the curiousity within
Seandainya SBY bilang “Sudah 7 tahun gaji saya tidak naik” pada tahun 2004, reaksi masyarakat akan sangat berbeda dibandingkan yang terjadi belakangan ini. Tahun 2004 itu, saya bayangkan, banyak orang akan sangat bersimpati padanya dan menaruh hormat atas pengorbanan yang ia lakukan.
Tetapi lihatlah reaksi untuk ucapan itu di tahun 2011 ini: bertolak belakang bukan? Mengapa ucapan yang sama, oleh orang yang sama, mendapat reaksi yang sangat berbeda, bahkan mungkin bertolak-belakang?
Konteks. Itulah jawabannya.
Tiliklah bahwa komunikasi terdiri dari sekitar 30% verbal (kata-kata, tutur mau pun tulisan), dan sekitar 70% non-verbal (gestur, postur, ekspresi wajah, kontak mata, emosi, gaya, tekanan, dll).
Dalam kasus pejabat publik, saya percaya prosentasi komunikasi verbal lebih kecil lagi, kemungkinan sekitar 5%, karena sebagian besar porsi komunikasi pejabat publik, bagian yang lebih keras “berteriak”, adalah rekam-jejak tindakan, keputusan, kebiasaan, prestasi, dlsb.
Actions speak louder than words.
Konteks komunikasi pejabat publik didominasi oleh rekam-jejaknya. Atau meminjam peristilahan Stephen Covey dalam 7 Habits of Highly Effective People, adalah emotional bank-account (saya terjemahkan bebas sebagai “piutang emosional”) yang dimiliki oleh seseorang terhadap orang lain: seberapa besar tindakan dan keputusan pejabat tsb. memperbesar piutang emosional pejabat tsb. dari para pemilihnya; dalam kasus SBY: piutang emosional SBY dari rakyatnya.
Kalau piutang emosional itu positif, tindakan dan ucapan SBY akan ditanggapi positif. Kalau negatif, tindakan dan ucapan SBY, betapa pun diupayakan atau diniatkan untuk bercitra baik, akan selalu mendapat tanggapan negatif.
Nah, dalam kasus ucapan SBY tentang gajinya, lepas dari apa pun niatan dan motivasi sesaat dalam pengucapan pesan itu, masyarakat melihatnya dalam konteks yang lebih luas, dan karena konteks yang dilihat oleh sebagian besar masyarakat adalah bahwa SBY gagal dalam menjalankan amanah kepresidenannya, karena piutang emosional SBY nol, atau bahkan negatif, maka adalah sebuah keniscayaan, sebuah hukum alam, bahwa masyarakat luas menanggapinya dengan sinisme dan sikap-sikap negatif lain.
Kalau demikian, kita harus bagaimana?
Saya percaya, rakyat kita sebagian besar menyimpan kesabaran dan keteguhan yang luar biasa. Kita mencintai para pemegang amanah kita. Hanya dalam kondisi di mana para pemegang amanah itu sudah “melampaui batas” (silakan beri definisi masing2 untuk ini) maka cinta kita berubah menjadi benci dan dendam.
SBY, dengan segala kekeliruannya saat ini, tidak perlu kita benci, tidak perlu kita turunkan dari kekuasaannya. Kita hanya perlu menginsyafkannya.
Saya pemilih SBY di 2009 lalu. Saya menyesalinya saat ini. Tapi saya masih menyimpan harapan buat SBY.
Saya berharap SBY memulai perubahan secara radikal dalam sikap dan tindakannya. Harapan saya adalah sebagai berikut:
Itu saja.
Ingat SBY, dan Anda para penasihat atau tim yang bekerja untuk SBY, bahwa verbalisme Anda hanya berkontribusi kurang dari 5% atas citra yang terbentuk. Masyarakat sudah semakin cerdas. Camkan itu.
Insyaflah. Kalau tidak …
In: Puisi
30 Jan 2011tiba-tiba saja menyergap
kemurungan itu
di tengah musik, di tengah keriangan
di sebuah ruangan dengan banyak makanan
tiba-tiba saja mendekap
kesepian itu
padahal politik begitu gempita
padahal bisnis sedang bergelora
kesedihan ini mulanya setitik
tapi waktu membuatnya menggumpal
makin keras, makin besar
misteri apakah ini
yang mengawani hidup
mengawini hidup
terkadang datang, tak diundang
mengendap dari kejauhan
dari bayangan
ke manakah kita semua akan pergi, kawan
ketika segalanya seakan tak tenang
di kedalaman
di kedalaman hati
yang terdalam
(Tangerang, 23 Jan 11, sebuah keresahan sayup yang semakin menderak setelah membaca penguasaan negeri ini oleh sekelompok mafia intelijen).
Komentar-komentar Terbaru