Whistleblower Whistleblower

Padanan istilah “whistleblower” apa sih?

Pertanyaan itu sebenarnya sudah lama bergelayut di pikiran saya. Selama ini, saya pikir “peniup peluit” sudah cukup mewakili, walau pun memang terasa terlalu harfiah, tidak enak untuk digunakan dalam ungkapan lisan mau pun tulisan.

Tetapi kemudian saya “terusik” ketika seorang rekan di kantor menunjukkan berita di tribunnews.com dengan judul “SKK Migas Buka Lowongan ‘Pembisik’“.

Ternyata istilah ‘Pembisik’ di situ diartikan oleh penulisnya sebagai padanan dari kata ‘whistleblower’:

Kepala pelaksana tugas SKK Migas Johanes Widjonarko mengatakan pihaknya membuka wadah bagi seluruh masyarakat yang ingin menjadi whistle blower atau pembisik. Dalam hal ini, Widjonarko menjelaskan whistle blower untuk menambah pengawasan dari masyarakat di dalam tubuh SKK Migas.

Walah. Salah kaprah luar biasa nih tribunnews. Yang pertama, istilah ‘lowongan’ mengindikasikan seolah ini adalah lowongan pekerjaan, menggiring pada pemahaman keliru bahwa ini suatu ‘kesempatan menjadi pegawai’ yang melibatkan proses rekrutmen dan pada akhirnya memperoleh bayaran atau gaji.

Rekan kerja tersebut men-share berita ini dengan pembukaan berita di email “Tertarik?”. Kesalahpahaman ini jelas diawali oleh kekeliruan judul tulisan yang menggunakan kata ‘lowongan’. Padahal seorang whistleblower tidak direkrut dan tidak dibayar. Malah, seorang whistleblower harus menanggung risiko hukum dan ekonomi (misal dipecat dari pekerjaannya dan dituntut oleh penguasa), seperti yang terjadi terhadap Bradley Manning sebagai whistleblower dalam kasus publikasi dokumen diplomatik Amerika di Wikileaks yang dimotori oleh Julian Assange, Edward Snowden dalam kasus penyadapan saluran komunikasi massal oleh NSA (National Security Agency) Amerika Serikat, atau seperti kasus Susno Duadji yang menjadi whistleblower dalam kasus pajak dan pelanggaran hukum oleh oknum kepolisian di Indonesia.

Kekeliruan kedua adalah penggunaan istilah ‘pembisik’ sebagai padanan ‘whistleblower’. Di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), ‘pembisik’ secara sederhana didefinisikan sebagai “n 1 orang yang membisikkan sesuatu kepada orang lain; 2 orang yang bertugas membisikkan apa yang harus dikatakan oleh pemain lain dalam sandiwara;”. Jelas bahwa makna ke-2 tidak cocok sebagai padanan ‘whistleblower’. Makna pertama sedikit lebih cocok, namun makna ini sangat umum, tidak cukup spesifik dalam mewakili makna ‘whistleblower’ yang kita maksudkan di sini.

Dalam konteks politik atau kekuasaan, istilah ‘pembisik’ lebih condong kepada pengertian ‘orang yang mampu mempengaruhi secara diam-diam atas pikiran atau pendapat tokoh atau pejabat yang dekat secara pribadi dengannya’. Pengertian ini juga tergambar dalam artikel ini, dengan kutipan sebagai berikut:

Berbicara ciri-ciri pembisik yaitu mampu mempengaruhi orang, biasanya orang yang dekat, mampu mengusai informasi, dan lebih terkesan bermain di belakang layar. Fenomena munculnya perilaku pembisik, lebih disebabkan kelemahan dari personal seseorang. Sehingga mudah di arah oleh orang yang membisikan. Bentuk kelemahan dari kepemimpinan (leadership), kurang intelektual dan kepercayaan diri, sehingga gampang di pengaruhi bisikan-bisikan dari pelaku pembisik.

Contoh lain dari penggunaan istilah ‘pembisik’ adalah ini:

Ketika Presiden SBY memberikan grasi kepada Meirika Franola dengan menganulir vonis hukuman mati jadi penjara seumur hidup, tapi setahun kemudian terbukti Olla masih aktif mengendalikan perdagangan narkoba internasional, Presiden SBY berdalih bahwa beliau mendapatkan informasi Olla hanyalah kurir biasa, bukan bandar. Entah siapa “pembisik” yang telah membuat Presiden SBY tergelincir mengambil keputusan yang keliru. Meski dalam pidatonya SBY terang-terangan menyebut ada yang memberinya informasi salah soal Olla, tapi SBY masih menutupi siapa pembisik sesat tersebut.

Dengan demikian, jelas, bahwa ‘pembisik’ bukan padanan yang tepat untuk ‘whistleblower‘.

Di Wikipedia Indonesia, ternyata istilah ‘whistleblower’ dipadankan dengan ‘pengungkap aib’. Istilah ini juga terlalu umum dan kurang pas, karena beberapa penggunaan istilah ini — peristiwa pengungkapan aib keluarga, misalnya — tidak bisa diasosiasikan dengan istilah ‘whistleblower’. Apakah ‘whistleblowing system‘ dengan demikian memiliki padanan ‘sistem pengungkapan aib’? Rasanya koq janggal sekali ya.

Ternyata upaya pendefinisian dan pemahaman atas istilah ‘whistleblower‘ sudah dilakukan oleh LSPK, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. Dalam buku “Memahami Whistleblower, dinyatakan bahwa istilah ini suka dipadankan dengan istilah ‘peniup peluit’, ‘saksi pelapor’, atau ‘pengungkap fakta’. Di buku itu pula disebutkan bahwa Mahkamah Agung RI telah memberikan terjemahan ‘whistleblower‘ sebagai ‘pelapor tindak pidana yang mengetahui dan melaporkan tindak pidana tertentu dan bukan bagian dari pelaku kejahatan yang dilaporkannya’.

Pemadanan ‘whistleblower’ dengan ‘saksi pelapor’ kurang tepat karena penggunaan istilah ‘saksi’ bertentangan dengan prinsip anonimitas (kerahasiaan identitas pelapor) yang biasanya diusung konsep ‘whistleblower‘. Anonimitas dalam whistleblowing system biasanya menjadi hal yang bersifat pilihan (opsional), tapi tidak dilarang (ini menunjukkan bahwa whistleblowing system pada dasarnya adalah sejenis proses pengiriman surat kaleng yang ditingkatkan derajat keterpercayaan dan pertanggungjawabannya).

Penggunaan ‘pelapor fakta’ sebagai padanan ‘whistleblower‘ juga kurang pas karena dengan demikian setiap orang yang melaporkan fakta dapat dianggap sebagai ‘whistleblower‘, dan ini mencakup banyak orang yang menjalankan profesinya dengan melaporkan fakta setiap hari, semisal wartawan atau pembawa berita.

Selanjutnya, pengertian yang ditawarkan oleh Mahkamah Agung RI — bahwa ‘whistleblower‘ adalah  ‘pelapor tindak pidana yang mengetahui dan melaporkan tindak pidana tertentu dan bukan bagian dari pelaku kejahatan yang dilaporkannya‘ — menurut saya memiliki beberapa masalah:

  1. Pelekatan definisi ‘whistleblower‘ pada ‘tindak pidana’ berpotensi mengeliminasi kemungkinan bahwa pelanggaran bisa terjadi di luar ranah pidana. Misalnya, kasus benturan kepentingan atau conflict of interest adalah sesuatu yang bisa dilaporkan sebagai pelanggaran, meski belum menyentuh ranah hukum pidana. Lihat situs whistleblowing system SKK Migas ini, di mana dari 7 (tujuh) kategori pelanggaran (korupsi, pelanggaran pedoman etika, pelanggaran pedoman pengendalian gratifikasi, kecurangan, benturan kepentingan, pelecehan, dan penyebaran atau pembocoran rahasia perusahaan), 2 (dua) di antaranya tidak masuk dalam kategori tindak pidana (pelanggaran pedoman etika dan benturan kepentingan).
  2. Definisi Mahkamah Agung tidak memberi ruang pada kemungkinan bahwa pelaporan pelanggaran itu sendiri mungkin keliru. Tidak terdapatnya unsur ‘dugaan’ dalam definisi dari MA mengindikasikan hal ini. Padahal prinsip atau azas praduga tak bersalah tetap penting untuk dijaga dalam proses pelaporan (dan tentunya penyelidikan) dugaan pelanggaran ini.
  3. Frasa ‘… dan bukan bagian dari pelaku kejahatan yang dilaporkannya’ juga bermasalah. Bagaimana bila pelapor memang menjadi bagian dari pelanggaran, tapi kemudian berubah pikiran dan melakukan pelaporan?

Ketika saya mencari di Google dengan kata-kata pencarian “padanan whistleblower”, saya menemukan tweet dari Ivan Lanin menempati posisi pertama di hasil pencarian, sebagai berikut:

Ternyata tweet tersebut sudah ada sejak sekitar 3,5 tahun lalu (April 2010).

Tweet tersebut saya jawab sebagai berikut:

Dari berbagai bacaan atau pemikiran terkait istilah ‘whistleblower‘, saya mengusulkan padanan sederhananya adalah ‘pengungkap indikasi pelanggaran’ atau ‘pengungkap dugaan pelanggaran‘. Lebih singkat dan padat, tidak terbatas pada ranah hukum pidana, taat pada azas praduga tak bersalah, dan sepertinya paling enak didengar dan diucapkan.

Wikipedia Bahasa Inggris sendiri mendefinisikan ‘whistleblower’ sebagai berikut:

A whistleblower (whistle-blower or whistle blower) is a person who exposes misconduct, alleged dishonest or illegal activity occurring in an organization. The alleged misconduct may be classified in many ways; for example, a violation of a law, rule, regulation and/or a direct threat to public interest, such as fraud, health and safety violations, and corruption. Whistleblowers may make their allegations internally (for example, to other people within the accused organization) or externally (to regulators, law enforcement agencies, to the media or to groups concerned with the issues).

Dengan demikian, melengkapi pemadanan ‘whistleblower‘ kepada ‘pengungkap dugaan pelanggaran’kita juga bisa memberi definisi lebih lengkap atas istilah ini, sebagai berikut:

Seorang pengungkap dugaan pelanggaran (‘whistleblower’) adalah seseorang yang membeberkan dugaan pelanggaran, ketidakjujuran, atau aktivitas melawan hukum  yang terjadi dalam suatu organisasi. Dugaan pelanggaran mungkin masuk dalam kategori pelanggaran hukum, pelanggaran aturan, pelanggaran regulasi dan/atau ancaman terhadap kepentingan umum seperti penipuan, pelanggaran ketentuan tentang kesehatan dan keamanan, dan korupsi. Pengungkapan dugaan pelanggaran bisa bersifat internal (melaporkan seseorang lain dalam organisasi yang sama) atau eksternal (melapor kepada regulator, lembaga penegak hukum, media massa, atau kelompok yang berkepentingan dengan masalah tertentu).

Dengan demikian juga, istilah terkait lainnya ‘Whistleblowing System’ dapat dibuat padanannya sebagai ‘Sistem Pengungkapan Dugaan Pelanggaran’, dan ‘Whistleblower System‘ dapat dipadankan dengan ‘Sistem Pengungkap Dugaan Pelanggaran’.

 

Rujukan:

SKK Migas Buka Lowongan ‘Pembisik’ – Tribunnews

Bradley Manning_ Victimized by Police State Injustice _ Veterans Today

SKKMIGAS » Kawal SKK Migas

sema 04 tahun 2011

Menunggu whistle blower buka tas hitam

Pembisik yang Menggelincirkan

Pembisik

Buku_Wistleblowers

PressTV – Julian Assange_ Manning sentence is ‘significant tactical victory’ for supporters

{ 0 comments }

Bank SAT

by Ferli Deni Iskandar on 24 August 2012

bank sat

By Ferli Deni Iskandar

Permasalahan

(Apa yang akan dibahas ini kemungkinan besar sudah disadari oleh para pemilik atau manajemen puncak bank-bank, tapi sangat jarang disadari oleh kebanyakan karyawan bank, bahkan para account officer atau analis kredit sekali pun. So, tulisan ini lebih dialamatkan bagi para pemilik bank, bukan para karyawan bank pada umumnya.)

Bank SAT bukanlah sebuah nama bank.

Bank SAT adalah isitilah baru, perpaduan dari lembaga bernama bank dan perilakunya yang cenderung BANGSAT.

Ya, bank-bank, khususnya bank-bank swasta, adalah BANGSAT.

Kenapa?

Karena ketika kita “pinjam” uang dari mereka, yang terjadi pada dasarnya adalah bank-bank sat-sat itu menciptakan uang dari ketiadaan.

Mereka cukup menuliskan bahwa “rekening si X bertambah sekian rupiah sebagai pinjaman”. Tiba-tiba bank punya piutang (uang) dari ketiadaan.

Lho, bukankah bank memberikan pinjaman itu kepada nasabah dalam bentuk uang? Iya, tapi uang itu bukanlah uang milik bank tsb, tapi uang yang diambil dari dana nasabah secara bergilir, menciptakan ilusi bahwa bank punya “uang banyak”.

Bukti? Buktinya: coba semua orang mengambil “uang”-nya pada saat bersamaan, maka bank akan kolaps, dan akan ketahuan bahwa sebuah bank pada dasarnya tidak “menyimpan” uang kita. Sebagian besar (sekitar > 90%) “uang” bank hanyalah berupa “surat hutang” (atau “surat piutang” – tergantung dari sudut pandang siapa).

Penjelasan sederhana penciptaan uang mungkin bisa diambil dari sini:

Proses money creation bukanlah proses misterius yang hanya dimengerti para dewa… sederhana kok. Saya punya duit 10 jeti, saya depositoin ke bank, pulangnya saya bawa sertifikat yang ada tulisan 10 jeti dengan bunga sekian-sekian. Mekanisme fractional reserve memungkinkan bank tadi untuk meminjamkan SEBAGIAN duit saya ke orang lain dalam bentuk kredit untuk usaha. Mengapa kata SEBAGIAN saya tulis dalam huruf besar, karena itulah padanan kata dari FRACTIONAL. Bank cukup me-RESERVE 10% dari tabungan masyarakat, sisanya boleh dikucurkan dalam bentuk kredit. Karena saya masih pegang sertifikat deposito, maka saya yakin-seyakinnya masih punya duit 10jt di Bank, sementara si penerima kredit juga yakin-seyakinnya punya duit 9jt buat belanja bahan baku. Duit yang tadinya 10jt tiba-tiba jadi 19jt.

Perhatikan dalam contoh kasus di atas bahwa, melalui mekanisme fractional reserve, bank diberi dasar hukum untuk menciptakan uang dari ketiadaan sejumlah 9 juta rupiah. “Uang” baru itu tiba-tiba muncul dan menjadi milik bank, sementara peminjam harus bekerja keras menghasilkan uang riil untuk dikembalikan kepada bank.

Sekarang kalikanlah kejadian itu dengan ribuan atau jutaan transaksi sejenis yang berlangsung setiap hari di Indonesia. Berapa banyak bank-bank swasta itu – dengan enaknya – menciptakan uang sendiri yang kemudian menjadi milik mereka? Tidak aneh kalau bank-bank swasta itu memiliki keuntungan dalam jumlah triliunan setiap tahunnya.

Penciptaan uang secara masif seperti itu pada dasarnya tidak berbeda dengan PERAMPOKAN besar-besaran terhadap masyarakat luas melalui penurunan nilai uang (inflasi) yang dipegang seluruh masyarakat. Tentu saja, bank juga mengalami dampak tersebut, tetapi mereka adalah pihak yang paling diuntungkan, karena penciptaan uang terjadi ketika dampak inflasi dari penciptaan uang itu belum terasa sama sekali (karena inflasi membutuhkan waktu).

Ini persis seperti sistem fraud dalam skema investasi Koperasi Langit Biru. “Untung investasi” tinggi yang diberikan kepada investor berasal terutama dari dana investor-investor BARU. Sistem ini unsustainable seiring waktu.

Begitu juga sebenarnya dengan mekanisme fractional reserve banking yang kita anut. Sistem ini unsustainable, akan hancur pada suatu ketika, ketika penciptaan uang gila-gilaan lewat proses peminjaman melampaui batas, mengakibatkan efek domino ketika satu, dua, tiga, hingga seribu, sejuta, orang tidak lagi mampu membayar pinjaman karena pada dasarnya uang “riil” yang beredar sangat jauh lebih sedikit dibandingkan “uang” dalam bentuk rekening digital hasil dari proses peminjaman dari nasabah kepada bank.

Istilah “bank sebagai bisnis kepercayaan” memperoleh pemahaman baru: bagi saya, ini memang menunjukkan bahwa bisnis bank pada dasarnya adalah dekat dengan bisnis penipuan, sangat rentan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat, mirip seperti bisnis Koperasi Langit Biru di atas.

Inilah penjelasan fenomena siklus gelembung-kempes (buble economy, boom & bust). Fenomena itu tidak terhindarkan sebagai konsekuensi alamiah dari penciptaan uang dari ketiadaan ala fractional reserve banking system.

Siapa yang rugi dalam peristiwa itu? Yang rugi adalah masyarakat umum, karena tiba-tiba bank menambah suplai uang sehingga nilai uang secara keseluruhan turun (inflasi). Efeknya tidak langsung terasa, tapi mungkin terasa tiap tahun ketika setiap Lebaran atau tahun baru, harga-harga kebutuhan hidup meningkat secara signifikan. Efek itu juga terasa ketika anak atau cucu kita dalam beberapa dekade mendatang harus menanggung biaya atau harga rumah yang berkali-kali lipat dari harga saat ini.

BankSAT-BankSAT itu, enak bener mereka.

Mereka dilindingi hukum lewat mekanisme fractional reserve.

Coba google berita dengan keyword  “laba bank indonesia”, maka akan ditemukan bahwa di 2012 ini atau 2011 lalu jarang ada bank besar yang merugi, semuanya untung. Kenapa? Karena mereka BANYAK MEMINJAMKAN uang, dan karenanya banyak MENCIPTAKAN uang. Karena mereka menciptakan uang, bagaimana mungkin mereka tidak untung besar?

Itu dalam situasi normal.

Tetapi kalau dalam situasi buruk, seperti mis-manajemen, atau kongkalikong politik, nanti banksat-banksat itu akan diselamatkan oleh pemerintah, di-bailout. Pakai apa? Pakai uang masyarakat banyak sebagai pembayar pajak. Persis seperti kasus Bank Century, atau pada kasus krisis ekonomi ’97-’98 (hanya sekitar sembilan-sepuluh tahun setelah Paket Deregulasi Perbankan Oktober ’88 laknat itu), yang sampai-sampai pemerintah harus membentuk BPPN, dengan triliunan rupiah yang diambil dari uang rakyat sebagai pembayar pajak.

Jadi BPPN bukanlah “Badan Penyehatan Perbankan Nasional”, tapi adalah “Badan Penyelamatan Perampok Nasional”.

Banksat bukan?

Itulah enaknya jadi banksat. Mereka milik pribadi ketika untung, tapi menjadi “milik” umum ketika BUNTUNG (dalam arti, “dibayari” oleh semua orang, yang sebagian besarnya adalah rakyat kecil, rakyat miskin).

Yang KAYA makin kaya, yang miskin makin miskin. Itulah hasil dari mekanisme perbanksatan ini, yang dimulai dari mekanisme fractional reserve, hingga konsekuensi “too big too fail“, sehingga untuk mencegah “risiko sistemik” (bank run/bank rush), maka banksat-banksat itu harus diberi pertolongan, disuntik dengan uang rakyat puluhan, ratusan triliun rupiah.

Padahal itulah fenomena dimana terjadi “transfer kekayaan” dari mereka yang miskin kepada mereka yang kaya.

Masih nggak percaya kalau banksat-banksat itu menciptakan uang dari ketiadaan?

Kalau Anda nggak percaya, bisa dipahami kalau Anda masih bego bin culun seperti itu, karena saya pun belum lama ini saja bisa mengerti itu, yaitu setelah (dalam waktu liburan ini) punya cukup waktu untuk browsing, googling, youtube-ing. Makanya setelah saya paham, saya jadi marah luarbiasa dan nyumpah-nyumpah seperti ini. Bisa dimengerti juga ‘kan?

Tetapi bukan cuma Anda yang bego bin culun. Presiden kita juga bego dan culun. Bahkan para ekonom kita (yang kebanyakan lulusan Universitas Indonesia itu, seperti saya juga) juga bego bin culun.

Nggak percaya? Itu terjadi ketika pada krisis ekonomi ’98 lalu Soeharto diawasi dengan pongah oleh Michel Camdessus dari IMF untuk menandatangani pinjaman untuk “menyelamatkan” ekonomi Indonesia, dengan segala macam konsekuensi kebijakan yang mengikutinya; misalnya kebijakan floating currency alih-alih dollar pegging.

Soeharto Soeharto Menandatangani Pinjaman IMF, Diawasi oleh Michel Camdessus

Hasilnya? Hancur lebur. Indonesia makin terperosok. Sementara Malaysia, yang dipimpin Mahathir, cerdas melakukan dollar pegging, dan hasilnya mereka melampaui Indonesia dalam hal kemajuan ekonomi.

Pinjaman IMF itu menghancurkan Indonesia karena pada dasarnya, IMF juga hanya melakukan penciptaan uang dari ketiadaan, padahal itu harus dibayar oleh Indonesia termasuk pokok dan bunganya.

Kenapa Pemerintah tidak menciptakan saja sendiri uang yang dibutuhkan (persis seperti yang dilakukan bank-bank swasta atau IMF itu), tapi kali ini dengan tingkat bunga 0% yang tidak membebani rakyat?

Baca ini, komentar President Nigeria, Obasanjo pada tahun 2000 tentang hutang negaranya terhadap kreditor internasional:

“All that we had borrowed up to 1985 or 1986 was around $5 billion and we have paid about $16 billion yet we are still being told that we owe about $28 billion. That $28 billion came about because of the injustice in the foreign creditors’ interest rates. If you ask me what is the worst thing in the world, I will say it is compound interest.”

Ya, dan Ibu Kita Yang Kita Kagumi Sri Mulyani sebenarnya bukanlah penyelamat ekonomi Indonesia, baik ketika menjadi kaki-tangan IMF, atau pun ketika sebagai Menteri Keuangan melakukan bail-out terhadap Bank Century. Mungkin beliau terlampau tercuci-otak oleh model-model matematik abstrak ekonomi ala Paul Samuelson yang seringkali lebih mengaburkan esensi permasalahan dibandingkan memperjelasnya.

Arus utama ekonom dewasa ini, di Indonesia dan tempat lain yang berkiblat pada Amerika, biasanya terlampau jauh tercerabut dari esensi dan akar permasalahan, dan tidak bisa memberi solusi kongkrit yang jelas. Heran, Amerika saja ekonominya sekarang ini carut-marut, kenapa model ekonominya masih kita percayai?

Lihat referensi di bawah ya (jangan males baca, jangan males mikir!).

Solusi?

OK setelah puas nyumpah-nyumpah saya mau ikutan share solusi.

Ini ngikutin saran dari Positive Money, yang menyatakan bahwa akar permasalahan banksat-banksat kita adalah ini:

  1. Ketika kita menyimpan uang, banksat-banksat itu bebas meminjamkan uang kita.
  2. Bank juga bebas menggunakan uang kita untuk “berinvestasi” pada apapun, termasuk untuk menyuap politisi, berinvestasi pada teknologi senjata pemusnah massal, berinvestasi pada industri perusak lingkungan, dll.
  3. Bank diperbolehkan menciptakan uang lewat mekanisme fractional reserve.

Dengan solusi (sederhana/disederhanakan) sbb.:

  1. Bank diharuskan mendapatkan ijin dari penabung untuk meminjamkan uang penabung tsb kepada nasabah lain.
  2. Bank diharuskan menginformasikan penggunaan uangnya.
  3. Kembalikan kekuasaan untuk menciptakan uang kepada kekuatan demokratik (sebuah lembaga pilihan/bentukan rakyat).

Solusi lain adalah penggunaan uang LOKAL, dan/atau kembali kepada BARTER.

Barter? Nggak repot tuh?

Dengan perkembangan teknologi yang ada saat ini, kita sampai pada situasi di mana sangat mungkin untuk melakukan hal itu.

Lihat sebuah software open source yang bisa melakukan hal itu.

Di Yunani, hal itu sudah dicobakan, lihat kisahnya di sini:

http://www.nytimes.com/2011/10/02/world/europe/in-greece-barter-networks-surge.html
http://www.guardian.co.uk/world/2012/mar/16/greece-on-breadline-cashless-currency

Tindak lanjut?

OK, siapa yang tertarik untuk berpartisipasi dalam proyek penciptaan uang lokal dan sistem barter menggunakan Cyclos?

Saya serius nih, nanti coba saya buatkan proposalnya di GAGAS.web.id (yang sepertinya sedang pingsan itu).

Partisipasinya tidak dalam bentuk uang, tapi dalam bentuk kontribusi ide dan kerja.

Ada ide, apa nama situsnya, apakah uanglokal.org, indobarter.org, atau yang lain?

Referensi:

1. Paul Crignon, “Money as Debt”, http://www.moneyasdebt.net

2. Ben Dyson, Positive Money.

3. Bob Chapman, “Money Creation and the Bankruptcy of Major Banks: The Roles of the IMF, The European Central Bank and the Federal Reserve

4. Michael Hudson, “How the Banks Broke the Social Compact, Promoting their Own Special Interests

5. Martin Zeis, “Famous Quotes about Fiat Money

6. David McNally, “Follow the Money Trail: Behind the European Debt Crisis Lie More Bank Bailouts

7. Richard C. Cook, “Seeing Through the Illusion of Money: Challenging The Money Power

8. Adrian Salbuchi, “The Money Masters: Behind the Global Debt Crisis

9. Cyclos Project

10. Referensi penggunaan Cyclos:
http://www.nytimes.com/2011/10/02/world/europe/in-greece-barter-networks-surge.html
http://www.guardian.co.uk/world/2012/mar/16/greece-on-breadline-cashless-currency
http://www.collapsenet.com/information-on-the-web/70-open-source/1272-cyclos-software
http://www.sunflower.ch/index.php?p=site4_cyclos&l=en
http://trado.info/node/10
http://www.correntewire.com/cyclos_alternative_currency_software
http://ccmag.net/cyclos/3/6

 

{ 0 comments }

Bagaimana Perekonomian Bekerja: Mengapa Kejahatan Dibutuhkan

August 3, 2012

Ekonomi hanya sekedar tentang uang, bukan tentang menumbuhkan kebaikan. Sejumlah uang sama nilainya, baik dihasilkan dari tindakan mulia mau pun jahat, baik atau buruk, konstruktif atau destruktif, manusiawi atau bengis, sah atau tidak sah, bermanfaat atau mudarat. Apakah orang-orang memperoleh manfaat atau mudarat tidak jadi masalah bagi ekonomi. Orang-orang, seperti halnya segala sesuatu lain yang tidak bersifat moneter, tidak relevan.

Read the full article →

Komunikasi Politik SBY: Tinggalkan Verbalisme

January 30, 2011

Seandainya SBY bilang “Sudah 7 tahun gaji saya tidak naik” pada tahun 2004, reaksi masyarakat akan sangat berbeda dibandingkan yang terjadi belakangan ini. Tahun 2004 itu, saya bayangkan, banyak orang akan sangat bersimpati padanya dan menaruh hormat atas pengorbanan yang ia lakukan. Tetapi lihatlah reaksi untuk ucapan itu di tahun 2011 ini: bertolak belakang bukan? […]

Read the full article →

Puisi Sedih (Untuk Indonesia)

January 30, 2011

tiba-tiba saja menyergap kemurungan itu di tengah musik, di tengah keriangan di sebuah ruangan dengan banyak makanan tiba-tiba saja mendekap kesepian itu padahal politik begitu gempita padahal bisnis sedang bergelora kesedihan ini mulanya setitik tapi waktu membuatnya menggumpal makin keras, makin besar misteri apakah ini yang mengawani hidup mengawini hidup terkadang datang, tak diundang mengendap […]

Read the full article →

Puisi Cinta Nan Santun Buat SBY

January 20, 2011

(1)

tuan presiden indonesia
cinta kami puluhan juta
padamu kami titip asa

engkau cerdas dan simpatik
jutaan pula kami tertarik
pada tawaran cahaya sepercik

maka kami heran
bila kau bersikap enggan
pada tugas yang kau emban

tugasmu hanya satu:
menjaga cinta kami tak beku
dengan sepenuh kekuatanmu

karena bila tidak
kezaliman dibiarkan merebak
kami bisa bergolak

cinta kami besar
bila janji dilanggar
hati kami terbakar

cinta kami puluhan juta
tuan presiden, puluhan juta
cinta dan benci tipis batasnya
bila khianat menusuk cinta
benci kami puluhan juta

(2)

tenangkan kami bahwa “I love US as my second country” sama sekali tak bermakna
kami tahu Ibu Pertiwi sakit hati jika engkau mendua

yakinkan kami sebagai presiden kau paham
engkau bukan pengamat, konsultan, atau awam
hanya bisa “meminta, mengharap” dan lain kata terpendam
sungguh kekuasaan nyata kau genggam
hasil akhirnya tanggung jawabmu seorang

jangan isyaratkan seolah kau biarkan
orang-orangmu menjilat penuh kepuasan
ketika isterimu dijual dan digadang-gadangkan
dalam nepotisme penuh ketelanjangan

tegaskan lagi pada kami
kebijakan negosiasi emas, energi, dan minyak bumi
sungguh buat kesejahteraan negeri
bukan tukar-menukar kekuasaan dan harga diri

sadarilah engkau bukan pemimpin
kamilah, rakyatmu, sang pemimpin
engkau hanyalah kepala pembantu rumah tangga negeri
digaji dengan perasan keringat dan air mata kami

tuan presiden, tunduklah kepada kami
bukan tunduk kepada majikan di luar negeri
penekan agenda penjajahan dan terorisasi
atas anak bangsa dan agamamu sendiri

Read the full article →

Survei Kepuasan Pengguna AcuanBahasa / KBBI / Glosarium

October 18, 2010

Anda pengguna AcuanBahasa, KBBI, atau Glosarium? Mohon bantuan Anda untuk mengisikan survei berikut ini dengan sebaik-baiknya. Opini Anda sangat penting dalam rangka perbaikan produk sehingga semakin memenuhi keinginan Anda. Tekan tombol hitam “Ikuti Survei!” berikut ini untuk menjawab survei ini. Jangan kuatir, hanya ada 1 pertanyaan;-). Ikuti Survei!

Read the full article →

Aplikasi AcuanBahasa, Gratis

September 14, 2010

Buat Anda yang baru berkunjung ke sini, jangan sampai terlewatkan: unduh AcuanBahasa di sini, perangkat lunak gratis luar jaringan (luring/offline) yang merupakan paduan dari berbagai sumber/acuan bahasa, yakni KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Glosarium (keduanya buatan Diknas RI), WordNet (Princeton University), padanan Inggris-Indonesia, dan klien Google Terjemahan. Silakan menikmati. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Read the full article →

Seven Weird Habits That Will Change Your Life

June 6, 2010

By Jonathan Mead / Creator of The Dojo

Source: http://www.mindpowernews.com/WeirdHabits.htm

Some habits will help you live a better life. They’ll help you improve what’s already working or help you fix what’s not working very well.

But what about habits that completely change the game entirely? What are the questions that uproot your beliefs, shake them from its roots and move you into a bigger pot?

These are seven habits that won’t just improve your game, or help you “level up.” They’ll help you play a different game, one that you completely design yourself.

1. Regularly engage in time travel.

Often the best way to solve a problem is to have a conversation with your future self. How do you do this without bending the space-time continuum? It’s simple, really. Have a seat in your favorite chair and close your eyes. Now imagine walking into a bare room, with plain white walls with a small table and two folding chairs facing across from each other. Sit down in the chair closest to you. Now, in walks your future self 10 years from now. S/he sits across from you and explains that s/he’s there to answer whatever questions you have about the problems you’re facing. Go ahead and begin firing. Ask him/her whatever you want and take advantage of a more experienced version of you.

2. Before you act, hold back.

You would think that immediate, unmitigated action is best. Act quick! Buy now! Hurry before it’s too late! These seem to be the cultural beliefs we’re imprinted with. But is acting quickly really better? I think sometimes the opposite is better. Think about what you want, but wait to act. Just spend ten minutes thinking about what you want to create and allow yourself to feel what it will be like to take action. I think you’ll find when you build anticipation like this, the quality of your action will improve.

3. Ignore and doubt yourself.

Sometimes listening to yourself and getting in touch with your intuition is important. But what if you don’t like what you have to say to yourself? What if you have patterns of thought that aren’t serving you? Sometimes it’s better to allow them to be there and ignore them, rather than trying to push them out. Other times, it’s even important to doubt yourself… that is, doubt what you think you’re capable of. We often underestimate our potential, so it can be beneficial to create the habit of doubting what you think you can do. It’s often much more than you think.

4. Feel before you do.

A lot of the time we create to do lists or start projects based on what we want to get done or want to accomplish. The feeling is supposed to come after we’re done. We’re supposed to feel good by accomplishing. While this approach seems very logical, it doesn’t always work too well. It’s much better to start with the feeling you want to create, and then choose the actions you want to take that will create that feeling. This is a hard habit to create, because it doesn’t seem reasonable and requires a lot of trust. You’ll also have to have the courage to stop doing a lot of things that don’t create the feeling you want. That takes a lot of guts. But it’s worth it.

5. What would happen if this was easy…?

As a culture we value people that work hard and beat the odds. We think it’s important to pay our dues and grind it out. But what if work didn’t have to be hard? What if your life didn’t have to be hard? What would happen if things were easy? Regularly asking yourself this question and seeing what comes up can be game changing.

6. What do I think is impossible…?

Sometimes we think that we’re only capable of a certain level of achievement. We doubt our own capabilities or think that a certain change would be too hard or impossible. We’ve set ourselves up to fail before we even begin. Ask yourself this question, then ask yourself why you think it’s hard or impossible. Then take a moment to pretend it wasn’t. What would you do differently?

7. What would I do if I had everything I needed already…?

A lot of the time we think we need more than we do in order to do what we want. We think we need more time. More money. More resources. More support. But is that really true? You can do a lot with a little. Many businesses are built with little to no start up money. Many great projects are started with a simple idea and a willingness to work hard. What if you didn’t need whatever it is you think you need to start? What if you had everything you needed right now?

These are just a few habits I’ve found that have made a huge difference for me. They’re a bit uncommon and take a while of practice in order to make them work, but once they’re installed you’ve essentially created a limit-breaking loop that leads you to higher and higher levels of success. It feeds on itself to grow.

So now my question for you is this: What habit has made the biggest difference for you? What one question or ritual has changed your life?

Read the full article →

100. Call to Action. Your One Life.

May 12, 2010

It is the people who make a country great. In every country, brave, compassionate people of action must be willing to assume the mantle of leadership and face the challenges to education, law, government, health care, the environment and human rights. If you live the Action Principles®, this person is you. Even as one, your […]

Read the full article →