the curiousity within
Pulang Jumatan, saya bertemu seorang Guru. Dia berjualan rujak buah. Menyiapkan produknya sambil memuji kecantikan warna merah buah jeruk bali. Obrol-obrol, ternyata dia seorang sarjana agama, berjualan rujak buah sejak lulus kuliah 25-an tahun lalu. Terkadang mengajar lepas. Anaknya ada 10, 2 orang sedang kuliah. “Cukup Pak?”, tanya saya. “Alhamdulillah”, katanya. Dia memilih tidak tergantung pada siapa pun. Saya ingin belajar darinya.
Hal di atas mengingatkan saya pada tulisan Emha berikut:
Syair Penjual Kacang
Al-Habib, seorang yang dikasihi oleh banyak orang dan senantiasa didambakan kemuliaan hatinya, malam itu mengimami shalat Isya’ suatu jamaah yang terdiri dari para pejabat negara dan pemuka masyarakat.
Berbeda dengan adatnya, sesudah tahiyyat akhir diakhiri dengan salam, Al-Habib langsung membalikkan tubuhnya, menghadapkan wajahnya kepada para jamaah dan menyorotkan matanya tajam-tajam.
”Salah satu dari kalian keluarlah sejenak dari ruangan ini,” katanya, ”Di halaman depan sedang berdiri seorang penjual kacang godok. Keluarkan sebagian dari uang kalian, belilah barang beberapa bungkus.”
Beberapa orang langsung berdiri dan berlari keluar, dan kembali ke ruangan beberapa saat kemudian.
”Makanlah kalian semua,” lanjut Al-Habib, ”Makanlah biji-biji kacang itu, yang diciptakan oleh Allah dengan kemuliaan, yang dijual oleh kemuliaan, dan dibeli oleh kemuliaan.”
Para jamaah tak begitu memahami kata-kata Al-Habib, sehingga sambil menguliti dan memakan kacang, wajah mereka tampak kosong.
”Setiap penerimaan dan pengeluaran uang,” kata Al-Habib, ”hendaklah dipertimbangkan berdasarkan nilai kemuliaan. Bagaimana mencari uang, bagaimana sifat proses datangnya uang ke saku kalian, untuk apa dan kepada siapa uang itu dibelanjakan atau diberikan, akan menjadi ibadah yang tinggi derajatnya apabila diberangkatkan dari perhitungan untuk memperoleh kemuliaan.”
”Tetapi ya Habib,” seseorang bertanya, ”apa hubungannya antara kita beli kacang malam ini dengan kemuliaan?”
Al-Habib menjawab, ”Penjual kacang itu bekerja sampai nanti larut malam atau bahkan sampai menjelang pagi. Ia menyusuri jalanan, menembus gang-gang kota dan kampung-kampung. Di malam hari pada umumnya orang tidur, tetapi penjual kacang itu amat yakin bahwa Allah membagi rejeki bahkan kepada seekor nyamuk pun. Itu taqwa namanya. Berbeda dari sebagian kalian yang sering tak yakin akan kemurahan Allah, sehingga cemas dan untuk menghilangkan kecemasan dalam hidupnya ia lantas melakukan korupsi, menjilat atasan serta bersedia melakukan dosa apa pun saja asal mendatangkan uang.”
Suasana menjadi hening. Para jamaah menundukkan kepala dalam-dalam. Dan Al-Habib meneruskan, ”Istri dan anak penjual kacang itu menunggu di rumah, menunggu dua atau tiga rupiah hasil kerja semalaman. Mereka ikhlas dalam keadaan itu. Penjual kacang itu tidak mencuri atau memperoleh uang secara jalan pintas lainnya. Kalau ia punya situasi mental pencuri, tidaklah ia akan tahan berjam-jam berjualan.”
”Punyakah kalian ketahanan mental setinggi itu?” Al-Habib bertanya, ”Lebih muliakah kalian dibanding penjual kacang itu, atau ia lebih mulia dari kalian? Lebih rendahkah derajat penjual kacang itu dibandingkan kalian, atau di mata Allah ia lebih tinggi maqam-nya dari kalian? Kalau demikian, kenapa di hati kalian selalu ada perasaan dan anggapan bahwa seorang penjual kacang adalah orang rendah dan orang kecil?”
Dan ketika akhirnya Al-Habib mengatakan, ”Mahamulia Allah yang menciptakan kacang, sangat mulia si penjual itu dalam pekerjaannya, serta mulia pulalah kalian yang membeli kacang berdasar makrifat terhadap kemuliaan …” – salah seorang berteriak, melompat dan memeluk tubuh Al-Habib erat-erat.
1987
Emha Ainun Nadjib – Seribu Masjid Satu Jumlahnya (Mizan, 1990).
In: Bisnis|General|Hakikat|Niat|Opini|Pengembangan Diri|Problem Solving|Software|Tips|Umum
8 Feb 2010Constantly seek ways to do things better in all areas of your life. The Japanese have a word for the concept of never ending improvement, kaizen. Progress and ultimate success come to those who train and keep training. If you choose to stop and become aware, you can become a better spouse, son, daughter, friend, employer, employee, athlete and citi zen.
Commitment comes from the inside out and is tested often. Measure yourself against the best. Most others will choose to be average. This is what average means. You won’t know your limits if you don’t keep trying. Reject the idea of good enough. Commit to excellence. Take each of your goals and think of how you can improve one percent each month. Success is a journey. It is not a quick fix. The joy is in the doing. Think of success not as a peak to be climbed but a high plateau to be walked.
Always encourage children or employees to do their best and to keep going. Set the bar high for yourself and them. You will all be the better for it.
It’s fun and exciting to plan and open a business but after a few months, reality starts to kick in. Ownership and management responsibilities are demanding.
Perhaps several vendors should not have been so highly recommended. Maybe the work ethics of some recruited staff do not match expectations. After the novelty wears off, some customer interest will wane.
With the slow creep of discouragement, average people quit and settle for mediocrity. It’s seems a small fact that the flowers in the beds outside the office are dead. It gets easy to overlook the smudges on outgoing correspondence. You allow discontent among staff to fester. Suddenly updating the website is no longer a priority.
For the extraordinary, second rate and quitting are not options. You can’t yawn and shrug your shoulders. You are the boss. Through your example, you are responsible for the ener getic or toxic atmosphere in your workplace. You attend to the details. You maintain the standards. You don’t turn a blind eye to anything.
If you need to find new suppliers and new employees and new ways to promote your products or services, you do that.
To keep to a steady course and strive toward excellence, 11 you may have to make improvements again and again.
BillFitzPatrick.com, The Action Principles
Komentar-komentar Terbaru