headermask image

header image

Melankoli Menjelang Pergantian Hari

Email This Post Email This Post

Lagi sendirian di depan komputer, suasana sepi, sejak sore cuaca mendung, menjelang pergantian hari, jadinya agak melankolik dan teringat satu puisi yang pernah saya tulis berabad-abad lalu:

Ufuk

pada pagi cahaya timur
kuserahkan tangis diam
berharap ini bukan ilusi
ketika sakit, sakit, dan sakit
telah mengekal keraknya
di dasar tak tampak
hingga buta, hingga retak

(Kuta, on a date I couldn’t remember)

 

Don’t we all carry some emotional scars in our life?

Email This Post Email This Post

Anda Tahu atau Pernah Mimpi Lusid? Cobain deh …

Email This Post Email This Post

Saya gak tau persis apa padanan Bahasa Indonesia yang tepat dari “Lucid Dreaming“, so dengan semangat “kebebasan berekspresi dan mengasimilasi kata”, saya nyatakan bahwa padanannya adalah “Mimpi Lusid” … Kalau ada yang tau istilah yang lebih pas, please do share with me here …

Apa itu mimpi lusid?  Mimpi lusid adalah sejenis mimpi di mana kita sadar bahwa kita sedang bermimpi. Pada saat mimpi lusid, kita tahu tanggal apa hari itu, pengalaman apa yang sudah terjadi pada hari itu, sedang di mana kita tidur, bahkan posisi tidurnya pun kita tahu atau ingat.

Buat yang belum pernah mimpi lusid, mungkin belum kebayang seperti apa rasanya …

I’ll tell you: it feels as real as you’re waking up experience … but far, far more interesting … saya pernah 2 kali mengalaminya. Yang pertama adalah yang paling berkesan. I’ll tell you about it later in this post.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam mimpi lusid:

  • Menjadi superhero: terbang, menggerakkan benda2 dengan pikiran, menembus bumi sampai ke pusatnya, berkunjung ke planet laen, bertarung melawan penjahat2;-) … katanya sih, nggak ada yang lebih berkesan selain merasakan pengalaman terbang dengan kecepatan cahaya … atau yang lebih ‘membumi’: terbang dengan posisi bolak-balik atau miring. Tapi biasanya dalam mimpi pun kita tidak bisa langsung mahir terbang; Anda harus merasakan dulu proses belajar terbang, berikut kemungkinan menabrak-nabrak gedung atau pepohonan.
  • Spend some quality time with people you admire: kalau sudah mahir, kita bisa berdiskusi dalam mimpi lusid dengan siapa pun yang kita mau. Beberapa orang mungkin pengen bertemu Brad Pitt atau Angelina Jolie, tapi kalau ada yang bisa menemui Nabi Muhammad dalam mimpi lusid, nah itu bakal jadi pengalaman luar biasa.
  • Latihan dan belajar. Kita bisa ’simulasi’ soal ujian fisika, matematika, biologi dll dalam pikiran kita; atau berlatih kungfu dan karate. Jadi inget cerita silat yang salah satu tokohnya bisa mencapai ilmu silat yang tinggi hanya dengan berlatih dalam tidur. Enak banget yak …
  • Anything that only limited by our imagination …

Bagaimana caranya bisa mimpi lusid?

Katanya sih, setiap malam sebenarnya kita mengalami 4 sampai 6 mimpi yang berbeda. Kalau Anda punya kebiasaan atau kemampuan mengingat mimpi-mimpi Anda, Anda sudah satu langkah menuju pengalaman mimpi lusid … Kalau nggak, cobalah untuk setiap bangun dari tidur, Anda mencatat mimpi yang masih sempat teringat. Ini adalah langkah pertama.

Langkah kedua adalah: tidurlah ketika kita sudah sangat lelah dan mengantuk, tapi dengan tetap mempertahankan mata terbuka (tapi tetap santai). Diharapkan ketika Anda mulai menutup mata untuk tidur, ada sebagian kesadaran Anda yang ikut terbawa ke dalam mimpi.

Yang ketiga: kalau mengalami mimpi lusid, biasanya kita jadi too excited, dan jadinya malah bangun dari tidur. So, stay calm, stay cool. Don’t get too excited. Katanya ada teknik untuk menciptakan mimpi lusid yang stabil (gak buyar), yaitu dengan melakukan hal2 berikut dalam mimpi tsb: menggosok-gosokkan telapak tangan, atau merotasikan tubuh.

Yang keempat: kalau kita sudah bisa mimpi lusid dalam waktu yang lama, cobalah lakukan ‘pre-programming’ sebelum tidur: niatkan apa yang ingin kita mimpikan. Nah, di sinilah Anda akan mengalami apa pun yang Anda inginkan menjadi kenyataan tanpa susah payah lagi;-). Cuma, jangan keseringan, nanti Anda jadi ketagihan dan menjadi seorang eskapis dari kehidupan yang riil;-).

Gak gampang untuk bisa mimpi lusid sebagai suatu pengalaman yang bisa kita dapatkan semau kita. Kalau tertarik lebih jauh, ya cobalah Googling untuk kata ‘Lucid Dreaming’.

Berikut saya share satu pengalaman saya mengalami mimpi lusid:

Saya ingat, di awal mimpi saya tahu posisi tidur saya, dan saya tahu bahwa saat itu saya sedang mulai bermimpi. “Wah, mungkin saya bisa bermimpi jalan-jalan nih”, pikir saya waktu itu.

Dan sekejap kemudian saya sedang berada di kursi depan sebuah mobil, di samping seorang supir (siapa, saya tidak tahu, dan tidak peduli saat itu). Namun, melihat pemandangan ke depan, seperti melihat hal-hal yang benar-benar nyata. Di depan mobil terlihat dengan jelas benda-benda seperti jalan raya, mobil-mobil, rumah-rumah, orang-orang. Satu hal saja yang beda: saya bisa melihat warna-warna dunia di depan saya sesuai keinginan saya saat itu. Ketika saya berkeinginan melihat semuanya dalam warna merah, saat itu juga pemandangan berubah merah. Ketika saya ingin hijau, maka semuanya hijau. Pikir saya saat itu: “Oh, mungkin seperti ini juga lah kehidupan nyata itu, segala yang tampak di depan kita sesungguhnya adalah fungsi dari persepsi kita sendiri. Ketika persepsi berubah, maka dunia kita juga berubah.”

Such a wisdom yak ;-).

Karena saya tahu saya sedang bermimpi, dan mampu melakukan apa pun, saya memutuskan untuk …

TERBANG.

Maka saya minta supir berhenti. Saya buka pintu mobil dan menjejakkan kaki di tanah.

Wow, it really felt like I touched the very ground beneath my feet.

Saya berdiri, ternyata di bawah sebatang pohon rindang. Dan saya mulai ancang-ancang untuk terbang. Saya mengacungkan kedua belah tangan ke atas ala Superman.

Dan, here I go … pelan-pelan tubuh saya terangkat. Namun saya kurang perhitungan: di atas saya banyak ranting dan daun pohon. Maka … keresek-keresek, sret-sret, kulit saya tergores-gores ranting pohon. Perih mak.

Tapi tetep asyik.

Saya mulai terbang …

Namun, belum lama lepas dari jeratan ranting-ranting pohon, saya mendengar suara “glep-glep-glep” lirih, mirip suara gelembung udara di air, seperti orang yang mengeluarkan nafas di air …

Otak saya menduga-duga.

Wah, saya kan sedang tidur, dan sedang bermimpi terbang. Jangan-jangan sekarang ini saya sedang berjalan-jalan dalam tidur aliassleepwalking, dan somehow masuk kamar mandi dan nyungsep di bak mandi. “Wuah, gawat, bisa mati konyol gue,” pikir saya saat itu.

Wah, saya harus bangun! Saya harus bangun!

Dan terbangunlah saya. Sialnya (tepatnya: untungnya), ternyata saya tidak sedang nyungsep di bak mandi, saya masih tetap dalam posisi tidur yang sama sebelum bermimpi.

Bengong.

Sayang sekali, saya belum sempat menikmati pengalaman terbang yang cukup lama sambil tetap sadar bahwa saya sedang bermimpi (saya sebelumnya juga pernah beberapa kali bermimpi terbang, tapi dalam kondisi tidak sadar bahwa saya bermimpi sehingga tidak bisa mengendalikan mimpi itu).

Kapan lagi saya bisa mengendalikan mimpi saya sendiri dan melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan dalam kehidupan nyata?

Bagaimana dengan Anda, tertarik untuk mengalami suatu petualangan baru yang hebat, meski hanya dalam mimpi?

Email This Post Email This Post

Kemalasan Adalah Penggerak Segala Kemajuan

Email This Post Email This Post

Ada satu slogan unik yang masih terngiang-ngiang: “Lazyness drives all progress in the world“, alias “Kemalasan adalah penggerak segala kemajuan di dunia ini.”

Kedengarannya aneh ya? Mana mungkin sih kemalasan menjadi penggerak segala kemajuan? Bukankah karena malas maka kita tidak melakukan apa-apa?

Ternyata argumennya begini (contoh): Ketika ada pekerjaan membawa barang ke tempat jauh, tipikal tanggapan “pekerja keras” adalah “Bagaimana pun susahnya, bagaimana pun berat dan jauhnya, saya akan membawa barang ini berjalan kaki, karena saya bukan orang malas”.

Sebaliknya seorang “pemalas” akan berkata “Males banget. Ogah kalau harus jalan jauh bawa barang berat. Saya mau selonjoran aja dulu sambil mikir”. Si “pemalas” malah berbaring, dan semua orang di sekitar dia akan memaki “Dasar pemalas!”.

Tetapi yang tidak diketahui banyak orang adalah dia sebenarnya berpikir dan akhirnya menemukan ide membuat roda yang dapat membantu dia membawa barang berat ke tempat jauh tanpa susah payah.

Jadi, banyak penemuan dan kemajuan di dunia ini bukan diciptakan oleh pekerja keras, tapi oleh pemalas yang cerdik.

Mulai masuk akal sekarang kan?

Tapi saya pikir logika bekerja keras juga tidak sepenuhnya salah. Jadi di mana titik temunya?

Baru saja saya mendapat ide: mungkin titik temunya adalah di waktu atau proses.

Orang yang paling efektif adalah orang yang tidak sekedar bekerja keras, tapi tidak juga malas membabi buta. Orang yang akan membuat perubahan besar adalah mereka yang menyadari bahwa diperlukan kombinasi benih ide (representasi “kemalasan”/effortlessness) dan ketekunan (representasi tindakan/hardwork) dalam mewujudkan sesuatu.

Contoh yang mungkin paling mewakili adalah bagaimana “menciptakan” pohon beringin besar yang indah yang bisa meneduhi banyak orang. Sekali benih beringin ditanam, “kerja keras” dalam bentuk menyiram dan memupuk sesering mungkin tidak akan membuat beringin itu lebih cepat tumbuh. Sebaliknya, “kemalasan” dalam bentuk pengabaian terhadap kebutuhan beringin juga akan membuat beringin itu mati. Ada proses yang harus diikuti, ada rentang waktu yang perlu dilalui sebelum beringin itu tumbuh sesuai harapan kita.

Mungkin begitu juga dengan bisnis atau karir. Sekali Anda memulai bisnis, ada proses dan waktu yang harus dilalui sebelum bisnis itu menjadi besar. Kerja keras sampai Anda menjadi workaholic atau maniak-kerja tidak akan membuat bisnis Anda besar dalam waktu satu atau dua tahun. Sebaliknya, kemalasan merawat bisnis juga pasti akan mematikan bisnis Anda.

Email This Post Email This Post

Can Americans be Really THAT Stupid?

Email This Post Email This Post

As of yesterday, Sep 12 ‘08, Gallup and Rasmussen found out that McCain leads Obama, 48% to 45%.

Is this for real?

I mean, if the polls were accurate, we have a country, as great a country as the US — to whom the whole world affairs depend on — that consists mostly of ignorant people?

I really find it hard to belief. First, Bush was elected twice, and then this … a significant probability that Bush’s “third term” will prevail …

Look at the recent Sarah Palin controvery … she energizes the McCain’s campaign such that it now enjoys the current polls’ lead, but …

I think only a country with so many stupid people would think for one moment Palin would make a good choice for VP. Her comments on future wars with Russia, not only shows her incompetence on the world stage, but also shows that another war hungry buffoon could be in the White House within a few months. The hypocrisy from this candidate is amazing. On one hand criticizing Russia on Georgia, then gushing at the fact that her boys will be in Iraq soon. What did she say about larger countries invading smaller ones, please remind me?

What if something bad happen to McCain — being 72 now — and Palin had to step in as a president?

Should the world watch with horror and desperation when President Palin (who in fact didn’t know what “Bush doctrine” is, “knows” Russia because she can see it from Alaska, and doesn’t “blink” when making decisions) has to excercise her “sound” judgment over as delicate, complex affairs as Palestine/Israel, Iran, Iraq, Afghanistan, etc … ???

Indonesians, US is “remote”, but not as remote as we thought, when we consider that there is a strong relationship between US foreign policies and the Indonesia’s rise of oil prices, the recession of economy, jobs scarcity, rising criminalities; in the general sense of our prosperity here …

Make no mistake here: Our everyday lives is strongly affected by US people’s decision on who should be their next president.

I’m watching US President election with eeriness I can hardly contain …

I’m praying for Obama/Biden … May God be with them, bringing new hopes to the world.

Email This Post Email This Post

Kekuatan Maaf, Keajaiban Hati

Email This Post Email This Post

Air mata saya mengalir begitu saja ketika membaca cerita ini:
(disalin dari sebuah milis: Manager-Indonesia@yahoogroups.com)
=====================================================
Dibalik Cerita Pedonor Sumsum Tulang Belakang dan Pelaku Pemerkosaan.

Di suatu Koran Itali, muncullah berita pencarian orang yang istimewa. 17 Mei 1992 di parkiran mobil ke 5 Wayeli (nama kota, tak tahu aku bener ngak nulisnya), seorang wanita kulit putih diperkosa oleh seorang kulit hitam. Tak lama kemudian, sang wanita melahirkan seorang bayi perempuan berkulit hitam. Ia dan suaminya tiba-tiba saja menanggung tanggung jawab untuk memelihara anak ini. Sayangnya,sang bayi kini menderita leukemia kanker darah). Dan ia memerlukan transfer sumsum tulang belakang segera.

Ayah kandungnya merupakan satu-satunya penyambung harapan hidupnya. Berharap agar pelaku pada waktu itu saat melihat berita ini, bersedia menghubungi Dr. Adely di RS Elisabeth. Berita pencarian orang ini membuat seluruh masyarakat gempar. Setiap orang membicarakannya. Masalahnya adalah apakah orang hitam ini berani muncul. Padahal jelas ia akan menghadapi kesulitan besar.

Jika ia berani muncul, ia akan menghadapi masalah hukum, dan ada kemungkinan merusak kehidupan rumah tangganya sendiri. Jika ia tetap bersikeras untuk diam, ia sekali lagi membuat dosa yang tak terampuni.

Kisah ini akan berakhir bagaimanakah ? Seorang anak perempuan yang menderita leukimia ternyata menyimpan suatu kisah yang memalukan di suatu perkampungan Itali.

Martha, 35 thn, adalah wanita yang menjadi pembicaraan semua orang. Ia dan suaminya Peterson adalah warga kulit putih, tetapi diantara kedua anaknya, ternyata terdapat satu yang berkulit hitam. Hal ini menarik perhatian setiap orang disekitar mereka untuk bertanya, Martha hanya tersenyum kecil berkata pada mereka bahwa nenek berkulit hitam, dan kakeknya berkulit putih, maka anaknya Monika mendapat kemungkinan seperti ini.

Musim gugur 2002, Monika yang berkulit hitam terus menerus mengalami demam tinggi. Terakhir, Dr. Adely memvonis Monika menderita leukimia. “Harapan satu-satunya hanyalah mencari pedonor sumsum tulang belakang yang paling cocok untuknya.” Dokter menjelaskan lebih lanjut. “Diantara mereka yang ada hubungan darah dengan Monika merupakan cara yang paling mudah untuk menemukan pedonor tercocok. Harap seluruh anggota keluarga kalian berkumpul untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang.”

Raut wajah Martha berubah, tapi tetap saja seluruh keluarga menjalani pemeriksaan. Hasilnya tak satupun yang cocok. Dokter memberitahu mereka, dalam kasus seperti Monika ini, mencari pedonor yang cocok sangatlah kecil kemungkinannya. Sekarang hanya ada satu cara yang paling manjur, yaitu Martha dan suaminya kembali mengandung anak lagi. Dan mendonorkan darah anak untuk Monika. Mendengar usul ini Martha tiba-tiba menjadi panik, dan berkata tanpa suara “Tuhan..kenapa menjadi begini ?” Ia menatap suaminya, sinar matanya dipenuhi ketakutan dan putus asa. Peterson mengerutkan keningnya berpikir. Dr. Adely berusaha menjelaskan pada mereka, “saat ini banyak orang yang menggunakan cara ini untuk menolong nyawa para penderita leukimia, lagi pula cara ini terhadap bayi yang baru dilahirkan sama sekali tak ada pengaruhnya. ” Hal ini hanya didengarkan oleh pasangan suami istri tersebut, dan termenung begitu lama. Terakhir mereka hanya berkata, “Biarkan kami memikirkannya kembali.”

Malam kedua, Dr. Adely tengah bergiliran tugas, tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka, pasangan suami-istri tersebut. Martha menggigit bibirnya keras, suaminya Peterson, menggenggam tangannya, dan berkata serius pada dokter. “Kami ada suatu hal yang perlu memberitahumu. Tapi harap Anda berjanji untuk menjaga kerahasiaan ini, karena ini merupakan rahasia kami suami-istri selama beberapa tahun.” Dr. Adely menganggukkan kepalanya. Lalu mereka menceritakan: “10 tahun lalu, Martha ketika pulang kerja telah diperkosa seorang remaja berkulit hitam. Saat Martha sadar, dan pulang ke rumah dengan tergesa-gesa, waktu telah menunjukkan pukul 1 malam. Waktu itu aku bagaikan gila keluar rumah mencari orang hitam itu untuk membuat perhitungan. Tapi telah tak ada bayangan orang satupun. Malam itu kami hanya dapat memeluk kepala masing-masing menahan kepedihan. Sepertinya seluruh langit runtuh.”

Bicara sampai sini, Peterson telah dibanjiri air mata, Ia melanjutkan kembali . “Tak lama kemudian Martha mendapati dirinya hamil. Kami merasa sangat ketakutan, kuatir bila anak yang dikandungnya merupakan milik orang hitam tersebut. Martha berencana untuk menggugurkannya, tapi aku masih mengharapkan keberuntungan, mungkin anak yang dikandungnya adalah bayi kami. Begitulah, kami ketakutan menunggu beberapa bulan.

Maret 1993, Martha melahirkan bayi perempuan, dan ia berkulit hitam. Kami begitu putus asa, pernah terpikir untuk mengirim sang anak ke panti asuhan. Tapi mendengar suara tangisnya, kami sungguh tak tega. Terlebih lagi bagaimanapun Martha telah mengandungnya, ia juga merupakan sebuah nyawa. Aku dan Martha merupakan warga Kristen yang taat, pada akhirnya kami memutuskan untuk memeliharanya, dan memberinya nama Monika.”

Mata Dr. Adely juga digenangi air mata, pada akhirnya ia memahami kenapa bagi kedua suami istri tersebut kembali mengandung anak merupakan hal yang sangat mengkuatirkan. Ia berpikir sambil mengangguk-anggukkan kepala berkata “Memang jika demikian, kalian melahirkan 10 anak sekalipun akan sulit untuk mendapatkan donor yang cocok untuk Monika.” Beberapa lama kemudian, ia memandang Martha dan berkata “Kelihatannya, kalian harus mencari ayah kandung Monika. Barangkali sumsum tulangnya cocok untuk Monika. Tetapi, apakah kalian bersedia membiarkan ia kembali muncul dalam kehidupan kalian ?” Martha berkata : “Demi anak, aku bersedia berlapang dada memaafkannya. Bila ia bersedia muncul menyelamatkannya. Aku tak akan memperkarakannya. ” Dr. Adely merasa terkejut akan kedalaman cinta sang ibu. Martha dan Peterson mempertimbangkannya baik-baik, sebelum akhirnya
memutuskan memuat berita pencarian ini di koran dengan menggunakan nama samaran. November 2002, di koran Wayeli termuat berita pencarian ini,seperti yang digambarkan sebelumnya. Berita ini memohon sang pelaku pemerkosaan waktu itu berani muncul, demi untuk menolong sebuah nyawa seorang anak perempuan penderita leukimia ! Begitu berita ini keluar, tanggapan masyarakat begitu menggemparkan. Kotak surat dan telepon Dr. Adely bagaikan meledak saja, kebanjiran surat masuk dan telepon, orang-orang terus bertanya siapakah wanita ini. Mereka ingin bertemu dengannya, berharap dapat memberikan bantuan padanya.
Tetapi Martha menolak semua perhatian mereka, ia tak ingin mengungkapkan identitas sebenarnya, lebih tak ingin lagi identitas Monika sebagai anak hasil pemerkosaan terungkap. Seluruh media penuh dengan diskusi tentang bagaimana cerita ini berakhir.

Orang hitam itu akan munculkah?

Jika orang hitam ini berani muncul, akan bagaimanakah masyarakat kita sekarang menilainya?

Akankah menggunakan hukum yang berlaku untuk menghakiminya Haruskah ia menerima hukuman dan cacian untuk masa lalunya, ataukah ia harus menerima pujian karena keberaniannya hari ini ? Saat itu berita pencarian juga muncul di Napulese, memporakporandakan perasaan seorang pengelola toko minuman keras berusia 30 tahun. Ia seorang kulit hitam, bernama Ajili. 17 Mei 1992 waktu itu, ia memiliki lembaran terkelam merupakan mimpi terburuknya di malam berhujan itu. Ia adalah sang peran utama dalam kisah ini. Tak seorangpun menyangka, Ajili yang sangat kaya raya itu, pernah bekerja sebagai pencuci piring panggilan.

Dikarenakan orang tuanya telah meninggal sejak ia masih muda, ia yang tak pernah mengenyam dunia pendidikan terpaksa bekerja sejak dini. Ia yang begitu pandai dan cekatan, berharap dirinya sendiri bekerja dengan giat demi mendapatkan sedikit uang dan penghargaan dari orang lain. Tapi sialnya, bosnya merupakan seorang rasialis, yang selalu mendiskriminasikann ya. Tak peduli segiat apapun dirinya, selalu memukul dan memakinya. 17 Mei 1992, merupakan ulang tahunnya ke 20, ia berencana untuk pulang kerja lebih awal merayakan hari ulang tahunnya. Siapa menyangka, ditengah kesibukan ia memecahkan sebuah piring. Sang bos menahan kepalanya, memaksanya untuk menelan pecahan piring. Ajili begitu marah dan memukul sang bos, lalu berlari keluar meninggalkan restoran.

Di tengah kemarahannya ia bertekad untuk membalas dendam pada si kulit putih. Malam berhujan lebat, tiada seorangpun lewat, dan di parkiran ia bertemu Martha. Untuk membalaskan dendamnya akibat pendiskriminasian, ia pun memperkosa sang wanita yang tak berdosa ini.

Tapi selesai melakukannya, Ajili mulai panik dan ketakutan. Malam itu juga ia menggunakan uang ulang tahunnya untuk membeli tiket KA menuju Napulese, meninggalkan kota ini.Di Napulese, ia bertemu keberuntungannya. Ajili mendapatkan pekerjaan dengan lancar di restoran milik orang Amerika. Kedua pasangan Amerika ini sangatlah mengagumi kemampuannya, dan penikahkannya dengan anak perempuan mereka, Lina, dan pada akhirnya juga mempercayainya untuk mengelola toko mereka.

Beberapa tahun ini, ia yang begitu tangkas,tak hanya memajukan bisnis toko minuman keras ini, ia juga memiliki 3 anak yang lucu. Di mata pekerja lainnya dan seluruh anggota keluarga, Ajili merupakan bos yang baik, suami yang baik, ayah yang baik. Tapi hati nuraninya tetap membuatnya tak melupakan dosa yang pernah diperbuatnya. Ia selalu memohon ampun pada Tuhan dan berharap Tuhan melindungi wanita yang pernah diperkosanya, berharap ia selalu hidup damai dan tentram. Tapi ia menyimpan rahasianya rapat-rapat, tak memberitahu seorangpun.

Pagi hari itu, Ajili berkali-kali membolak-balik koran, ia terus mempertimbangkan kemungkinan dirinyalah pelaku yang dimaksud. Sedikitpun ia tak pernah membayangkan bahwa wanita malangitu mengandung anaknya, bahkan menanggung tanggung jawab untuk memelihara dan menjaga anak yang awalnya bukanlah miliknya. Hari itu, Ajili beberapa kali mencoba menghubungi no.Telepon Dr.Adely. Tapi setiap kali, belum sempat menekan habis tombol telepon, ia telah menutupnya kembali. Hatinya terus bertentangan, bila ia bersedia mengakui semuanya, setiap orang kelak akan mengetahui sisi terburuknya ini, anak-anaknya
tak akan lagi mencintainya, ia akan kehilangan keluarganya yang bahagia dan istrinya yang cantik. Juga akan kehilangan penghormatan masyarakat disekitarnya. Semua yang ia dapatkan dengan ditukar kerja kerasnya bertahun-tahun.

Malam itu, saat makan bersama, seluruh keluarga mendiskusikan kasus Martha. Sang istri, Lina berkata : : “Aku sangat mengagumi Martha. Bila aku diposisinya, aku tak akan memiliki keberanian untuk memelihara anak hasil perkosaan hingga dewasa. Aku lebih mengagumi lagi suami Martha, ia sungguh pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat menerima anak yang demikian.”

Ajili termenung mendengarkan pendapat istrinya, dan tiba-tiba mengajukan pertanyaan: “Kalau begitu, bagaimana kau memandang pelaku pemerkosaan itu ?” “Sedikitpun aku tak akan memaafkannya !!! Waktu itu ia sudah membuat kesalahan, kali ini juga hanya dapat meringkuk menyelingkupi dirinya sendiri, ia benar-benar begitu rendah, begitu egois, begitu pengecut ! Ia benar-benar seorang pengecut !” demikian istrinya menjawab dengan dipenuhi api kemarahan.

Ajili mendengarkan saja, tak berani mengatakan kenyataan pada istrinya.

Malam itu, anaknya yang baru berusia 5 tahun begitu rewel tak bersedia tidur, untuk pertama kalinya Ajili kehilangan kesabaran dan menamparnya. Sang anak sambil menangis berkata :”Kau ayah yang jahat, aku tak mau peduli kamu lagi. Aku tak ingin kau menjadi ayahku”. Hati Ajili bagai terpukul keras mendengarnya, ia pun memeluk erat-erat sang anak dan berkata: “Maaf, ayah
tak akan memukulmu lagi. Ayah yang salah, maafkan papa ya.”Sampai sini, Ajili pun tiba-tiba menangis. Sang anak terkejut dibuatnya, dan buru-buru berkata padanya untuk menenangkan ayahnya : “Baiklah, kumaafkan. Guru TK ku bilang, anak yang baik adalah anak yang mau memperbaiki kesalahannya. “Malam itu, Ajili tak dapat terlelap, merasa dirinya bagaikan terbakar dalam neraka. Di matanya selalu terbayang kejadian malam berhujan deras itu, dan bayangan sang wanita. Ia sepertinya dapat
mendengarkan jerit tangis wanita itu. Tak henti-hentinya ia bertanya pada dirinya sendiri : “Aku ini sebenarnya orang baik, atau orang jahat ?”

Mendengar bunyi napas istrinya yang teratur, ia pun kehilangan seluruh keberaniannya untuk berdiri. Hari kedua, ia hampir tak tahan lagi rasanya. Istrinya mulai merasakan adanya ketidakberesan pada dirinya, memberikan perhatian padanya dengan menanyakan apakah ada masalah Dan ia mencari alasan tak enak badan untuk meloloskan dirinya. Pagi hari di jam kerja, sang karyawan menyapanya ramah : “Selamat pagi, manager !” Mendengar itu, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat pasi, dalam hati dipenuhi perasaan tak menentu dan rasa malu. Ia merasa dirinya hampir menjadi gila saja rasanya. Setelah berhari-hari memeriksa hati nuraninya, Ajili tak dapat lagi terus diam saja, iapun menelepon Dr. Adely. Ia berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya supaya tetap tenang : “Aku ingin mengetahui keadaan anak malang itu.”

Dr. Adely memberitahunya, keadaan sang anak sangat parah. Dr.Adely menambahkan kalimat terakhirnya berkata :”Entah apa ia dapat menunggu hari kemunculan ayah kandungnya.” Kalimat terakhir ini menyentuh hati Ajili yang paling dalam, suatu perasaan hangat sebagai sang ayah mengalir keluar, bagaimanapun anak itu juga merupakan darah dagingnya sendiri ! Ia pun membulatkan tekad untuk menolong Monika. Ia telah melakukan kesalahan sekali, tak boleh kembali membiarkan dirinya meneruskan kesalahan ini. Malam hari itu juga, ia pun mengobarkan keberaniannya sendiri untuk memberitahu sang istri tentang segala rahasianya. Terakhir ia berkata : “Sangatlah mungkin bahwa aku adalah ayah Monika. Aku harus menyelamatkannya. ” Lina sangat terkejut, marah dan terluka, mendengar semuanya, ia berteriak marah :”Kau PEMBOHONG !”

Malam itu juga ia membawa ketiga anak mereka, dan lari pulang ke rumah ayah ibunya. Ketika ia memberitahu mereka tentang kisah Ajili, kemarahan kedua suami-istri tersebut dengan segera mereda. Mereka adalah dua orang tua yang penuh pengalaman hidup, mereka menasehatinya : “Memang benar, kita patut marah terhadap segala tingkah laku Ajili di masa lalu. Tapi pernahkah kamu memikirkan, ia dapat mengulurkan dirinya untuk muncul, perlu berapa banyak keberanian besar. Hal ini membuktikan bahwa hati nuraninya belum sepenuhnya terkubur. Apakah kau mengharapkan seorang suami yang pernah melakukan kesalahan tapi kini bersedia memperbaiki dirinya, ataukah seorang suami yang selamanya menyimpan kebusukan ini didalamnya ?” Mendengar ini Lina terpekur beberapa lama.

Pagi-pagi di hari kedua, ia langsung kembali ke sisi Ajili, menatap mata sang suami yang dipenuhi penderitaan, Lina menetapkan hatinya berkata : “Ajili, pergilah menemui Dr. Adely ! Aku akan menemanimu !”

3 Februari 2003, suami istri Ajili, menghubungi Dr. Adely. 8 Februari, pasangan tersebut tiba di RS Elisabeth, demi untuk pemeriksaan DNA Ajili. Hasilnya Ajili benar-benar adalah ayah Monika. Ketika Martha mengetahui bahwa orang hitam pemerkosanya itu pada akhirnya berani memunculkan dirinya, ia pun tak dapat menahan air matanya. Sepuluh tahun ini ia terus memendam dendam kesumat terhadap Ajili, namun saat ini ia hanya dipenuhi perasaan terharu. Segalanya berlangsung dalam keheningan. Demi untuk melindungi pasangan Ajili dan pasangan Martha, pihak RS tidak mengungkapkan dengan jelas identitas mereka semua pada media, dan juga tak bersedia mengungkapkan keadaan sebenarnya, mereka hanya memberitahu media bahwa ayah kandung Monika telah ditemukan. Berita ini mengejutkan seluruh pemerhati berita ini. Mereka terus-menerus menelepon, menulis surat pada Dr. Adely, memohon untuk dapat menyampaikan kemarahan mereka pada orang hitam ini, sekaligus penghormatan mereka padanya. Mereka berpendapat : “Barangkali ia pernah melakukan tindak pidana, namun saat ini ia seorang pahlawan !”

10 Februari, kedua pasangan Martha dan suami memohon untuk dapat bertemu muka langsung dengan Ajili. Awalnya Ajili tak berani untuk menemui mereka, namun pada permohonan ketiga Martha, iapun menyetujui hal ini. 18 Februari, dalam ruang tertutup dan dirahasiakan di RS, Martha bertemu langsung dengan Ajili.

Ajili baru saja memangkas rambutnya, saat ia melihat Martha, langkah kakinya terasa sangatlah berat, raut wajahnya memucat. Martha dan suaminya melangkah maju, dan mereka bersama-sama saling menjabat tangan masing-masing, sesaat ketiga orang tersebut diam tanpa suara menahan kepedihan, sebelum akhirnya air mata mereka bersama-sama mengalir.

Beberapa waktu kemudian, dengan suara serak Ajili berkata : “Maaf…mohon maafkan aku ! Kalimat ini telah terpendam dalam hatiku selama 10 tahun. Hari ini akhirnya aku mendapat kesempatan untuk mengatakannya langsung kepadamu.” Martha menjawab :”Terima kasih kau dapat muncul. Semoga Tuhan memberkati, sehingga sumsum tulang belakangmu dapat menolong putriku”.

19 Februari, dokter melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang Ajili. Untungnya, sumsum tulang belakangnya sangat cocok bagi Monika. Sang dokter berkata dengan antusias : “Ini suatu keajaiban !”

22 Februari 2003, sekian lama harapan masyarakat luas akhirnya terkabulkan. Monika menerima sumsum tulang belakang Ajili, dan pada akhirnya Monika telah melewati masa kritis. Satu minggu kemudian, Monika boleh keluar RS dengan sehat walafiat. Martha dan suami memaafkan Ajili sepenuhnya, dan secara khusus mengundang Ajili dan Dr. Adely datang kerumah mereka untuk merayakannya.

Tapi hari itu Ajili tidak hadir, ia memohon Dr. Adely membawa suratnya bagi mereka. Dalam suratnya ia menyatakan penyesalan dan rasa malunya berkata :”Aku tak ingin kembali mengganggu kehidupan tenang kalian. Aku berharap Monika berbahagia selalu hidup dan tumbuh dewasa bersama kalian. Bila kalian menghadapi kesulitan bagaimanapun, harap hubungi aku, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu kalian”.

“Saat ini juga, aku sangat berterima kasih pada Monika, dari dalam lubuk hatiku terdalam, dialah yang memberiku kesempatan untuk menebus dosa. Dialah yang membuatku dapat memiliki kehidupan yang benar-benar bahagia di saparoh usiaku selanjutnya. Ini adalah hadiah yang ia berikan padaku !”

( Italia post)

Terkadang dosa-dosa masa lalu kita masih terus membayangi kita, dan walaupun mungkin kita sudah bahagia dengan kehidupan kita yang sekarang, tetapi selalu saja terbayang dengan dosa-dosa masa lalu kita.

Yang menjadi bahan renungan aku dari cerita ini : Jika pada saatnya Tuhan membuka kesempatan bagi aku untuk meminta maaf atas segala dosa-dosaku, apakah aku akan berani seperti Ajili ini untuk mengakui semua dosa-dosaku, walaupun dengan taruhan aku akan kehilangan semuanya. Tuhan itu begitu baik … pada saat Dia mengetahui bahwa kita masih menderita akan dosa-dosa masa lalu kita, Dia membuka jalan bagi kita untuk meminta maaf dan membersihkan hati kita, yang memungkinkan kita untuk menyambut masa depan tanpa ada rasa terbeban lagi dalam hati kita.

Email This Post Email This Post

Belajar Bisnis Internet dengan Software Khusus Bersama Saya - Gratis

Email This Post Email This Post

Anda seorang pemula atau baru saja tertarik untuk menggeluti bisnis Internet?

Kalau iya, mari belajar bersama saya.

Saya mungkin bukan atau belum bisa disebut sebagai pebisnis Internet yang berhasil, tapi saya punya pengalaman sekitar 2 tahun secara part-time mempelajari berbagai hal tentang bisnis Internet, misalnya ini.

Saya tidak menjanjikan bahwa saya tahu segalanya tentang bisnis ini, namun justru karena itu, saya sangat memahami posisi Anda yang mungkin baru mau mulai belajar dan bingung, “Bagaimana saya harus memulai?”.

Berbeda dengan “kursus” bisnis Internet lain, di sini saya menawarkan kursus Internet yang memiliki beberapa ciri:

  1. No cost alias tidak ada biaya apa pun.
  2. Interaktif, saya bersedia menjawab pertanyaan Anda, yang paling berat sekali pun.
  3. Memadukan keingintahuan Anda dan keingintahuan saya untuk menggeluti bidang-bidang tertentu yang mungkin sedang menjadi tren, seperti misalnya “Web 2.0″ dan “Social Marketing”.
  4. Pendekatan sebagai “teman” dalam belajar, bukan sebagai “guru”.
  5. Menggunakan software-software khusus yang akan saya buat untuk membantu bisnis Internet, GRATIS.

Mungkin kelebihan pendekatan yang saya tawarkan ada di poin 5 (software khusus bisinis Internet gratis). Saat ini, saya sedang memulai pembuatan software khusus gratis yang akan menjadi semacam “manajer proyek” untuk bisnis Internet Anda. Dengan software ini, Anda akan dibimbing tahap demi tahap untuk sampai pada pendirian sebuah bisnis Internet, dari nol hingga tercipta bisnis di Internet.

Tertarik? Silakan mendaftar di sini.

Setelah mendaftar, silakan berkomentar apa pun tentang usulan ini, kemudian ajukan juga usulan tentang topik apa yang pertama kali ingin kita bahas.

Email This Post Email This Post

Ferli’s Fundamental Principles of Reality Dynamics

Email This Post Email This Post

Just got my own ideas of what makes everything ‘tick’ in the universe, including us, humans.

Here it comes: Ferli’s Fundamental Principles of Reality Dynamics:

  1. Principle of Fundamental Element of Reality: everything is a pattern. Our thoughts are patterns, and so is every atom of our body.
  2. Principle of No Separation: patterns always interact each other. The more meaningful the interaction, the better.
  3. Principle of Expression: patterns always has the objective of expressing itself. The more expressive the patterns (thoughts, atoms), the better.
  4. Principle of Expansion/Inclusion: patterns need to expand. The more inclusive the pattern, the better.
  5. Principle of Low Entropy: patterns love order.

While the list seem to be unrelated to personal development or other human endeavor, it actually has everything to do with it. From those fundamental principles, many of the other life principles can be derived.

For example:

  • Love = a thought pattern expressing unity/no separation with other pattern (#1, #2, #3).
  • Courage = a thought pattern expressing expansion (#1, #2, #4).
  • Creativity = a thought pattern expressing its expressiveness (#1, #3).
  • Pro-activity = a thought pattern expressing expressiveness and expansion in the purpose of maintaining self-order (#1, #4, #5).
  • Purpose = a thought pattern expressing its inclination towards a greater pattern (#1, #4).
  • The Whole Existence = a single pattern that is the superset of all patterns, including itself (Principle #1).

What do you think?

Email This Post Email This Post

Kau Pikir Siapakah Diriku?

Email This Post Email This Post

Aku bukanlah namaku.

Aku bukanlah jabatanku.

Aku bukanlah statusku.

Aku bukanlah pendidikanku.

Aku bukanlah hartabendaku.

Aku bukanlah keberhasilanku.

Aku bukanlah kegagalanku.

Aku bukanlah tubuhku.

Aku bukanlah pikiranku.

Aku bukanlah perasaan-perasaanku.

Aku bukanlah masalaluku.

Aku bukanlah masadepanku.

Aku bahkan bukanlah saatkiniku.

tetapi …

Aku adalah sebentuk energi.

Aku adalah sebentuk cahaya.

Aku adalah makhluk spiritual yang sedang menjalani pengalaman fisik.

Aku adalah sebentuk kesadaran yang mencari pengungkapan diri lebih luas dan lebih dalam.

Aku adalah setitik kesadaran yang rindu utuh menyatu dengan Sang Maha Kesadaran.

Aku tak berwaktu.

Email This Post Email This Post

Menguji Law of Attraction dengan Metoda Ilmiah

Email This Post Email This Post

Di Milis Profec (theprofec [at] yahoogroups.com, thread http://finance.groups.yahoo.com/group/TheProfec/message/23896), Pak Susanto Salim mengajukan saran untuk menguji secara ilmiah Law of Attraction sebagai berikut:

“Sebenarnya tidak rumit jika kita memang ingin menguji teori motivasi ala LOA. Cukup kumpulkan pakar LOA, minta mereka bikin metode pelatihan dan definisi yang jelas, terus bikin dua grup yang dipilih secara acak. Kelompok satu adalah yang mendapat teori dan mempraktekan LOA dan kelompok dua adalah kelompok kontrol (dalam arti menjalani hidup seperti biasa, tidak mendapat training LOA). Kemudian buat seperangkat parameter yang bisa diukur untuk menunjukkan kelompok mana yang lebih oke seiring dengan berjalannya waktu.

Jika sesuatu tidak bisa diukur atau diteliti dampaknya, bagaimana kita tahu bahwa sesuatu itu benar2 bekerja/membawa hasil? Dan kalau definisinya aja beda antara orang yang satu dengan yang lain, bagaimana bisa diukur?

btw, dalam film the secret salah satu guru mengatakan bahwa LOA itu kayak hukum gravitasi, dalam arti kalau pun Anda tidak percaya si hukum akan tetap bekerja. Seperti gravitasi, meski Anda gak percaya adanya gravitasi, tetap wae Anda akan jatuh ke bawah (terikat hukum gravitasi).”

Pendapat saya, menguji kesahihan LoA menggunakan metoda scientific control seperti yang dianjurkan di atas, saya kuatir, tidaklah sesederhana yang kita bayangkan …

Kesulitan Pertama: LoA Tidak Bisa “Dilatihkan”

LoA menurut saya bukanlah suatu teori motivasi yang bisa dilatihkan dan dipraktekkan, tapi lebih merupakan (bagian dari) suatu sistem kepercayaan atau sistem kesadaran.

Mengapa? Karena kita bisa saja mengetahui dan terampil tentang LoA (keadaan di tingkat intelektual), tapi sambil tetap tidak percaya (keadaan di tingkat emosional-spiritual). Bisa juga sebaliknya: kita tidak mengenal apa itu LoA tapi sesungguhnya sistem kepercayaan kita sehari-hari sudah secara otomatis menerapkan LoA.

Untuk menggunakan LoA, pendukung terpentingnya bukanlah “pengetahuan” atau “keterampilan” tentang LoA, tapi “niat” atau “keputusan” untuk percaya tentang pola kesadaran LoA (atau apa pun namanya).

Secara singkat, LoA adalah fenomena kesadaran kepercayaan, bukan pengetahuan.

Kesulitan Kedua: “Penerapan LoA” Tidak Bisa Diamati dari Luar

Kepercayaan pada LoA adalah keadaan yang terjadi dalam kesadaran kita. Siapakah yang bisa mengamati keadaan kesadaran kita yang sesungguhnya, selain kesadaran kita sendiri?

Katakanlah Kelompok A adalah kelompok yang “dilatihkan” LoA (treatment group) dan Kelompok B adalah kelompok yang “tidak dilatihkan” LoA (control group), pertanyaannya: bagaimana kita mengamati keadaan kesadaran Kelompok A dan Kelompok B? Yang bisa kita amati hanyalah ucapan dan tindakan mereka, tapi ucapan dan tindakan belum tentu konsisten, bahkan bisa jadi bertentangan dengan kepercayaan terdalam yang ada di kesadaran mereka.

Di sini kita menghadapi kesulitan mengamati atau mengukur kesadaran, karena satu-satunya alat ukur atau alat pengamatan untuk kesadaran, adalah kesadaran itu sendiri.

Mengamati kesadaran dengan kesadaran, adalah sama seperti halnya mengamati energi dengan energi, atau mengamati materi dengan materi. Hal itu bisa dilakukan, tapi tidak bisa tanpa adanya disturbansi atau gangguan pada sasaran atau objek pengamatan, yang akhirnya membuat hasil pengamatan kita juga tidak sahih (corrupted).

Bayangkanlah komplikasinya mengamati api hanya dengan api sendiri sebagai alat ukur, atau mengamati batu hanya menggunakan batu (perhatikan, “hanya” di situ artinya betul-betul “hanya”, artinya lagi, tidak ada alat pengamatan lain yang digunakan, bahkan tidak juga panca indra kita).

Begitu jugalah komplikasinya kalau kita mau mengamati kesadaran, karena satu-satunya alat pengamatan kita untuk kesadaran adalah kesadaran itu sendiri.

Pertanyaan Pak Susanto Salim: “Jika sesuatu tidak bisa diukur atau diteliti dampaknya, bagaimana kita tahu bahwa sesuatu itu benar2 bekerja/membawa hasil? Dan kalau definisinya aja beda antara orang yang satu dengan yang lain, bagaimana bisa diukur?”

Tanggapan saya: “Apakah kita bisa mengamati atau mengukur kesadaran kita secara objektif? Kalau iya, bagaimanakah caranya (sains dewasa ini hanya mampu mengamati sinyal otak, bukan mengamati kesadaran)? Kalau tidak, mengapa tetap saja kesadaran ini ada dan bekerja? Apakah ada definisi objektif tentang ‘kesadaran’ yang lepas dari kesadaran itu sendiri?”

Pernyataan Pak Susanto Salim: “Dalam film The Secret salah satu guru mengatakan bahwa LoA itu kayak hukum gravitasi, dalam arti kalau pun Anda tidak percaya si hukum akan tetap bekerja. Seperti gravitasi, meski Anda gak percaya adanya gravitasi, tetap wae Anda akan jatuh ke bawah (terikat hukum gravitasi)”.

Tanggapan saya: “Meski kita tidak percaya LoA, LoA tetap bekerja. Sungguh. Katakanlah kita tidak percaya bahwa pikiran dan keyakinan kita tidak akan menjadi kenyataan, maka ketika pikiran dan keyakinan kita itu tidak menjadi kenyataan, itu adalah bukti bahwa LoA bekerja: bahwa apa pun yang kita percayai akan menjadi kenyataan, termasuk kepercayaan akan ketidakpercayaan terhadap LoA.”

Email This Post Email This Post

Penjelasan (Tak Terlalu) Ilmiah tentang Law of Attraction

Email This Post Email This Post

Apakah ada sesuatu yang bisa kita pelajari dari kontroversi ilmiah (atau tak imiah) tentang Law of Attraction? LoA menjadi topik yang hangat sejak video The Secret populer, salah satunya karena ditayangkan dalam Oprah Winfrey Show.

Apakah LoA? Bagi yang belum tahu, LoA sederhananya adalah hukum yang menyatakan bahwa “Apa pun yang kita pikirkan dan percayai secara konsisten, pada akhirnya akan menjadi kenyataan.”

Sederhana bukan? Bagi sementara orang, pernyataan ini secara intuitif sudah terasa benar. Bagi sebagian orang lain, pernyataan ini ditatap dengan pandangan penuh kesangsian.

Sementara, Metoda ilmiah adalah suatu metoda penjelasan yang secara sederhana mencakup langkah-langkah berikut: pengamatan, pembuatan hipotesis, pengujian hiptesis, pembuatan kesimpulan, pembuatan prediksi, dan kembali ke langkah pengamatan untuk menguji prediksi tersebut.

Ada harapan, bahwa dengan Metoda Ilmiah, maka kita bisa mencapai kesimpulan tunggal tentang benar atau tidaknya LoA.

Tetapi, Apakah Metoda Ilmiah itu Akurat?

Jika ilmu memiliki tujuan mempelajari kenyataan, apakah Metoda Ilmiah dengan langkah-langkah di atas memungkinkan kita untuk mempelajari kenyataan secara akurat?

Sayangnya: tidak. Metoda Ilmiah memiliki asumsi dan batasan bahwa yang ia pelajari adalah kenyataan objektif. Kenyataan objektif adalah sejenis kenyataan yang keberadaan dan kelangsungannya tidak tergantung kepada pengamat. Pengamat dan objek pengamatan harus selalu terpisah, karena jika tidak, maka hasil pengamatannya menjadi tidak sahih lagi. Itulah sebabnya salah satu tolok ukur dalam Metoda Ilmiah adalah hasil pengamatan dan pengujian harus selalu bisa diulang, selalu bisa diperlihatkan kembali, oleh siapa pun yang melakukan pengkajian ilmiah tersebut.

Kembali lagi: apakah Metoda Ilmiah memungkinkan kita untuk mempelajari kenyataan secara akurat? Saya tegaskan lagi, tidak: Metoda Ilmiah hanya akurat apabila yang kita pelajari adalah Kenyataan Objektif.

Sementara, ada yang lain di luar wilayah Kenyataan Objektif.

Kenyataan Subjektif

Apabila ada Kenyataan Objektif, maka tentunya harus ada Kenyataan Subjektif, bukan? Kedengarannya kontradiktif, tapi apabila seseorang hanya percaya pada Kenyataan Objektif, maka artinya ia harus memutuskan bahwa pikiran-pikirannya “tidak ada”, karena pikiran pada dasarnya adalah Kenyataan Subjektif, yakni kenyataan yang tidak bisa dilepaskan dari si pengamat.

Pikiran, pada dasarnya adalah salah satu alat bantu pengamatan, persis seperti halnya mikroskop atau kacamata, hanya saja ia “tertanam lebih dalam” di kepala kita. Cara berpikir saya berbeda dengan cara berpikir Anda, bukan? Dengan demikian, kita memiliki alat bantu pengamatan yang berbeda juga.

Seperti halnya apabila saya memakai kacamata biru, dan Anda memakai kacamata merah. Apabila saya setiap saat selalu mengenakan kacamata biru, maka kesimpulan pengamatan saya adalah: “Semua di dunia ini berwarna biru.” Tetapi tentu saja ini akan bertentangan dengan hasil pengamatan Anda yang menyatakan bahwa: “Semua di dunia ini berwarna merah.”.

Cara berpikir kita, pada dasarnya sama dengan “kacamata berwarna” yang tertanam dalam kepala kita. Dua orang yang tidak menyadari bahwa masing-masing memakai alatbantu yang mempengaruhi hasil pengamatan mereka, memiliki potensi untuk bertengkar tidak berkesudahan tanpa ada kesepakatan apa pun.

Sama, seperti halnya mereka yang tidak percaya pada LoA dan menyatakan bahwa LoA tidak efektif, tidak berhasil. Hal itu benar.

Tetapi bila ada yang sepenuh hati percaya pada LoA dan menyatakan bahwa LoA efektif dan berhasil, maka hal itu juga benar.

Atau mereka yang baru pada tahap “ingin percaya” tapi sesungguhnya “belum percaya” pada LoA, masih ada pertentangan kepercayaan dalam diri, masih ada proses sabotasi-diri, sehingga mereka bisa sampai pada kesimpulan bahwa LoA tidak efektif. Mereka juga benar.

Tetapi satu hal: dalam berbagai kasus di atas, ada hal yang konsisten, yakni bahwa LoA tidak melanggar hukumnya sendiri. Tidak ada kontradiksi-diri dalam pernyataan hukum di atas.

Jadi, Bagaimanakah Cara Menguji Kebenaran Law of Attraction?

Meski LoA berada di luar wilayah Kenyataan Objektif sehingga tidak bisa kita terapkan Metoda Ilmiah untuknya, masih ada metoda lain yang bisa kita gunakan.

Yaitu metoda eksperensial, atau metoda pengalaman dan penghayatan.

Lepaskanlah “kacamatan merah” Anda (ketakpercayaan pada LoA), dan cobalah kenakan “kacamata biru” (kepercayaan pada LoA). Kenakanlah dengan sungguh-sungguh, dengan sepenuh hati.

Amatilah dengan seksama apa yang menjadi berbeda setelah “kacamata biru” Anda kenakan. Apakah hidup kita terasa lebih bisa dinikmati? Apakah kita lebih bisa mengendalikan pikiran dan emosi kita ke arah yang kita inginkan? Apakah kita mulai bisa melihat bahwa sebagian besar kendali hidup kita ada di tangan kita?

Apabila jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas adalah “Ya”, maka selamat. Silakan Anda pilih, apakah akan kembali mengenakan “kacamata merah” atau tetap mengenakan “kacamata biru”.

Apabila jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas adalah “Tidak”, maka selamat juga: Silakan Anda pilih, apakah akan kembali mengenakan “kacamata merah” atau tetap mengenakan “kacamata biru”.

Karena pada akhirnya, semua adalah masalah pilihan.

Kalau saya, saya akan memilih kepercayaan yang memberdayakan, bukan yang membatasi.

Email This Post Email This Post