FITRI

In: Hakikat| Islam

20 Sep 2009

Karena perdebatan mengenai “golongan kafir” tak juga berkesudahan melalui waktu yang panjang, maka kelompok Remaja Masjid itu akhirnya mengundang seorang Mu’allim yang diharapkan bisa menawarkan kesejukan dan membawa mereka ke jalan yang lempang.

“Perdebatan kami ya Mu’allim,” kata salah seorang, “telah mengundang kesalahpahaman yang tak enak di hati, dan sungguh kami khawatir akan terpeleset kepada kemungkinan untuk saling membenci. Padahal kebencian tak lain salah satu aroma busuk yang memuncrat dari mulut orang-orang yang disebut golongan kafir.”

“Golongan kafir itu tak ada,” sang Mu’allim menyambut,”sepanjang seseorang belum dengan sengaja membunuh dirinya sendiri.”

Keadaan menjadi semakin gelisah oleh pernyataan itu, namun anak-anak muda itu masih diam saja dan mendengarkan dengan seksama.

“Orang yang bunuh diri tak lagi punya kesempatan untuk berkhusnul-khatimah. Kekufuran bunuh diri yang dilakukannya merupakan mahkota kehidupan yang tak bisa ditangggalkannnya kembali.”

“Itu tidak menjelaskan persoalan ya Mua’llim,” sahut seorang anggota.

Mua’llim kita tersenyum, “Kalian punya kebiasaan untuk memperoleh hasil dari penghayatan bertahun-tahun hanya melalui informasi beberapa kalimat.”

“Kami bukan meminta hasil,” jawab seorang lainnya, “melainkan ingin diantarkan ke pintu gerbang kebenaran.”

“Di dalam perdebatan kalian, siapa yang dimaksud golongan kafir itu gerangan?” tanya Mu’allim.

“Mereka yang tak memeluk Islam,” jawab seseorang.
“Mereka yang mengingkari Allah,” jawab lainnya.
“Orang yang tak mengindahkan nilai-nilai Islam,” kata lainnya lagi kemudian disusul bersahut-sahutan.
“Para penindas!”
“Para penzina!”
“Koruptor!”
“Pendusta! Maling!”

“Baiklah, baiklah,” sang Mu’allim memotong, “kita bisa menyebut ribuan lagi contohnya. Apakah orang-orang yang kalian sebut itu makan dan minum dalam hidupnya?”

“Tentu saja!”

“Apakah mereka pada umumnya suka mandi dan menjaga kebersihan?”

“Ya.”

“Apakah mereka mencintai anak istrinya dan tidur beristirahat di waktu malam?”

“Kira-kira begitu.”

“Kalau begitu mereka bukan golongan orang kafir. Mereka hanya manusia yang pada bidang-bidang tertentu melakukan kekufuran.”

“Apa bedanya ya Mu’allim?” seseorang bertanya.
“Orang yang melakukan kekufuran dinamakan kafir!” sambung lainnya.

“Kafir adalah manusia yang total kepribadian dan perilakunya ingkar kepada nilai Allah. Siapa di muka bumi ini yang sanggup memperbuat demikian? Seorang maling bukanlah maling ketika ia buang air besar atau mengirup teh. Kita tidak bisa membungkus seluruh diri seseorang dengan gelar maling hanya karena di sebagian waktunya ia melakukan pencurian, kecuali kita bermaksud menghancurkan kehidupan orang itu — dan penghancuran adalah kufur. Kita tidak bisa menyebut kata kafir untuk keseluruhan diri seseorang hanya karena ia melakukan perbuatan kufur di bidang tertentu. Tak mungkin seseorang menjadi kafir total kecuali ia membunuh dirinya sendiri. Kata kafir dalam Al Qur’an selalu menuju ke suatu konteks. Tetap Abu Jahl adalah manusia yang setia makan minum demi memelihara tubuh dan kesehatannya yang merupakan amanat Allah: dalam soal itu ia bukanlah kafir. Seorang koruptor yang mencintai sanak familinya, tak bisa kita anggap cintanya itu pun salah satu bentuk kekufuran. Kalau engkau mendengar suara mengaji dan tangis seorang pelacur di larut malam, tak bisa engkau sebut bahwa mengaji dan menangis itu dosa kekufuran.”

Seseorang memotong,” Itu semua sekedar persoalan istilah, ya Mu’allim.”

“Demi Allah, lebih dari itu, anakku,” jawab Mu’allim kita,” kalau seseorang yang kau sebut kafir itu tidak menikamkan pisau ke jantungnya, sehingga jantung itu tetap leluasa mengerjakan sunnatullah, maka orang itu belumlah kafir total. Manusia adalah makhluk Allah, demikian juga jantung, mengalirnya darah, terpeliharanya tulang dan daging, adalah juga makhluk Allah. Tidak berkufurkah kita kalau tak menghormati makhluk-makhluk suci itu? Manusia terlahir fitri, dan senantiasa diajari untuk kembali fitri. Tak ada air kotor, yang ada adalah air ditambah kotoran. Kotoran itu bisa dipisahkan kembali dari air. Demikian juga manusia dengan kekufuran.”

“Ada yang tak mungkin dipisahkan lagi, ya Mu’allim!”

“Itu soal metode, anakku,” jawab sang Mu’allim,” ada cara penyembuhan secara akal sehat, ada cara yang mengguncangkan, ada cara ruhaniah, serta ada suatu keadaan yang sungguh-sungguh di luar kemampuan dakwah manusia sehingga memerlukan hidayah langsung dari Allah. Apa yang ingin kukemukakan adalah bahwa orang-orang yang kalian sebut golongan kafir itulah nomor pertama yang harus ditangani oleh niat syi’ar Islam kalian. Padahal kalian selalu menjauhi mereka seperti seorang putri kerajaan menjauhi anjing gila atau tikus selokan. Yang kita perlukan untuk itu, anak-anakku, ialah kejernihan akal, kejujuran hati, dan jiwa tawadlu.”

Diambil dari buku: Seribu Masjid Satu Jumlahnya
Tahajud Cinta Seorang Hamba
Karangan : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Mizan, cetakan ke IX, Mei 1997
Tulisan tersebut di atas ada di halaman 145 sampai halaman 148.

Share on Facebook

Tulisan-tulisan terkait:

  1. Ayat Kursi [Translate] Khotib Jumatan hari ini membacakan Ayat Kursi pada rakaat pertama. Berhubung saya terkadang tidak hafal bacaan ayat yang...
  2. Tidak Ada Kemuliaan Intrinsik Pada Konsep “Perjuangan” [Translate] Menanggapi status seseorang di Facebook, saya menulis ini: Tidak ada kemuliaan intrinsik pada konsep “perjuangan”. Alam tidak berjuang...
  3. Allah Rahman, Allah Rahim, Allahu ya Ghafar ya Nurul Qolbi [Translate] Lagu “Cahaya Hati” dari Opick ini belum pernah gagal membuat mata saya basah setiap kali mendengar “pekikan” kalimat...
  4. Waktu: Satu Ketika yang Abadi [Translate] Ketika kita berpikir atau mengingat tentang masa lalu, yakinkah kita bahwa masa lalu itu ada dan riil? Ingatan...
  5. Rahasia Keberlimpahan dan Kekayaan [Translate] Perbedaan antara yang kaya dan yang miskin tidak terletak pada jumlah uang yang mereka miliki, tapi pada cara...
  6. biarkan kenyataan bicara [Translate] (baru saja menemukan kembali sebuah tulisan saya sendiri di milis – tertanggal 28 juli 2001, lumayan untuk jadi...
  7. Penjelasan (Tak Terlalu) Ilmiah tentang Law of Attraction [Translate] Apakah ada sesuatu yang bisa kita pelajari dari kontroversi ilmiah (atau tak imiah) tentang Law of Attraction? LoA...
  8. Mengutukmu – Puisi [Translate] Mengutukmu Sajak Ferli Deni Iskandar Kecuali engkau pernah dicekam kesedihan seperti para ibu Palestina menyaksikan pahlawan-pahlawan cilik mereka...
  9. Menguji Law of Attraction dengan Metoda Ilmiah [Translate] Di Milis Profec (theprofec [at] yahoogroups.com, thread http://finance.groups.yahoo.com/group/TheProfec/message/23896), Pak Susanto Salim mengajukan saran untuk menguji secara ilmiah Law...
  10. Dalih-dalih Lemah [Translate] Dalih adalah kebohongan yang kita buat untuk menghindari berhadapan dengan kebenaran yang tak nyaman. Tetapi selama kita masih...

Comment Form

About this blog

Exploring the curiousity within.

Teman-teman Facebook

Sudah Menjadi Anggota?
Login
Login Lewat Facebook:
Pengunjung Terakhir
Mari bergabung di ferli.net

Kategori Tulisan

Arsip-arsip