the curiousity within
Mengutukmu
Sajak Ferli Deni Iskandar
Kecuali engkau pernah dicekam kesedihan seperti para ibu Palestina menyaksikan pahlawan-pahlawan cilik mereka terburai otaknya hanya karena kesalahan melempar batu
Kecuali engkau pernah dicekam kengerian seperti kerabat korban tragedi New York yang menyaksikan kekasih, orangtua, adik, kakak mereka terbakar tanpa sisa atau melompat dari ketinggian ratusan meter untuk luluh lantak tanpa mengerti apa salah mereka
Kecuali engkau pernah dicekam kebingungan dan ketakutan seperti penduduk Afghanistan atas hujan ledakan di halaman rumah mereka karena tuduhan ikut mendukung seseorang yang mereka sendiri belum pernah bertemu
Maka kukutuk engkau
Kukutuk engkau!
Kukutuk engkau atas keenggananmu memahami bahwa tak pernah kekerasan benar-benar memecahkan masalah
Kukutuk engkau atas kesombonganmu memasang tembok emosional di atas penderitaan saudaramu sendiri
Kukutuk engkau atas kemunafikan pemihakan beraroma dendam pada salah satu pihak sementara engkau masih merasa menjadi manusia beradab
Atas kesalahanmu itu, kukutuk engkau untuk menyaksikan saudaramu hancur lebur oleh hujan besi panas dari langit, untuk melihat tanah kecintaanmu ditanami benih-benih kehancuran, untuk merasakan sakitnya menyaksikan semakin lenyapnya harapan perbaikan diri dan bangsamu, karena harus menanggung kesalahan yang kau sendiri tak mengerti
Atas kebodohanmu itu, kukutuk engkau untuk merasakan kejayaan hidup yang kau bangun sepanjang hidupmu seketika ambruk bersama masa depanmu, untuk merasakan sesaknya hidup dalam reruntuhan itu dan perlahan mati dengan mengenaskan, untuk kehilangan mereka yang engkau cintai dengan cara yang paling getir dan dramatis lebih dari jangkauan imajinasimu sendiri
Atas kekejamanmu itu, kukutuk engkau untuk juga merasakan malam-malam panjang ayah dan ibu dari mayat anak-anak Palestina yang penuh ratapan kemarahan dan kesedihan, untuk merasakan putus asa kehilangan satu demi satu mata hatimu, untuk menjadi kenangan abadimu pakaian berlumuran darah belahan jiwamu
Semoga kutukanku tak dikabulkan
(Kuta, 9 Oktober 2001)
Tulisan-tulisan terkait: