<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ferli.net &#187; Islam</title>
	<atom:link href="http://ferli.net/category/islam/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ferli.net</link>
	<description>the curiousity within</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Jan 2012 09:41:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Syair Penjual Kacang</title>
		<link>http://ferli.net/syair-penjual-kacang</link>
		<comments>http://ferli.net/syair-penjual-kacang#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Apr 2010 06:28:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ferli Deni Iskandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hakikat]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Niat]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Emha Ainun Nadjib]]></category>
		<category><![CDATA[Penjual Kacang]]></category>
		<category><![CDATA[Syair]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ferli.net/?p=645</guid>
		<description><![CDATA[Pulang Jumatan, saya bertemu seorang Guru. Dia berjualan rujak buah. Menyiapkan produknya sambil memuji kecantikan warna merah buah jeruk bali. Obrol-obrol, ternyata dia seorang sarjana agama, berjualan rujak buah sejak lulus kuliah 25-an tahun lalu. Terkadang mengajar lepas. Anaknya ada 10, 2 orang sedang kuliah. "Cukup Pak?", tanya saya. "Alhamdulillah", katanya. Dia memilih tidak tergantung pada siapa pun. Saya ingin belajar darinya.

Hal di atas mengingatkan saya pada tulisan Emha berikut:

<strong>Syair Penjual Kacang</strong>

Al-Habib, seorang yang dikasihi oleh banyak orang dan senantiasa didambakan kemuliaan hatinya, malam itu mengimami shalat Isya' suatu jamaah yang terdiri dari para pejabat negara dan pemuka masyarakat.

Berbeda dengan adatnya, sesudah tahiyyat akhir diakhiri dengan salam, Al-Habib langsung membalikkan tubuhnya, menghadapkan wajahnya kepada para jamaah dan menyorotkan matanya tajam-tajam.

”Salah satu dari kalian keluarlah sejenak dari ruangan ini,” katanya, ”Di halaman depan sedang berdiri seorang penjual kacang godok. Keluarkan sebagian dari uang kalian, belilah barang beberapa bungkus.”

Beberapa orang langsung berdiri dan berlari keluar, dan kembali ke ruangan beberapa saat kemudian.

”Makanlah kalian semua,” lanjut Al-Habib, ”Makanlah biji-biji kacang itu, yang diciptakan oleh Allah dengan kemuliaan, yang dijual oleh kemuliaan, dan dibeli oleh kemuliaan.”

Para jamaah tak begitu memahami kata-kata Al-Habib, sehingga sambil menguliti dan memakan kacang, wajah mereka tampak kosong.

”Setiap penerimaan dan pengeluaran uang,” kata Al-Habib, ”hendaklah dipertimbangkan berdasarkan nilai kemuliaan. Bagaimana mencari uang, bagaimana sifat proses datangnya uang ke saku kalian, untuk apa dan kepada siapa uang itu dibelanjakan atau diberikan, akan menjadi ibadah yang tinggi derajatnya apabila diberangkatkan dari perhitungan untuk memperoleh kemuliaan.”

”Tetapi ya Habib,” seseorang bertanya, ”apa hubungannya antara kita beli kacang malam ini dengan kemuliaan?”

Al-Habib menjawab, ”Penjual kacang itu bekerja sampai nanti larut malam atau bahkan sampai menjelang pagi. Ia menyusuri jalanan, menembus gang-gang kota dan kampung-kampung. Di malam hari pada umumnya orang tidur, tetapi penjual kacang itu amat yakin bahwa Allah membagi rejeki bahkan kepada seekor nyamuk pun. Itu taqwa namanya. Berbeda dari sebagian kalian yang sering tak yakin akan kemurahan Allah, sehingga cemas dan untuk menghilangkan kecemasan dalam hidupnya ia lantas melakukan korupsi, menjilat atasan serta bersedia melakukan dosa apa pun saja asal mendatangkan uang.”

Suasana menjadi hening. Para jamaah menundukkan kepala dalam-dalam. Dan Al-Habib meneruskan, ”Istri dan anak penjual kacang itu menunggu di rumah, menunggu dua atau tiga rupiah hasil kerja semalaman. Mereka ikhlas dalam keadaan itu. Penjual kacang itu tidak mencuri atau memperoleh uang secara jalan pintas lainnya. Kalau ia punya situasi mental pencuri, tidaklah ia akan tahan berjam-jam berjualan.”

”Punyakah kalian ketahanan mental setinggi itu?” Al-Habib bertanya, ”Lebih muliakah kalian dibanding penjual kacang itu, atau ia lebih mulia dari kalian? Lebih rendahkah derajat penjual kacang itu dibandingkan kalian, atau di mata Allah ia lebih tinggi maqam-nya dari kalian? Kalau demikian, kenapa di hati kalian selalu ada perasaan dan anggapan bahwa seorang penjual kacang adalah orang rendah dan orang kecil?”

Dan ketika akhirnya Al-Habib mengatakan, ”Mahamulia Allah yang menciptakan kacang, sangat mulia si penjual itu dalam pekerjaannya, serta mulia pulalah kalian yang membeli kacang berdasar makrifat terhadap kemuliaan …” – salah seorang berteriak, melompat dan memeluk tubuh Al-Habib erat-erat.

1987
Emha Ainun Nadjib - Seribu Masjid Satu Jumlahnya (Mizan, 1990).
Tulisan-tulisan terkait:<ol>
<li><a href='http://ferli.net/fitri' rel='bookmark' title='FITRI'>FITRI</a> <small>Karena perdebatan mengenai &#8220;golongan kafir&#8221; tak juga berkesudahan melalui waktu yang panjang, maka kelompok Remaja Masjid itu akhirnya mengundang seorang...</small></li>
<li><a href='http://ferli.net/allah-rahman-allah-rahim-allahu-ya-ghafar-ya-nurul-qolbi' rel='bookmark' title='Allah Rahman, Allah Rahim, Allahu ya Ghafar ya Nurul Qolbi'>Allah Rahman, Allah Rahim, Allahu ya Ghafar ya Nurul Qolbi</a> <small>Lagu &#8220;Cahaya Hati&#8221; dari Opick ini belum pernah gagal membuat mata saya basah setiap kali mendengar &#8220;pekikan&#8221; kalimat ini: Allah...</small></li>
<li><a href='http://ferli.net/rahasia-keberlimpahan-dan-kekayaan' rel='bookmark' title='Rahasia Keberlimpahan dan Kekayaan'>Rahasia Keberlimpahan dan Kekayaan</a> <small>Perbedaan antara yang kaya dan yang miskin tidak terletak pada jumlah uang yang mereka miliki, tapi pada cara mereka berpikir,...</small></li>
<li><a href='http://ferli.net/tidak-ada-kemuliaan-intrinsik-pada-konsep-perjuangan' rel='bookmark' title='Tidak Ada Kemuliaan Intrinsik Pada Konsep &#8220;Perjuangan&#8221;'>Tidak Ada Kemuliaan Intrinsik Pada Konsep &#8220;Perjuangan&#8221;</a> <small>Menanggapi status seseorang di Facebook, saya menulis ini: Tidak ada kemuliaan intrinsik pada konsep &#8220;perjuangan&#8221;. Alam tidak berjuang utk eksis....</small></li>
<li><a href='http://ferli.net/engkau-berasal-dari-cinta' rel='bookmark' title='Engkau Berasal dari Cinta'>Engkau Berasal dari Cinta</a> <small>Engkau berasal dari Cinta, tapi engkau lupa. Ketahuilah: tak ada yang perlu engkau lakukan supaya layak Cinta. Engkau hanya perlu...</small></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pulang Jumatan, saya bertemu seorang Guru. Dia berjualan rujak buah. Menyiapkan produknya sambil memuji kecantikan warna merah buah jeruk bali. Obrol-obrol, ternyata dia seorang sarjana agama, berjualan rujak buah sejak lulus kuliah 25-an tahun lalu. Terkadang mengajar lepas. Anaknya ada 10, 2 orang sedang kuliah. &#8220;Cukup Pak?&#8221;, tanya saya. &#8220;Alhamdulillah&#8221;, katanya. Dia memilih tidak tergantung pada siapa pun. Saya ingin belajar darinya.</p>
<p>Hal di atas mengingatkan saya pada tulisan Emha berikut:</p>
<p><strong>Syair Penjual Kacang</strong></p>
<p>Al-Habib, seorang yang dikasihi oleh banyak orang dan senantiasa didambakan kemuliaan hatinya, malam itu mengimami shalat Isya&#8217; suatu jamaah yang terdiri dari para pejabat negara dan pemuka masyarakat.</p>
<p>Berbeda dengan adatnya, sesudah tahiyyat akhir diakhiri dengan salam, Al-Habib langsung membalikkan tubuhnya, menghadapkan wajahnya kepada para jamaah dan menyorotkan matanya tajam-tajam.</p>
<p>”Salah satu dari kalian keluarlah sejenak dari ruangan ini,” katanya, ”Di halaman depan sedang berdiri seorang penjual kacang godok. Keluarkan sebagian dari uang kalian, belilah barang beberapa bungkus.”</p>
<p>Beberapa orang langsung berdiri dan berlari keluar, dan kembali ke ruangan beberapa saat kemudian.</p>
<p>”Makanlah kalian semua,” lanjut Al-Habib, ”Makanlah biji-biji kacang itu, yang diciptakan oleh Allah dengan kemuliaan, yang dijual oleh kemuliaan, dan dibeli oleh kemuliaan.”</p>
<p>Para jamaah tak begitu memahami kata-kata Al-Habib, sehingga sambil menguliti dan memakan kacang, wajah mereka tampak kosong.</p>
<p>”Setiap penerimaan dan pengeluaran uang,” kata Al-Habib, ”hendaklah dipertimbangkan berdasarkan nilai kemuliaan. Bagaimana mencari uang, bagaimana sifat proses datangnya uang ke saku kalian, untuk apa dan kepada siapa uang itu dibelanjakan atau diberikan, akan menjadi ibadah yang tinggi derajatnya apabila diberangkatkan dari perhitungan untuk memperoleh kemuliaan.”</p>
<p>”Tetapi ya Habib,” seseorang bertanya, ”apa hubungannya antara kita beli kacang malam ini dengan kemuliaan?”</p>
<p>Al-Habib menjawab, ”Penjual kacang itu bekerja sampai nanti larut malam atau bahkan sampai menjelang pagi. Ia menyusuri jalanan, menembus gang-gang kota dan kampung-kampung. Di malam hari pada umumnya orang tidur, tetapi penjual kacang itu amat yakin bahwa Allah membagi rejeki bahkan kepada seekor nyamuk pun. Itu taqwa namanya. Berbeda dari sebagian kalian yang sering tak yakin akan kemurahan Allah, sehingga cemas dan untuk menghilangkan kecemasan dalam hidupnya ia lantas melakukan korupsi, menjilat atasan serta bersedia melakukan dosa apa pun saja asal mendatangkan uang.”</p>
<p>Suasana menjadi hening. Para jamaah menundukkan kepala dalam-dalam. Dan Al-Habib meneruskan, ”Istri dan anak penjual kacang itu menunggu di rumah, menunggu dua atau tiga rupiah hasil kerja semalaman. Mereka ikhlas dalam keadaan itu. Penjual kacang itu tidak mencuri atau memperoleh uang secara jalan pintas lainnya. Kalau ia punya situasi mental pencuri, tidaklah ia akan tahan berjam-jam berjualan.”</p>
<p>”Punyakah kalian ketahanan mental setinggi itu?” Al-Habib bertanya, ”Lebih muliakah kalian dibanding penjual kacang itu, atau ia lebih mulia dari kalian? Lebih rendahkah derajat penjual kacang itu dibandingkan kalian, atau di mata Allah ia lebih tinggi maqam-nya dari kalian? Kalau demikian, kenapa di hati kalian selalu ada perasaan dan anggapan bahwa seorang penjual kacang adalah orang rendah dan orang kecil?”</p>
<p>Dan ketika akhirnya Al-Habib mengatakan, ”Mahamulia Allah yang menciptakan kacang, sangat mulia si penjual itu dalam pekerjaannya, serta mulia pulalah kalian yang membeli kacang berdasar makrifat terhadap kemuliaan …” – salah seorang berteriak, melompat dan memeluk tubuh Al-Habib erat-erat.</p>
<p>1987<br />
Emha Ainun Nadjib &#8211; Seribu Masjid Satu Jumlahnya (Mizan, 1990).</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://ferli.net/syair-penjual-kacang" /></p><p>Tulisan-tulisan terkait:<ol>
<li><a href='http://ferli.net/fitri' rel='bookmark' title='FITRI'>FITRI</a> <small>Karena perdebatan mengenai &#8220;golongan kafir&#8221; tak juga berkesudahan melalui waktu yang panjang, maka kelompok Remaja Masjid itu akhirnya mengundang seorang...</small></li>
<li><a href='http://ferli.net/allah-rahman-allah-rahim-allahu-ya-ghafar-ya-nurul-qolbi' rel='bookmark' title='Allah Rahman, Allah Rahim, Allahu ya Ghafar ya Nurul Qolbi'>Allah Rahman, Allah Rahim, Allahu ya Ghafar ya Nurul Qolbi</a> <small>Lagu &#8220;Cahaya Hati&#8221; dari Opick ini belum pernah gagal membuat mata saya basah setiap kali mendengar &#8220;pekikan&#8221; kalimat ini: Allah...</small></li>
<li><a href='http://ferli.net/rahasia-keberlimpahan-dan-kekayaan' rel='bookmark' title='Rahasia Keberlimpahan dan Kekayaan'>Rahasia Keberlimpahan dan Kekayaan</a> <small>Perbedaan antara yang kaya dan yang miskin tidak terletak pada jumlah uang yang mereka miliki, tapi pada cara mereka berpikir,...</small></li>
<li><a href='http://ferli.net/tidak-ada-kemuliaan-intrinsik-pada-konsep-perjuangan' rel='bookmark' title='Tidak Ada Kemuliaan Intrinsik Pada Konsep &#8220;Perjuangan&#8221;'>Tidak Ada Kemuliaan Intrinsik Pada Konsep &#8220;Perjuangan&#8221;</a> <small>Menanggapi status seseorang di Facebook, saya menulis ini: Tidak ada kemuliaan intrinsik pada konsep &#8220;perjuangan&#8221;. Alam tidak berjuang utk eksis....</small></li>
<li><a href='http://ferli.net/engkau-berasal-dari-cinta' rel='bookmark' title='Engkau Berasal dari Cinta'>Engkau Berasal dari Cinta</a> <small>Engkau berasal dari Cinta, tapi engkau lupa. Ketahuilah: tak ada yang perlu engkau lakukan supaya layak Cinta. Engkau hanya perlu...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ferli.net/syair-penjual-kacang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FITRI</title>
		<link>http://ferli.net/fitri</link>
		<comments>http://ferli.net/fitri#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2009 14:30:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ferli Deni Iskandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hakikat]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ainun]]></category>
		<category><![CDATA[Emha]]></category>
		<category><![CDATA[Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[Kafir]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Nadjib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ferli.net/fitri/</guid>
		<description><![CDATA[Karena perdebatan mengenai &#8220;golongan kafir&#8221; tak juga berkesudahan melalui waktu yang panjang, maka kelompok Remaja Masjid itu akhirnya mengundang seorang Mu&#8217;allim yang diharapkan bisa menawarkan kesejukan dan membawa mereka ke jalan yang lempang. &#8220;Perdebatan kami ya Mu&#8217;allim,&#8221; kata salah seorang, &#8220;telah mengundang kesalahpahaman yang tak enak di hati, dan sungguh kami khawatir akan terpeleset kepada [...]
Tulisan-tulisan terkait:<ol>
<li><a href='http://ferli.net/syair-penjual-kacang' rel='bookmark' title='Syair Penjual Kacang'>Syair Penjual Kacang</a> <small>Pulang Jumatan, saya bertemu seorang Guru. Dia berjualan rujak buah. Menyiapkan produknya sambil memuji kecantikan warna merah buah jeruk bali....</small></li>
<li><a href='http://ferli.net/ayat-kursi' rel='bookmark' title='Ayat Kursi'>Ayat Kursi</a> <small>Khotib Jumatan hari ini membacakan Ayat Kursi pada rakaat pertama. Berhubung saya terkadang tidak hafal bacaan ayat yang sesungguhnya sakti...</small></li>
<li><a href='http://ferli.net/tidak-ada-kemuliaan-intrinsik-pada-konsep-perjuangan' rel='bookmark' title='Tidak Ada Kemuliaan Intrinsik Pada Konsep &#8220;Perjuangan&#8221;'>Tidak Ada Kemuliaan Intrinsik Pada Konsep &#8220;Perjuangan&#8221;</a> <small>Menanggapi status seseorang di Facebook, saya menulis ini: Tidak ada kemuliaan intrinsik pada konsep &#8220;perjuangan&#8221;. Alam tidak berjuang utk eksis....</small></li>
<li><a href='http://ferli.net/allah-rahman-allah-rahim-allahu-ya-ghafar-ya-nurul-qolbi' rel='bookmark' title='Allah Rahman, Allah Rahim, Allahu ya Ghafar ya Nurul Qolbi'>Allah Rahman, Allah Rahim, Allahu ya Ghafar ya Nurul Qolbi</a> <small>Lagu &#8220;Cahaya Hati&#8221; dari Opick ini belum pernah gagal membuat mata saya basah setiap kali mendengar &#8220;pekikan&#8221; kalimat ini: Allah...</small></li>
<li><a href='http://ferli.net/waktu-satu-ketika-yang-abadi' rel='bookmark' title='Waktu: Satu Ketika yang Abadi'>Waktu: Satu Ketika yang Abadi</a> <small>Ketika kita berpikir atau mengingat tentang masa lalu, yakinkah kita bahwa masa lalu itu ada dan riil? Ingatan kita tentang...</small></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karena perdebatan mengenai &#8220;golongan kafir&#8221; tak juga berkesudahan melalui waktu yang panjang, maka kelompok Remaja Masjid itu akhirnya mengundang seorang Mu&#8217;allim yang diharapkan bisa menawarkan kesejukan dan membawa mereka ke jalan yang lempang.</p>
<p>&#8220;Perdebatan kami ya Mu&#8217;allim,&#8221; kata salah seorang, &#8220;telah mengundang kesalahpahaman yang tak enak di hati, dan sungguh kami khawatir akan terpeleset kepada kemungkinan untuk saling membenci. Padahal kebencian tak lain salah satu aroma busuk yang memuncrat dari mulut orang-orang yang disebut golongan kafir.&#8221;</p>
<p>&#8220;Golongan kafir itu tak ada,&#8221; sang Mu&#8217;allim menyambut,&#8221;sepanjang seseorang belum dengan sengaja membunuh dirinya sendiri.&#8221;</p>
<p>Keadaan menjadi semakin gelisah oleh pernyataan itu, namun anak-anak muda itu masih diam saja dan mendengarkan dengan seksama.</p>
<p>&#8220;Orang yang bunuh diri tak lagi punya kesempatan untuk berkhusnul-khatimah. Kekufuran bunuh diri yang dilakukannya merupakan mahkota kehidupan yang tak bisa ditangggalkannnya kembali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu tidak menjelaskan persoalan ya Mua&#8217;llim,&#8221; sahut seorang anggota.</p>
<p>Mua&#8217;llim kita tersenyum, &#8220;Kalian punya kebiasaan untuk memperoleh hasil dari penghayatan bertahun-tahun hanya melalui informasi beberapa kalimat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kami bukan meminta hasil,&#8221; jawab seorang lainnya, &#8220;melainkan ingin diantarkan ke pintu gerbang kebenaran.&#8221;</p>
<p>&#8220;Di dalam perdebatan kalian, siapa yang dimaksud golongan kafir itu gerangan?&#8221; tanya Mu&#8217;allim.</p>
<p>&#8220;Mereka yang tak memeluk Islam,&#8221; jawab seseorang.<br />
&#8220;Mereka yang mengingkari Allah,&#8221; jawab lainnya.<br />
&#8220;Orang yang tak mengindahkan nilai-nilai Islam,&#8221; kata lainnya lagi kemudian disusul bersahut-sahutan.<br />
&#8220;Para penindas!&#8221;<br />
&#8220;Para penzina!&#8221;<br />
&#8220;Koruptor!&#8221;<br />
&#8220;Pendusta! Maling!&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, baiklah,&#8221; sang Mu&#8217;allim memotong, &#8220;kita bisa menyebut ribuan lagi contohnya. Apakah orang-orang yang kalian sebut itu makan dan minum dalam hidupnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu saja!&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah mereka pada umumnya suka mandi dan menjaga kebersihan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah mereka mencintai anak istrinya dan tidur beristirahat di waktu malam?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kira-kira begitu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau begitu mereka bukan golongan orang kafir. Mereka hanya manusia yang pada bidang-bidang tertentu melakukan kekufuran.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa bedanya ya Mu&#8217;allim?&#8221; seseorang bertanya.<br />
&#8220;Orang yang melakukan kekufuran dinamakan kafir!&#8221; sambung lainnya.</p>
<p>&#8220;Kafir adalah manusia yang total kepribadian dan perilakunya ingkar kepada nilai Allah. Siapa di muka bumi ini yang sanggup memperbuat demikian? Seorang maling bukanlah maling ketika ia buang air besar atau mengirup teh. Kita tidak bisa membungkus seluruh diri seseorang dengan gelar maling hanya karena di sebagian waktunya ia melakukan pencurian, kecuali kita bermaksud menghancurkan kehidupan orang itu &#8212; dan penghancuran adalah kufur. Kita tidak bisa menyebut kata kafir untuk keseluruhan diri seseorang hanya karena ia melakukan perbuatan kufur di bidang tertentu. Tak mungkin seseorang menjadi kafir total kecuali ia membunuh dirinya sendiri. Kata kafir dalam Al Qur&#8217;an selalu menuju ke suatu konteks. Tetap Abu Jahl adalah manusia yang setia makan minum demi memelihara tubuh dan kesehatannya yang merupakan amanat Allah: dalam soal itu ia bukanlah kafir. Seorang koruptor yang mencintai sanak familinya, tak bisa kita anggap cintanya itu pun salah satu bentuk kekufuran. Kalau engkau mendengar suara mengaji dan tangis seorang pelacur di larut malam, tak bisa engkau sebut bahwa mengaji dan menangis itu dosa kekufuran.&#8221;</p>
<p>Seseorang memotong,&#8221; Itu semua sekedar persoalan istilah, ya Mu&#8217;allim.&#8221;</p>
<p>&#8220;Demi Allah, lebih dari itu, anakku,&#8221; jawab Mu&#8217;allim kita,&#8221; kalau seseorang yang kau sebut kafir itu tidak menikamkan pisau ke jantungnya, sehingga jantung itu tetap leluasa mengerjakan sunnatullah, maka orang itu belumlah kafir total. Manusia adalah makhluk Allah, demikian juga jantung, mengalirnya darah, terpeliharanya tulang dan daging, adalah juga makhluk Allah. Tidak berkufurkah kita kalau tak menghormati makhluk-makhluk suci itu? Manusia terlahir fitri, dan senantiasa diajari untuk kembali fitri. Tak ada air kotor, yang ada adalah air ditambah kotoran. Kotoran itu bisa dipisahkan kembali dari air. Demikian juga manusia dengan kekufuran.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada yang tak mungkin dipisahkan lagi, ya Mu&#8217;allim!&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu soal metode, anakku,&#8221; jawab sang Mu&#8217;allim,&#8221; ada cara penyembuhan secara akal sehat, ada cara yang mengguncangkan, ada cara ruhaniah, serta ada suatu keadaan yang sungguh-sungguh di luar kemampuan dakwah manusia sehingga memerlukan hidayah langsung dari Allah. Apa yang ingin kukemukakan adalah bahwa orang-orang yang kalian sebut golongan kafir itulah nomor pertama yang harus ditangani oleh niat syi&#8217;ar Islam kalian. Padahal kalian selalu menjauhi mereka seperti seorang putri kerajaan menjauhi anjing gila atau tikus selokan. Yang kita perlukan untuk itu, anak-anakku, ialah kejernihan akal, kejujuran hati, dan jiwa tawadlu.&#8221;</p>
<p>Diambil dari buku: Seribu Masjid Satu Jumlahnya<br />
Tahajud Cinta Seorang Hamba<br />
Karangan : Emha Ainun Nadjib<br />
Penerbit : Mizan, cetakan ke IX, Mei 1997<br />
Tulisan tersebut di atas ada di halaman 145 sampai halaman 148.</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://ferli.net/fitri" /></p><p>Tulisan-tulisan terkait:<ol>
<li><a href='http://ferli.net/syair-penjual-kacang' rel='bookmark' title='Syair Penjual Kacang'>Syair Penjual Kacang</a> <small>Pulang Jumatan, saya bertemu seorang Guru. Dia berjualan rujak buah. Menyiapkan produknya sambil memuji kecantikan warna merah buah jeruk bali....</small></li>
<li><a href='http://ferli.net/ayat-kursi' rel='bookmark' title='Ayat Kursi'>Ayat Kursi</a> <small>Khotib Jumatan hari ini membacakan Ayat Kursi pada rakaat pertama. Berhubung saya terkadang tidak hafal bacaan ayat yang sesungguhnya sakti...</small></li>
<li><a href='http://ferli.net/tidak-ada-kemuliaan-intrinsik-pada-konsep-perjuangan' rel='bookmark' title='Tidak Ada Kemuliaan Intrinsik Pada Konsep &#8220;Perjuangan&#8221;'>Tidak Ada Kemuliaan Intrinsik Pada Konsep &#8220;Perjuangan&#8221;</a> <small>Menanggapi status seseorang di Facebook, saya menulis ini: Tidak ada kemuliaan intrinsik pada konsep &#8220;perjuangan&#8221;. Alam tidak berjuang utk eksis....</small></li>
<li><a href='http://ferli.net/allah-rahman-allah-rahim-allahu-ya-ghafar-ya-nurul-qolbi' rel='bookmark' title='Allah Rahman, Allah Rahim, Allahu ya Ghafar ya Nurul Qolbi'>Allah Rahman, Allah Rahim, Allahu ya Ghafar ya Nurul Qolbi</a> <small>Lagu &#8220;Cahaya Hati&#8221; dari Opick ini belum pernah gagal membuat mata saya basah setiap kali mendengar &#8220;pekikan&#8221; kalimat ini: Allah...</small></li>
<li><a href='http://ferli.net/waktu-satu-ketika-yang-abadi' rel='bookmark' title='Waktu: Satu Ketika yang Abadi'>Waktu: Satu Ketika yang Abadi</a> <small>Ketika kita berpikir atau mengingat tentang masa lalu, yakinkah kita bahwa masa lalu itu ada dan riil? Ingatan kita tentang...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ferli.net/fitri/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

