fitz Patrick’s “How Americans Get Rich”Mulai hari ini saya akan melakukan sebuah eksperimen (kecil) yang saya harapkan hasilnya menarik. Saya ingin melakukan posting secara teratur...
  2. Melankoli Menjelang Pergantian Hari – Puisi [Translate] Lagi sendirian di depan komputer, suasana sepi, sejak sore cuaca mendung, menjelang pergantian hari, jadinya agak melankolik dan...
  3. Waktu: Satu Ketika yang Abadi [Translate] Ketika kita berpikir atau mengingat tentang masa lalu, yakinkah kita bahwa masa lalu itu ada dan riil? Ingatan...
  4. “The Power of Now” — Kekuatan Saat Ini [Translate] The post is my translation from Steve Pavlina’s “The Power of Now”: # Source Target 1 The Power...
  5. Rahasia Keberlimpahan dan Kekayaan [Translate] Perbedaan antara yang kaya dan yang miskin tidak terletak pada jumlah uang yang mereka miliki, tapi pada cara...
  6. Allah Rahman, Allah Rahim, Allahu ya Ghafar ya Nurul Qolbi [Translate] Lagu “Cahaya Hati” dari Opick ini belum pernah gagal membuat mata saya basah setiap kali mendengar “pekikan” kalimat...
  7. biarkan kenyataan bicara [Translate] (baru saja menemukan kembali sebuah tulisan saya sendiri di milis – tertanggal 28 juli 2001, lumayan untuk jadi...
  8. Dalih-dalih Lemah [Translate] Dalih adalah kebohongan yang kita buat untuk menghindari berhadapan dengan kebenaran yang tak nyaman. Tetapi selama kita masih...
  9. Anda Tahu atau Pernah Mimpi Lusid? Cobain deh … [Translate] Saya gak tau persis apa padanan Bahasa Indonesia yang tepat dari “Lucid Dreaming“, so dengan semangat “kebebasan berekspresi...
  10. Kau Pikir Siapakah Diriku? [Translate] Aku bukanlah namaku. Aku bukanlah jabatanku. Aku bukanlah statusku. Aku bukanlah pendidikanku. Aku bukanlah hartabendaku. Aku bukanlah keberhasilanku....

Comment Form

About this blog

Exploring the curiousity within.

Teman-teman Facebook

Sudah Menjadi Anggota?
Login
Login Lewat Facebook:
Pengunjung Terakhir
Mari bergabung di ferli.net

Kategori Tulisan

Arsip-arsip