the curiousity within
(baru saja menemukan kembali sebuah tulisan saya sendiri di milis – tertanggal 28 juli 2001, lumayan untuk jadi kenang-kenangan)
gini.
kalau yang kita cari adalah sebuah proses belajar, proses penemuan makna, proses memahami diri sendiri, proses mengenal orang lain, proses mengartikulasikan realitas dengan tingkat akurasi yang setepat-tepatnya, maka:
biarkan realitas dan kemanusiaan itu sendiri yang bicara.
artinya, kekeliruan, kebloonan, kesombongan, kegelapan, dan yang lain sejenisnya adalah realitas kemanusiaan yang perlu diterima. segala sesuatu yang terlontar bukanlah hal2 yang perlu ditakuti – apalagi sekedar penjelajahan imajinasi dan intelektualitas di milis. kecuali kita tidak lagi percaya kepada fitrah kerinduan manusia untuk menuju kembali pada kebaikan, maka hal2 yang kita pandang negatif itu justru adalah modal paling besar bagi proses pengenalan pada ketepatan, kebijakan, kerendahhatian, cahaya.
sesuatu yg susah dijelaskan sangat mengganggu saya belakangan ini.
mungkin saya merasakan betapa gampangnya kita ‘dikelabui’ oleh ungkapan2 bijak yang hampa, penyederhanaan peta masalah sedemikian rupa sehingga menjebak pemihakan tergesa, semacam kebutaan terhadap jauhnya rentang jarak yg ada di antara ideal dan kenyataan, kebenaran kosong yang dikemas dengan pola ungkap penuh estetika sedemikian sehingga estetika itu menjadi tampak lebih “benar” dibandingkan isinya sendiri, sejenis kepalsuan berlapis-lapis, yang bila dibandingkan dengan kegelapan dan kebodohan telanjang, lebih susah dideteksi dan disembuhkan.
“dengan mengatakan satu hal, sesungguhnya kita sedang tidak mengatakan banyak hal.”
itulah salah satu hikmah terbesar yang saya dapat dari sekian lama berinteraksi di berbagai milis: berkali-kali saya kecele ketika “membaca” diri sendiri dan orang lain. ada dilema atau paradoks inheren besar, sedemikian besar sehingga hampir semua orang tidak bisa melihatnya: “satu hal” versus “banyak hal” itu mirip dengan fenomena ujung es, ujung es dalam proses komunikasi – atau tepatnya fenomena ujung es dalam representasi ulang kompleksitas ide di kepala menjadi sebuah pola ungkap lahiriah menggunakan simbol2 konvensional seperti bentuk2 tulisan dan lisan. artinya, miskomunikasi sangat mungkin terjadi tidak hanya dalam ruang gerak antar-orang, tapi juga dalam proses2 internal berbagai lapis kesadaran dalam diri seseorang.
contoh riil saja, maap kalo terlalu personal, om heri sempat beberapa kali menyatakan bingung “membaca” saya: bagaimana mungkin saya yg sepengetahuan beliau sangar dan jorok mengenai gus dur di milis indonesia damai, tapi koq bisa punya karakter lain di milis ini. itulah. di milis indonesia damai itu saya pernah “mengatakan satu hal”, dan yang dibaca oleh om heri juga hanya “satu hal” itu. padahal saya jauh lebih kompleks daripada “satu hal”, saya adalah “banyak hal” (“stereotyping”, “halo effect” mungkin bisa mengaproksimasi fenomena itu, but not quite what i mean sebenernya), tapi saya sendiri tidak bisa menjelaskan (macem2 sebabnya: berhubung langsung dibanned, atau karena nggak artikulatif, atau karena nggak kerasa appropriate pada saat itu) kepada milis bahwa, misalnya, saya ulangi lagi, ucapan saya itu merupakan upaya sengaja untuk keep up dengan situasi (yg saya pikir) sangat genting pada saat itu (ancaman dekrit gus dur): mencoba menyengat kesadaran faktual sejarah khayalak tentang gus dur dalam hubungannya dengan orde baru, sedemikian rupa sehingga dukungan pada dekrit bisa dikurangi (sori yah bagi anda2 yg ndukung gus dur & dekrit-nya).
intinya?
intinya adalah bila kita mencoba membatasi atau menyederhanakan realitas kemanusiaan personal mau pun kolektif yang kompleks itu dengan suatu patokan nilai yang formal-normatif-baku, kita akan kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan diri kita yang sebenarnya. memang tidak nyaman mungkin buat sebagian besar kita, tapi hey, siapa bilang proses belajar itu harus selalu teratur dan rapi?
seperti kata iklan rinso: “kalau tidak kotor, mana bisa belajar?”
lam,
ferl
Tulisan-tulisan terkait: