Lagi sendirian di depan komputer, suasana sepi, sejak sore cuaca mendung, menjelang pergantian hari, jadinya agak melankolik dan teringat satu puisi yang pernah saya tulis berabad-abad lalu:
Ufuk
pada pagi cahaya timur
kuserahkan tangis diam
berharap ini bukan ilusi
ketika sakit, sakit, dan sakit
telah mengekal keraknya
di dasar tak tampak
hingga buta, hingga retak
(Kuta, on a date I couldn’t remember)
Don’t we all carry some emotional scars in our life?
Tulisan-tulisan terkait:
- Pecah – PuisiPecah bila batuku bertemu gelapmu kenangan cuma cacah harapan tinggal resah maka mari! kita nikmati pilinan ini biar tarikan dan...
- Jika Kau Tunggu Aku – PuisiJika Kau Tunggu Aku – diadaptasi oleh ferli.net dari “Will You Wait For Me – Kavana” akan kau jelaskankah mengapa...
- Menyesali Hari EsokPenulis menjelaskan cara visualisasi yang benar, yaitu dengan membayangkan keinginan Anda terjadi di saat ini, alih-alih di masa depan....
- Puisi Cinta Nan Santun Buat SBY(1) tuan presiden indonesia cinta kami puluhan juta padamu kami titip asa engkau cerdas dan simpatik jutaan pula kami tertarik...
- Mengutukmu – PuisiMengutukmu Sajak Ferli Deni Iskandar Kecuali engkau pernah dicekam kesedihan seperti para ibu Palestina menyaksikan pahlawan-pahlawan cilik mereka terburai otaknya...
- Bakung Kuning – PuisiBakung Kuning kelabu pagi, segalanya kelabu begitu dingin ini musim semi semu angin timur suram di tanah menyapu segalanya sendu...
- Posting 100 Hari Bill Fitz Patrick’s “How Americans Get Rich”Mulai hari ini saya akan melakukan sebuah eksperimen (kecil) yang saya harapkan hasilnya menarik. Saya ingin melakukan posting secara teratur...
- Puisi Sedih (Untuk Indonesia)tiba-tiba saja menyergap kemurungan itu di tengah musik, di tengah keriangan di sebuah ruangan dengan banyak makanan tiba-tiba saja mendekap...
- Engkau Berasal dari CintaEngkau berasal dari Cinta, tapi engkau lupa. Ketahuilah: tak ada yang perlu engkau lakukan supaya layak Cinta. Engkau hanya perlu...