the curiousity within
Lagu “Cahaya Hati” dari Opick ini belum pernah gagal membuat mata saya basah setiap kali mendengar “pekikan” kalimat ini: Allah Rahman, Allah Rahim, Allahu ya Ghafar ya Nurul Qolbi (Allah Pengasih, Allah Penyayang, Allah Pengampun, Cahaya Hati).
Saya bisa saja tidak memperhatikan untaian lirik yang lain dalam lagu tersebut, tapi ketika lagu tersebut sampai pada kalimat di atas, tidak bisa tidak, selalu saja mata saya menggenang …
Padahal kalimat di atas “biasa” saja dalam arti tidak ada ungkapan yang “baru” atau “unik”. Tetapi keseluruhan nada dan kalimat serta musik yang mengiringinya membawakan satu suasana magis yang amat kental.
Setiap orang pasti punya pemaknaan yang sangat pribadi sifatnya untuk kalimat ini. Beberapa orang mungkin merasakan hal itu sebagai sesuatu yang biasa. Tetapi bagi saya, untaian kalimat dan nada di potongan lagu ini seperti bisikan hati saya sendiri yang keras tapi tertahan dan mendesak-desak, menghadirkan sejenis kerinduan, kesedihan, kebahagiaan; menyadarkan lagi pada dosa-dosa dan betapa Allah tetap mengasihi kita begitu rupa; menghidupkan kembali luka mau pun ketakjuban pada sesuatu yang sukar dijelaskan. Untaian kalimat dan nada itu seperti menghadirkan kembali seluruh kehidupan saya di masa lalu mau pun di masa mendatang … betapa sebagian besar hidup saya mungkin menjadi sebuah kesia-siaan bila saya tetap tak mengenaliNya.
Sebagian orang akan menganggap saya cengeng, mungkin. So be it, cengenglah saya. Mungkin keharuan yang seperti inilah satu-satunya harta kehidupan saya yang paling berharga.
Tulisan-tulisan terkait: