Komunikasi Politik SBY: Tinggalkan Verbalisme

In: Politik|Puisi|Umum

30 Jan 2011

Seandainya SBY bilang “Sudah 7 tahun gaji saya tidak naik” pada tahun 2004, reaksi masyarakat akan sangat berbeda dibandingkan yang terjadi belakangan ini. Tahun 2004 itu, saya bayangkan, banyak orang akan sangat bersimpati padanya dan menaruh hormat atas pengorbanan yang ia lakukan.

Tetapi lihatlah reaksi untuk ucapan itu di tahun 2011 ini: bertolak belakang bukan? Mengapa ucapan yang sama, oleh orang yang sama, mendapat reaksi yang sangat berbeda, bahkan mungkin bertolak-belakang?

Konteks. Itulah jawabannya.

Tiliklah bahwa komunikasi terdiri dari sekitar 30% verbal (kata-kata, tutur mau pun tulisan), dan sekitar 70% non-verbal (gestur, postur, ekspresi wajah, kontak mata, emosi, gaya, tekanan, dll).

Dalam kasus pejabat publik, saya percaya prosentasi komunikasi verbal lebih kecil lagi, kemungkinan sekitar 5%, karena sebagian besar porsi komunikasi pejabat publik, bagian yang lebih keras “berteriak”, adalah rekam-jejak tindakan, keputusan, kebiasaan, prestasi, dlsb.

Actions speak louder than words.

Konteks komunikasi pejabat publik didominasi oleh rekam-jejaknya. Atau meminjam peristilahan Stephen Covey dalam 7 Habits of Highly Effective People, adalah emotional bank-account (saya terjemahkan bebas sebagai “piutang emosional”) yang dimiliki oleh seseorang terhadap orang lain: seberapa besar tindakan dan keputusan pejabat tsb. memperbesar piutang emosional pejabat tsb. dari para pemilihnya; dalam kasus SBY: piutang emosional SBY dari rakyatnya.

Kalau piutang emosional itu positif, tindakan dan ucapan SBY akan ditanggapi positif. Kalau negatif, tindakan dan ucapan SBY, betapa pun diupayakan atau diniatkan untuk bercitra baik, akan selalu mendapat tanggapan negatif.

Nah, dalam kasus ucapan SBY tentang gajinya, lepas dari apa pun niatan dan motivasi sesaat dalam pengucapan pesan itu, masyarakat melihatnya dalam konteks yang lebih luas, dan karena konteks yang dilihat oleh sebagian besar masyarakat adalah bahwa SBY gagal dalam menjalankan amanah kepresidenannya, karena piutang emosional SBY nol, atau bahkan negatif, maka adalah sebuah keniscayaan, sebuah hukum alam, bahwa masyarakat luas menanggapinya dengan sinisme dan sikap-sikap negatif lain.

Kalau demikian, kita harus bagaimana?

Saya percaya, rakyat kita sebagian besar menyimpan kesabaran dan keteguhan yang luar biasa. Kita mencintai para pemegang amanah kita. Hanya dalam kondisi di mana para pemegang amanah itu sudah “melampaui batas” (silakan beri definisi masing2 untuk ini) maka cinta kita berubah menjadi benci dan dendam.

SBY, dengan segala kekeliruannya saat ini, tidak perlu kita benci, tidak perlu kita turunkan dari kekuasaannya. Kita hanya perlu menginsyafkannya.

Saya pemilih SBY di 2009 lalu. Saya menyesalinya saat ini. Tapi saya masih menyimpan harapan buat SBY.

Saya berharap SBY memulai perubahan secara radikal dalam sikap dan tindakannya. Harapan saya adalah sebagai berikut:

  1. Hentikan verbalisme. Jangan lagi banyak bicara. Berikan saja bukti bahwa janji-janji semasa kampanye telah dipenuhi. Jangan beralasan, jangan bilang bahwa ketidakterpenuhan janji adalah suatu hal lumrah.
  2. Perlihatkan pemihakan. Dalam hal ini, kembali, jangan juga sebatas verbalisme. Buktikan bahwa rakyat Indonesia lebih penting daripada keinginan pemerintahan Obama. Buktikan dalam suatu kesempatan bahwa kita tidak tunduk pada kepentingan sepihak pemerintahan Obama. Tunjukkan bahwa kita mandiri.
  3. Rakyat ingin sejahtera, maka berikan itu secara kongkrit: kendalikan harga-harga supaya tetap terjangkau.

Itu saja.

Ingat SBY, dan Anda para penasihat atau tim yang bekerja untuk SBY, bahwa verbalisme Anda hanya berkontribusi kurang dari 5% atas citra yang terbentuk. Masyarakat sudah semakin cerdas. Camkan itu.

Insyaflah. Kalau tidak …

Tulisan-tulisan terkait:

  1. Engkau Berasal dari CintaEngkau berasal dari Cinta, tapi engkau lupa. Ketahuilah: tak ada yang perlu engkau lakukan supaya layak Cinta. Engkau hanya perlu...
  2. Tidak Ada Kemuliaan Intrinsik Pada Konsep “Perjuangan”Menanggapi status seseorang di Facebook, saya menulis ini: Tidak ada kemuliaan intrinsik pada konsep “perjuangan”. Alam tidak berjuang utk eksis....
  3. Dalih-dalih LemahDalih adalah kebohongan yang kita buat untuk menghindari berhadapan dengan kebenaran yang tak nyaman. Tetapi selama kita masih mempercayai dalih-dalih...
  4. Syair Penjual KacangPulang Jumatan, saya bertemu seorang Guru. Dia berjualan rujak buah. Menyiapkan produknya sambil memuji kecantikan warna merah buah jeruk bali....
  5. Bagaimana “Menghidupkan” Kembali Modem 3G Telkomsel Flash Huawei E220Beberapa bulan lamanya saya mengalami masalah dengan penggunaan modem 3G Telkomsel Flash yang bermerk Huawei model E220. Masalahnya, di komputer...
  6. biarkan kenyataan bicara(baru saja menemukan kembali sebuah tulisan saya sendiri di milis – tertanggal 28 juli 2001, lumayan untuk jadi kenang-kenangan) gini....
  7. Menguji Law of Attraction dengan Metoda IlmiahDi Milis Profec (theprofec [at] yahoogroups.com, thread http://finance.groups.yahoo.com/group/TheProfec/message/23896), Pak Susanto Salim mengajukan saran untuk menguji secara ilmiah Law of Attraction...
  8. Anda Tahu atau Pernah Mimpi Lusid? Cobain deh …Saya gak tau persis apa padanan Bahasa Indonesia yang tepat dari “Lucid Dreaming“, so dengan semangat “kebebasan berekspresi dan mengasimilasi...
  9. WordPress Stats | Menghidupkan Kembali Statistik Pengunjung Blog WordPressSeperti saya posting sebelumnya, saya mendapati bahwa trafik pengunjung ke situs saya, http://ferli.net, turun drastis menjadi 0 mulai sekitar November...
  10. Kemalasan Adalah Penggerak Segala KemajuanAda satu slogan unik yang masih terngiang-ngiang: “Lazyness drives all progress in the world“, alias “Kemalasan adalah penggerak segala kemajuan...

Comments are closed.

About this blog

Exploring the curiousity within.

Dapatkan Tulisan dan Perangkat Lunak Terbaru

Isilah form di bawah untuk berlangganan blog ini dan saya akan mengabari Anda setiap kali ada tulisan atau perangkat lunak gratis baru, seperti Glosarium dan Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Zero spam tolerance.

Teman-teman Facebook

Sudah Menjadi Anggota?
Login
Login Lewat Facebook:
Pengunjung Terakhir
Mari bergabung di ferli.net

Kategori Tulisan

Arsip-arsip