Mengalahkan Kebatilan Tertinggi

Dan ternyata, aku harus menghadapi Kebatilan-1. Aku terserang panik. Bagaimana mungkin aku menjadi Kebaikan yang terakhir bertahan? Aku kan hanya ranking terakhir dari 10 orang Kebaikan? Pastinya 9 orang di depanku lebih sakti daripadaku, tapi mengapa mereka gagal? Apapun, si Kebatilan-1 ini pasti luarbiasa hebat. Bagaimana mungkin aku mengalahkannya?

Aku begitu ketakutan untuk menghadapinya. Aku mulai sembunyi. Aku sendirian di taman bersama Si Kebatilan. Kuperhatikan pedang cahayaku dan bertanya-tanya apakah ia cukup sakti? Aku mulai merasakan takut sampai-sampai berpikir untuk membunuh diriku sendiri. Tetapi aku ingin tahu juga seperti apakah Si Kebatilan ini.

Aku melenyapkan diri dari pandangan dan berdiri di belakang patung mencoba meredakan kepanikan. Akhirnya aku melihatnya. Aura kegelapan mendahului kedatangannya. Ke manapun ia bergerak, kegelapan memenuhi taman. Ada kesadaran mengerikan tentangnya yang sukar dijelaskan. Ia punya aura karismatik yang membuatku ingin membungkuk di hadapannya, begitu kuatnya energi perintahnya. Aku bisa merasakannya mencariku dengan pikirannya. Tidak terlalu lama.

Kebatilan:  Aku melihatmu.
Aku:  (menelan ludah)
Kebatilan:  Datanglah padaku.

Pengendalian pikiran! Wuah! Hebat sekali. Susah melawannya. Kupanggil setiap pelindungku. Aku sukar bernafas. Perlahan aku bangkit (tak yakin karena kemauanku sendiri). Ketika menghadapnya ia hanya merupakan kegelapan. Ia memliki bentuk, tapi tidak ada cahaya sama sekali dalam dirinya. Hanya bayangan. Menatapnya terasa seperti menatap jurang tak berdasar. Aku mulai gemetar. Ketakutan begitu menguasaiku.

Ia menertawakanku.

Kebatilan:  Nomor 10 hah?  Mengesankan. Yakinkah engkau bisa bertarung dan menang? Menyerahlah sekarang.

Aku amati dia tidak memegang senjata. Menarik. Mengapa ia tidak memegang senjata? Apakah karena ia begitu angkuh dengan kekuatan pengendalian pikirannya? Aku memiliki pedang cahaya dan tak pernah gagal. Secercah harapan muncul dalam pikiran. Mungkin aku punya kesempatan.

Aku menerjangnya tapi ia menghindar dengan mudah. Sepertinya ia membaca pikiranku. Aku tak punya pertahanan untuk itu. Ia menyentuh kulitku dan aku berubah kedinginan. Aku bisa merasakan kebatilan merambati kulit. Aku coba melontarkan mantera padanya; ia mementahkannya dengan mudah. Aku bisa merasakannya mengerubungi pikiranku. Ia tahu semua rahasiaku, pikiran-pikiranku, niatan-niatanku. Aku tahu tidak ada trik yang akan berhasil.

Ia mulai berjalan perlahan mendekatiku. Aku mencoba terbang tapi ia menahanku dengan kekuatannya. Ketika ia makin dekat aku merasa hampir pingsan. Aku tak memiliki senjata! Ia mendekat dan merengkuhku. Aku bisa merasakan diriku jatuh ke dalam jurang tak berdasar Kebatilan itu. Kata-kata tak mampu menjelaskan perasaanku. Ketakutan sempurna menguasaiku. Bagaimana mungkin Kebatilan ini bisa dikalahkan, aku bertanya. Bagaimana? Dan jawaban itu pun datang. Kasih. Aku tahu Kasih dapat mengalahkan Ketakutan. Selama ini aku pikir pedang cahayaku adalah wakil kebaikan, tapi kusadari bahwa Kebaikan tidak cukup mengalahkan Kebatilan. Hanya Kasih yang mungkin bisa. Tetapi bagaimana mungkin merasakan cinta ketika yang terasa hanyalah ketakutan?

Kukerahkan kasih dalam diriku. Aku terhubung kepada Kasih, ke dalam Muasal, dan merasakan kasih memenuhiku jiwaku, mendorong pergi rasa takut. Kurasakan ketakutanku bergeser, kecil di hadapan Kasih dan Iman. Setelah beberapa saat, kurasakan tubuhku berdenyut Cahaya. Kurasakan aman yang begitu lengkap dan total dalam pengertiannya yang tertinggi. Kebatilan menjauhiku, tapi ia mempertahankan posisinya. Ia mencoba melontarkan rasa takut kembali padaku tapi mental dihadang Kasih. Kami berdiri saja beberapa saat. Aku tahu ia takkan bisa melukaiku. Aku tahu ia tidak akan mampu membuatku ketakutan lagi. Aku tahu aku aman. Tetapi bagaimana mengalahkannya? Aku tidak ingin hanya seri.

“Rahmat buatmu,” aku berkata. Ia terpental. “Tuhan merahmatimu, Kebatilan.” Ia tersandung dan sepertinya kesakitan. “Kuberikan kau Kasih. Tanpa syarat. Kuberikan kau Kasih.” Kujulurkan tanganku dan membiarkan kasih mengalir dari tubuhku kepadanya. Begitu mudah, begitu melimpah. Kurasakan ketakterbatasan itu sendiri bergetar dalam tubuhku dengan kasih. Aku hanya memancarkan Kasih dan Suka Cita. Setelah beberapa saat, Kebatilan pergi. Aku tak tahu ia ke mana. Tetapi ia telah pergi.

adaptasi dari: http://www.erinpavlina.com/blog/2007/02/fighting-supreme-evil/