Bank SAT

by Admin on 24 August 2012

bank sat

By Ferli Deni Iskandar

Permasalahan

(Apa yang akan dibahas ini kemungkinan besar sudah disadari oleh para pemilik atau manajemen puncak bank-bank, tapi sangat jarang disadari oleh kebanyakan karyawan bank, bahkan para account officer atau analis kredit sekali pun. So, tulisan ini lebih dialamatkan bagi para pemilik bank, bukan para karyawan bank pada umumnya.)

Bank SAT bukanlah sebuah nama bank.

Bank SAT adalah isitilah baru, perpaduan dari lembaga bernama bank dan perilakunya yang cenderung BANGSAT.

Ya, bank-bank, khususnya bank-bank swasta, adalah BANGSAT.

Kenapa?

Karena ketika kita “pinjam” uang dari mereka, yang terjadi pada dasarnya adalah bank-bank sat-sat itu menciptakan uang dari ketiadaan.

Mereka cukup menuliskan bahwa “rekening si X bertambah sekian rupiah sebagai pinjaman”. Tiba-tiba bank punya piutang (uang) dari ketiadaan.

Lho, bukankah bank memberikan pinjaman itu kepada nasabah dalam bentuk uang? Iya, tapi uang itu bukanlah uang milik bank tsb, tapi uang yang diambil dari dana nasabah secara bergilir, menciptakan ilusi bahwa bank punya “uang banyak”.

Bukti? Buktinya: coba semua orang mengambil “uang”-nya pada saat bersamaan, maka bank akan kolaps, dan akan ketahuan bahwa sebuah bank pada dasarnya tidak “menyimpan” uang kita. Sebagian besar (sekitar > 90%) “uang” bank hanyalah berupa “surat hutang” (atau “surat piutang” – tergantung dari sudut pandang siapa).

Penjelasan sederhana penciptaan uang mungkin bisa diambil dari sini:

Proses money creation bukanlah proses misterius yang hanya dimengerti para dewa… sederhana kok. Saya punya duit 10 jeti, saya depositoin ke bank, pulangnya saya bawa sertifikat yang ada tulisan 10 jeti dengan bunga sekian-sekian. Mekanisme fractional reserve memungkinkan bank tadi untuk meminjamkan SEBAGIAN duit saya ke orang lain dalam bentuk kredit untuk usaha. Mengapa kata SEBAGIAN saya tulis dalam huruf besar, karena itulah padanan kata dari FRACTIONAL. Bank cukup me-RESERVE 10% dari tabungan masyarakat, sisanya boleh dikucurkan dalam bentuk kredit. Karena saya masih pegang sertifikat deposito, maka saya yakin-seyakinnya masih punya duit 10jt di Bank, sementara si penerima kredit juga yakin-seyakinnya punya duit 9jt buat belanja bahan baku. Duit yang tadinya 10jt tiba-tiba jadi 19jt.

Perhatikan dalam contoh kasus di atas bahwa, melalui mekanisme fractional reserve, bank diberi dasar hukum untuk menciptakan uang dari ketiadaan sejumlah 9 juta rupiah. “Uang” baru itu tiba-tiba muncul dan menjadi milik bank, sementara peminjam harus bekerja keras menghasilkan uang riil untuk dikembalikan kepada bank.

Sekarang kalikanlah kejadian itu dengan ribuan atau jutaan transaksi sejenis yang berlangsung setiap hari di Indonesia. Berapa banyak bank-bank swasta itu – dengan enaknya – menciptakan uang sendiri yang kemudian menjadi milik mereka? Tidak aneh kalau bank-bank swasta itu memiliki keuntungan dalam jumlah triliunan setiap tahunnya.

Penciptaan uang secara masif seperti itu pada dasarnya tidak berbeda dengan PERAMPOKAN besar-besaran terhadap masyarakat luas melalui penurunan nilai uang (inflasi) yang dipegang seluruh masyarakat. Tentu saja, bank juga mengalami dampak tersebut, tetapi mereka adalah pihak yang paling diuntungkan, karena penciptaan uang terjadi ketika dampak inflasi dari penciptaan uang itu belum terasa sama sekali (karena inflasi membutuhkan waktu).

Ini persis seperti sistem fraud dalam skema investasi Koperasi Langit Biru. “Untung investasi” tinggi yang diberikan kepada investor berasal terutama dari dana investor-investor BARU. Sistem ini unsustainable seiring waktu.

Begitu juga sebenarnya dengan mekanisme fractional reserve banking yang kita anut. Sistem ini unsustainable, akan hancur pada suatu ketika, ketika penciptaan uang gila-gilaan lewat proses peminjaman melampaui batas, mengakibatkan efek domino ketika satu, dua, tiga, hingga seribu, sejuta, orang tidak lagi mampu membayar pinjaman karena pada dasarnya uang “riil” yang beredar sangat jauh lebih sedikit dibandingkan “uang” dalam bentuk rekening digital hasil dari proses peminjaman dari nasabah kepada bank.

Istilah “bank sebagai bisnis kepercayaan” memperoleh pemahaman baru: bagi saya, ini memang menunjukkan bahwa bisnis bank pada dasarnya adalah dekat dengan bisnis penipuan, sangat rentan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat, mirip seperti bisnis Koperasi Langit Biru di atas.

Inilah penjelasan fenomena siklus gelembung-kempes (buble economy, boom & bust). Fenomena itu tidak terhindarkan sebagai konsekuensi alamiah dari penciptaan uang dari ketiadaan ala fractional reserve banking system.

Siapa yang rugi dalam peristiwa itu? Yang rugi adalah masyarakat umum, karena tiba-tiba bank menambah suplai uang sehingga nilai uang secara keseluruhan turun (inflasi). Efeknya tidak langsung terasa, tapi mungkin terasa tiap tahun ketika setiap Lebaran atau tahun baru, harga-harga kebutuhan hidup meningkat secara signifikan. Efek itu juga terasa ketika anak atau cucu kita dalam beberapa dekade mendatang harus menanggung biaya atau harga rumah yang berkali-kali lipat dari harga saat ini.

BankSAT-BankSAT itu, enak bener mereka.

Mereka dilindingi hukum lewat mekanisme fractional reserve.

Coba google berita dengan keyword  “laba bank indonesia”, maka akan ditemukan bahwa di 2012 ini atau 2011 lalu jarang ada bank besar yang merugi, semuanya untung. Kenapa? Karena mereka BANYAK MEMINJAMKAN uang, dan karenanya banyak MENCIPTAKAN uang. Karena mereka menciptakan uang, bagaimana mungkin mereka tidak untung besar?

Itu dalam situasi normal.

Tetapi kalau dalam situasi buruk, seperti mis-manajemen, atau kongkalikong politik, nanti banksat-banksat itu akan diselamatkan oleh pemerintah, di-bailout. Pakai apa? Pakai uang masyarakat banyak sebagai pembayar pajak. Persis seperti kasus Bank Century, atau pada kasus krisis ekonomi ’97-’98 (hanya sekitar sembilan-sepuluh tahun setelah Paket Deregulasi Perbankan Oktober ’88 laknat itu), yang sampai-sampai pemerintah harus membentuk BPPN, dengan triliunan rupiah yang diambil dari uang rakyat sebagai pembayar pajak.

Jadi BPPN bukanlah “Badan Penyehatan Perbankan Nasional”, tapi adalah “Badan Penyelamatan Perampok Nasional”.

Banksat bukan?

Itulah enaknya jadi banksat. Mereka milik pribadi ketika untung, tapi menjadi “milik” umum ketika BUNTUNG (dalam arti, “dibayari” oleh semua orang, yang sebagian besarnya adalah rakyat kecil, rakyat miskin).

Yang KAYA makin kaya, yang miskin makin miskin. Itulah hasil dari mekanisme perbanksatan ini, yang dimulai dari mekanisme fractional reserve, hingga konsekuensi “too big too fail“, sehingga untuk mencegah “risiko sistemik” (bank run/bank rush), maka banksat-banksat itu harus diberi pertolongan, disuntik dengan uang rakyat puluhan, ratusan triliun rupiah.

Padahal itulah fenomena dimana terjadi “transfer kekayaan” dari mereka yang miskin kepada mereka yang kaya.

Masih nggak percaya kalau banksat-banksat itu menciptakan uang dari ketiadaan?

Kalau Anda nggak percaya, bisa dipahami kalau Anda masih bego bin culun seperti itu, karena saya pun belum lama ini saja bisa mengerti itu, yaitu setelah (dalam waktu liburan ini) punya cukup waktu untuk browsing, googling, youtube-ing. Makanya setelah saya paham, saya jadi marah luarbiasa dan nyumpah-nyumpah seperti ini. Bisa dimengerti juga ‘kan?

Tetapi bukan cuma Anda yang bego bin culun. Presiden kita juga bego dan culun. Bahkan para ekonom kita (yang kebanyakan lulusan Universitas Indonesia itu, seperti saya juga) juga bego bin culun.

Nggak percaya? Itu terjadi ketika pada krisis ekonomi ’98 lalu Soeharto diawasi dengan pongah oleh Michel Camdessus dari IMF untuk menandatangani pinjaman untuk “menyelamatkan” ekonomi Indonesia, dengan segala macam konsekuensi kebijakan yang mengikutinya; misalnya kebijakan floating currency alih-alih dollar pegging.

Soeharto Soeharto Menandatangani Pinjaman IMF, Diawasi oleh Michel Camdessus

Hasilnya? Hancur lebur. Indonesia makin terperosok. Sementara Malaysia, yang dipimpin Mahathir, cerdas melakukan dollar pegging, dan hasilnya mereka melampaui Indonesia dalam hal kemajuan ekonomi.

Pinjaman IMF itu menghancurkan Indonesia karena pada dasarnya, IMF juga hanya melakukan penciptaan uang dari ketiadaan, padahal itu harus dibayar oleh Indonesia termasuk pokok dan bunganya.

Kenapa Pemerintah tidak menciptakan saja sendiri uang yang dibutuhkan (persis seperti yang dilakukan bank-bank swasta atau IMF itu), tapi kali ini dengan tingkat bunga 0% yang tidak membebani rakyat?

Baca ini, komentar President Nigeria, Obasanjo pada tahun 2000 tentang hutang negaranya terhadap kreditor internasional:

“All that we had borrowed up to 1985 or 1986 was around $5 billion and we have paid about $16 billion yet we are still being told that we owe about $28 billion. That $28 billion came about because of the injustice in the foreign creditors’ interest rates. If you ask me what is the worst thing in the world, I will say it is compound interest.”

Ya, dan Ibu Kita Yang Kita Kagumi Sri Mulyani sebenarnya bukanlah penyelamat ekonomi Indonesia, baik ketika menjadi kaki-tangan IMF, atau pun ketika sebagai Menteri Keuangan melakukan bail-out terhadap Bank Century. Mungkin beliau terlampau tercuci-otak oleh model-model matematik abstrak ekonomi ala Paul Samuelson yang seringkali lebih mengaburkan esensi permasalahan dibandingkan memperjelasnya.

Arus utama ekonom dewasa ini, di Indonesia dan tempat lain yang berkiblat pada Amerika, biasanya terlampau jauh tercerabut dari esensi dan akar permasalahan, dan tidak bisa memberi solusi kongkrit yang jelas. Heran, Amerika saja ekonominya sekarang ini carut-marut, kenapa model ekonominya masih kita percayai?

Lihat referensi di bawah ya (jangan males baca, jangan males mikir!).

Solusi?

OK setelah puas nyumpah-nyumpah saya mau ikutan share solusi.

Ini ngikutin saran dari Positive Money, yang menyatakan bahwa akar permasalahan banksat-banksat kita adalah ini:

  1. Ketika kita menyimpan uang, banksat-banksat itu bebas meminjamkan uang kita.
  2. Bank juga bebas menggunakan uang kita untuk “berinvestasi” pada apapun, termasuk untuk menyuap politisi, berinvestasi pada teknologi senjata pemusnah massal, berinvestasi pada industri perusak lingkungan, dll.
  3. Bank diperbolehkan menciptakan uang lewat mekanisme fractional reserve.

Dengan solusi (sederhana/disederhanakan) sbb.:

  1. Bank diharuskan mendapatkan ijin dari penabung untuk meminjamkan uang penabung tsb kepada nasabah lain.
  2. Bank diharuskan menginformasikan penggunaan uangnya.
  3. Kembalikan kekuasaan untuk menciptakan uang kepada kekuatan demokratik (sebuah lembaga pilihan/bentukan rakyat).

Solusi lain adalah penggunaan uang LOKAL, dan/atau kembali kepada BARTER.

Barter? Nggak repot tuh?

Dengan perkembangan teknologi yang ada saat ini, kita sampai pada situasi di mana sangat mungkin untuk melakukan hal itu.

Lihat sebuah software open source yang bisa melakukan hal itu.

Di Yunani, hal itu sudah dicobakan, lihat kisahnya di sini:

http://www.nytimes.com/2011/10/02/world/europe/in-greece-barter-networks-surge.html
http://www.guardian.co.uk/world/2012/mar/16/greece-on-breadline-cashless-currency

Tindak lanjut?

OK, siapa yang tertarik untuk berpartisipasi dalam proyek penciptaan uang lokal dan sistem barter menggunakan Cyclos?

Saya serius nih, nanti coba saya buatkan proposalnya di GAGAS.web.id (yang sepertinya sedang pingsan itu).

Partisipasinya tidak dalam bentuk uang, tapi dalam bentuk kontribusi ide dan kerja.

Ada ide, apa nama situsnya, apakah uanglokal.org, indobarter.org, atau yang lain?

Referensi:

1. Paul Crignon, “Money as Debt”, http://www.moneyasdebt.net

2. Ben Dyson, Positive Money.

3. Bob Chapman, “Money Creation and the Bankruptcy of Major Banks: The Roles of the IMF, The European Central Bank and the Federal Reserve

4. Michael Hudson, “How the Banks Broke the Social Compact, Promoting their Own Special Interests

5. Martin Zeis, “Famous Quotes about Fiat Money

6. David McNally, “Follow the Money Trail: Behind the European Debt Crisis Lie More Bank Bailouts

7. Richard C. Cook, “Seeing Through the Illusion of Money: Challenging The Money Power

8. Adrian Salbuchi, “The Money Masters: Behind the Global Debt Crisis

9. Cyclos Project

10. Referensi penggunaan Cyclos:
http://www.nytimes.com/2011/10/02/world/europe/in-greece-barter-networks-surge.html
http://www.guardian.co.uk/world/2012/mar/16/greece-on-breadline-cashless-currency
http://www.collapsenet.com/information-on-the-web/70-open-source/1272-cyclos-software
http://www.sunflower.ch/index.php?p=site4_cyclos&l=en
http://trado.info/node/10
http://www.correntewire.com/cyclos_alternative_currency_software
http://ccmag.net/cyclos/3/6

 

{ 0 comments }

Ekonomi hanyalah tentang uang, bukan tentang penumbuhan kebaikan. Sejumlah tertentu uang nilainya sama saja, baik dihasilkan dari tindakan mulia atau pun jahat, baik atau buruk, konstruktif atau destruktif, manusiawi atau bengis, sah atau tidak sah, bermanfaat atau mudarat. Apakah orang-orang memperoleh manfaat atau mudarat tidak jadi masalah bagi ekonomi. Orang-orang, sebagaimana segala yang bukan uang, tidak relevan.

Suatu ketika, sebagaimana semua kisah kebaikan dimulai, manusia tinggal di habitat alami. Orang-orang bekerja keras, tapi tidak untuk sesuatu yang dewasa ini disebut pekerjaan. Mereka berburu, memancing, menjerat hewan dan mengumpulkan biji-bijian, buah-buahan dan akar-akaran yang dapat dimakan. Kemudian mereka belajar mengolah tanah, menjinakkan dan menggembalakan hewan. Hasil panen dibagi bersama semua anggota suku mereka — baik pemuda mau pun orang tua, yang mampu dan yang tidak, yang sehat dan yang sakit.

“Dari setiap orang sesuai kemampuannya; untuk setiap orang sesuai kebutuhannya”, adalah praktek umum, bukan ajaran ideologis. Dan umat manusia berkembang. Desa-desa di sekitar petak-petak yang berbudidaya berkembang menjadi kota kecil, dan kota kecil pun menjadi kota besar.

Tetapi dalam perkembangannya, terjadi suatu kesalahan yang menyeramkan. Orang-orang berhenti berbagi! Orang-orang yang memiliki sesuatu mulai berdagang dengan orang lain untuk mendapatkan sesuatu yang lain, dan dimulailah apa yang sekarang ini dikenal sebagai perdagangan.

Masalahnya adalah, setelah tercerabut dari habitat alami dan masuk ke dalam habitat buatan yang tidak alami itu, setiap orang tidak selalu punya sesuatu untuk diperdagangkan dengan yang lain. Yang kaya terbedakan dari yang miskin. Apa yang harus dilakukan mereka yang miskin?

Ya, mereka bisa mengemis atau menjual diri mereka sendiri atau kembali menjadi apa yang akan mereka lakukan ketika berada di habitat alami mereka — pemburu dan pengumpul! Tetapi sekarang mangsanya adalah mereka yang kaya dan milik mereka menjadi sesuatu yang bisa diambil. Lalu apa yang harus dilakukan oleh mereka yang kaya?

Mereka bisa saja kembali berbagi, tetapi tidak! Sebaliknya, mereka mengembangkan cara untuk menjaga apa yang mereka miliki. Mereka menugaskan orang-orang untuk menetapkan aturan dan orang-orang lain untuk menegakkan aturan-aturan itu.

Pekerjaan mulai tercipta, yakni para pembuat aturan dan para penjaga. Setiap kali pelanggar aturan tertangkap, ia harus diadili. Tercipta lagi pekerjaan baru — para pengacara dan para hakim. Bila dinyatakan bersalah, pelanggar aturan harus dihukum, dan penjara tercipta bersama pekerjaan pengawas dan penjaga. Ketika tahanan dibebaskan, mereka harus dipantau, sehingga petugas masa percobaan diperlukan.

Semua ini menjadi beban biaya dari mereka yang kaya. Tidakkah berbagi akan lebih murah?

Mungkin, tapi orang-orang tidak bisa kembali seperti itu sekarang. Karena semua pekerjaan tersebut merupakan suatu aktivitas ekonomi tersendiri. Untuk kembali ke pola hidup berbagi akan mengubah mereka semua menjadi miskin. Mereka ini sekarang adalah orang-orang penting dan berkuasa. Hakim, pengacara, legislator!

Miskin? Amit-amit! Meskipun enggan untuk melihat diri mereka dengan cara ini, orang-orang ini hanyalah penjaga keamanan yang terlalu diistimewakan. Dianalogikan dengan kehidupan ikan, mereka ini sebenarnya hanyalah sekedar pemangsa di dasar akuarium. Mereka akan tidak memiliki arti bila kejahatan tak ada!

Bisnis keamanan adalah seperti setiap bisnis lainnya. Supaya untung, bisnis itu harus tumbuh; tapi untuk tumbuh, kejahatan harus meningkat. Tanpa peningkatan kejahatan, bisnis keamanan akan mati. Apa yang tadinya tercipta sebagai cara untuk mengendalikan kejahatan, sekarang justru membutuhkan kejahatan itu.

Kejahatan telah menjadi bagian penting dari ekonomi. Kejahatan tidak dapat dihilangkan; kejahatan bahkan tidak dapat dikurangi tanpa merusak ekonomi. Para ekonom menyukainya. Juga para pengacara, legislator dan hakim. Tetapi mereka tidak akan mengakui hal itu! Aktivitas bisnis menjaga yang kaya dan kepemilikan mereka harus dipertahankan.

Ah, omongkosong, mungkin Anda akan mengatakan itu. Mungkin, tapi mari kita tinggalkan “suatu ketika” dan kembali masa kini.

Mengapa sebagian anggota kongres tidak hanya bermaksud mengurangi jaring pengaman sosial tapi juga menghilangkannya? Karena memepetkan kondisi orang-orang miskin meningkatkan kemungkinan mereka menjadi penjahat dan lahapan bagi bisnis keamanan.

Dan mengapa anggota kongres yang sama tidak bersedia untuk mengurangi kegiatan kompleks industri-militer? Ya, senapan AK-47 berasal dari sana dan itu adalah teknologi yang meningkatkan produktivitas. Mereka membuat pekerja keamanan dan penjahat lebih efisien.

Dan para ahli ekonomi? Baik, pikirkanlah bagaimana produk domestik, ukuran paling umum sebuah ekonomi, diukur.

Produk domestik bruto (PDB) adalah nilai pasar dari semua barang dan jasa yang dibeli dalam periode tertentu. Singkatnya, PDB mengukur berapa banyak uang yang telah dibelanjakan. Ketika uang yang dibelanjakan meningkat, PDB naik; ketika uang yang dibelanjakan berkurang, PDB turun.

Ketika PDB naik, perekonomian dikatakan tumbuh; ketika PDB turun, perekonomian dikatakan menyusut. Ini berarti, tentu saja, bahwa “ekonomi” hanyalah angka-angka.

Baik, tapi apa yang salah dengan itu semua? Inilah dia:

Katakanlah seorang penjahat membakar sebuah gedung besar dan api menyebabkan kerusakan sangat parah sehingga gedung itu tidak dapat diperbaiki. Pemilik gedung menyewa vendor untuk meruntuhkan itu dan membersihkan puing-puingnya.

Biaya untuk melakukan hal itu adalah produk domestik. Artinya, menghancurkan sesuatu membuatnya menjadi produk.

Joseph Alois Schumpeter, Arnold Alois Schwarzenegger-nya ekonomi, menyebutnya “destruksi kreatif” — sesuatu dihancurkan untuk membuat produk domestik.

Kenyataannya, kejahatan menciptakan sejumlah besar produk domestik. Biaya senjata dan alat-alat yang digunakan oleh penjahat adalah produk domestik. Jika tertangkap, biaya sidang seorang terdakwa adalah produk domestik. Jika dinyatakan bersalah, begitu juga biaya penahanannya, merupakan produk domestik.

Tetapi lebih buruk lagi. Pembunuhan seseorang menciptakan produk domestik.

Sekitar satu abad yang lalu, khususnya di Barat Tengah Amerika, ketika seseorang meninggal, keluarganya akan menemukan tempat nyaman di pekarangan rumah dan menggali kuburan. Di masa kini ini hal itu tidak dapat dilakukan.

Di masa kini, kematian adalah pencetak uang. Pertama, layanan pengurus pemakaman diperlukan, selanjutnya peti mati harus dibeli, kemudian petak kuburan dan bunga juga harus dibeli.

Kematian seseorang membuat produk domestik tumbuh dan berkembang. Ekonomi menjadi lebih baik dan lebih baik.

Absurd!, Anda bilang. Ya, tapi itulah persisnya bagaimana perekonomian bekerja.

Pikirkanlah itu.

Ketika sekelompok orang Saudi merobohkan World Trade Center, mereka menciptakan produk domestik, banyak sekali.

Kebanyakan orang Amerika menganggap orang-orang ini sebagai teroris, tapi dari sudut pandang ekonomi, mereka adalah pengusaha yang menciptakan lapangan kerja. Hitunglah semua orang yang dipekerjakan untuk membersihkan situs dan membangun kembali gedung itu. Itu adalah perwujudan mimpi Schumpeter, tapi seharusnya hal itu disebut “kreasi destruktif. ”

Jika Anda ingin tahu mengapa orang Amerika tidak memiliki pembatasan senjata, ingatlah  mimpi Schumpeter.

Bisnis-bisnis “sah” menghasilkan uang dari kematian di Amerika. Pembunuhan di Amerika adalah suatu kegiatan ekonomi kreatif. Ekonomi seperti itu mengambil nyawa manusia dan mengubah mereka menjadi produk domestik.

PDB tumbuh bersama setiap kejahatan. Tanpa kejahatan, PDB akan terjerembab.

Jadi apa hikmah dari kisah  ini?

Bagaimana bila, “Jika Anda ingin membuat ekonomi lebih baik, bunuhlah banyak orang.”

Itu tidak akan bermanfaat banyak untuk negara atau orang-orang, tapi PDB akan melonjak dan para ekonom akan terkagum-kagum atas betapa baiknya fundamental ekonomi yang ada.

Bisakah Anda bayangkan sesuatu yang lebih absurd? Bukan masalah, karena itulah bagaimana perekonomian benar-benar bekerja.

Ekonomi tidak memiliki hubungan dengan rakyat dan kesejahteraan mereka. Uang yang dihasilkan dari aktivitas merusak sama baiknya dengan uang yang dihasilkan dari suatu usaha kreatif. Uang hasil mencuri sama baiknya dengan uang usaha jujur (sebagaimana setiap bankir tahu). Uang hasil pencucian sama baiknya dengan uang bersih. Uang hasil pembunuhan (di Amerika atau di luar negeri) sama baiknya dengan uang karena melahirkan.

Itulah bagaimana perekonomian bekerja. Orang-orang maupun kualitas apa pun tidak penting; hanya uang yang dihasilkan yang penting.

Semua ini dalam sebuah bangsa yang delapan puluh persen orang-orangnya mengaku menjadi pengikut dari Tuhan yang menyatakan bahwa cinta uang adalah akar segala kejahatan, dan tidak seorang ruhaniwan pun mengeluh.

Itu, pembaca yang budiman, adalah bagaimana Amerika bekerja. Ekonomi hanya sekedar jumlah uang, bukan praktik tentang mempertahankan kebaikan, dan uang yang terkumpul dinilai sama, baik dihasilkan dari praktek-praktek mulia atau jahat, baik atau buruk, konstruktif atau destruktif, manusiawi atau bengis, sah atau tidak sah, bermanfaat atau mudarat. Semua pertimbangan seperti itu adalah kotor. Apakah orang-orang memperoleh manfaat atau mudarat tidak jadi masalah bagi ekonomi. Orang-orang, seperti segala sesuatu yang lain yang bukan moneter, tidak relevan, yang membuat perekonomian ini benar-benar tidak bermoral. Pesan dari seorang penasihat keuangan terkemuka membuktikan hal itu:

“Sebagai investor, kita benar-benar tidak boleh membiarkan keyakinan politik, media massa, atau apa pun, menghalangi pencarian kita untuk menumbuhkan uang yang susah payah kita peroleh menjadi kekayaan abadi. ”

 

Penulis: John Kozy. John Kozy adalah seorang pensiunan profesor filsafat dan logika yang menulis isu-isu sosial, politik, dan ekonomi. Setelah bertugas di Angkatan Darat Amerika Serikat selama Perang Korea, ia menghabiskan 20 tahun sebagai seorang profesor universitas dan 20 tahun bekerja sebagai penulis. Ia telah menerbitkan sebuah buku tentang logika formal secara komersial, dalam jurnal akademik dan sejumlah kecil majalah komersial, dan telah menulis sejumlah editorial tamu untuk berbagai surat kabar. Tulisan-tulisan on-line nya dapat ditemukan di http://www. jkozy.com/ dan ia bisa dihubungi lewat email dari beranda situs tersebut.

John Kozy adalah kontributor yang sering menulis untuk Global Research. Artikel-artikel Global Research oleh John Kozy.

Sumber: Global Research

Diterjemahkan dengan bantuan TransKata.

Unduh Memori Terjemahan (Translation Memory) hasil pengolahan TransKata untuk digunakan bersama TransKataTM-How-the-Economy-Works-The-Necessity-of-Crime.

{ 0 comments }

Komunikasi Politik SBY: Tinggalkan Verbalisme

January 30, 2011

Seandainya SBY bilang “Sudah 7 tahun gaji saya tidak naik” pada tahun 2004, reaksi masyarakat akan sangat berbeda dibandingkan yang terjadi belakangan ini. Tahun 2004 itu, saya bayangkan, banyak orang akan sangat bersimpati padanya dan menaruh hormat atas pengorbanan yang ia lakukan. Tetapi lihatlah reaksi untuk ucapan itu di tahun 2011 ini: bertolak belakang bukan? [...]

Read the full article →

Puisi Sedih (Untuk Indonesia)

January 30, 2011

tiba-tiba saja menyergap kemurungan itu di tengah musik, di tengah keriangan di sebuah ruangan dengan banyak makanan tiba-tiba saja mendekap kesepian itu padahal politik begitu gempita padahal bisnis sedang bergelora kesedihan ini mulanya setitik tapi waktu membuatnya menggumpal makin keras, makin besar misteri apakah ini yang mengawani hidup mengawini hidup terkadang datang, tak diundang mengendap [...]

Read the full article →

Puisi Cinta Nan Santun Buat SBY

January 20, 2011

(1)

tuan presiden indonesia
cinta kami puluhan juta
padamu kami titip asa

engkau cerdas dan simpatik
jutaan pula kami tertarik
pada tawaran cahaya sepercik

maka kami heran
bila kau bersikap enggan
pada tugas yang kau emban

tugasmu hanya satu:
menjaga cinta kami tak beku
dengan sepenuh kekuatanmu

karena bila tidak
kezaliman dibiarkan merebak
kami bisa bergolak

cinta kami besar
bila janji dilanggar
hati kami terbakar

cinta kami puluhan juta
tuan presiden, puluhan juta
cinta dan benci tipis batasnya
bila khianat menusuk cinta
benci kami puluhan juta

(2)

tenangkan kami bahwa “I love US as my second country” sama sekali tak bermakna
kami tahu Ibu Pertiwi sakit hati jika engkau mendua

yakinkan kami sebagai presiden kau paham
engkau bukan pengamat, konsultan, atau awam
hanya bisa “meminta, mengharap” dan lain kata terpendam
sungguh kekuasaan nyata kau genggam
hasil akhirnya tanggung jawabmu seorang

jangan isyaratkan seolah kau biarkan
orang-orangmu menjilat penuh kepuasan
ketika isterimu dijual dan digadang-gadangkan
dalam nepotisme penuh ketelanjangan

tegaskan lagi pada kami
kebijakan negosiasi emas, energi, dan minyak bumi
sungguh buat kesejahteraan negeri
bukan tukar-menukar kekuasaan dan harga diri

sadarilah engkau bukan pemimpin
kamilah, rakyatmu, sang pemimpin
engkau hanyalah kepala pembantu rumah tangga negeri
digaji dengan perasan keringat dan air mata kami

tuan presiden, tunduklah kepada kami
bukan tunduk kepada majikan di luar negeri
penekan agenda penjajahan dan terorisasi
atas anak bangsa dan agamamu sendiri

Read the full article →

Survei Kepuasan Pengguna AcuanBahasa / KBBI / Glosarium

October 18, 2010

Anda pengguna AcuanBahasa, KBBI, atau Glosarium? Mohon bantuan Anda untuk mengisikan survei berikut ini dengan sebaik-baiknya. Opini Anda sangat penting dalam rangka perbaikan produk sehingga semakin memenuhi keinginan Anda. Tekan tombol hitam “Ikuti Survei!” berikut ini untuk menjawab survei ini. Jangan kuatir, hanya ada 1 pertanyaan;-). Ikuti Survei!

Read the full article →

Aplikasi AcuanBahasa, Gratis

September 14, 2010

Buat Anda yang baru berkunjung ke sini, jangan sampai terlewatkan: unduh AcuanBahasa di sini, perangkat lunak gratis luar jaringan (luring/offline) yang merupakan paduan dari berbagai sumber/acuan bahasa, yakni KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Glosarium (keduanya buatan Diknas RI), WordNet (Princeton University), padanan Inggris-Indonesia, dan klien Google Terjemahan. Silakan menikmati. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Read the full article →

Seven Weird Habits That Will Change Your Life

June 6, 2010

By Jonathan Mead / Creator of The Dojo

Source: http://www.mindpowernews.com/WeirdHabits.htm

Some habits will help you live a better life. They’ll help you improve what’s already working or help you fix what’s not working very well.

But what about habits that completely change the game entirely? What are the questions that uproot your beliefs, shake them from its roots and move you into a bigger pot?

These are seven habits that won’t just improve your game, or help you “level up.” They’ll help you play a different game, one that you completely design yourself.

1. Regularly engage in time travel.

Often the best way to solve a problem is to have a conversation with your future self. How do you do this without bending the space-time continuum? It’s simple, really. Have a seat in your favorite chair and close your eyes. Now imagine walking into a bare room, with plain white walls with a small table and two folding chairs facing across from each other. Sit down in the chair closest to you. Now, in walks your future self 10 years from now. S/he sits across from you and explains that s/he’s there to answer whatever questions you have about the problems you’re facing. Go ahead and begin firing. Ask him/her whatever you want and take advantage of a more experienced version of you.

2. Before you act, hold back.

You would think that immediate, unmitigated action is best. Act quick! Buy now! Hurry before it’s too late! These seem to be the cultural beliefs we’re imprinted with. But is acting quickly really better? I think sometimes the opposite is better. Think about what you want, but wait to act. Just spend ten minutes thinking about what you want to create and allow yourself to feel what it will be like to take action. I think you’ll find when you build anticipation like this, the quality of your action will improve.

3. Ignore and doubt yourself.

Sometimes listening to yourself and getting in touch with your intuition is important. But what if you don’t like what you have to say to yourself? What if you have patterns of thought that aren’t serving you? Sometimes it’s better to allow them to be there and ignore them, rather than trying to push them out. Other times, it’s even important to doubt yourself… that is, doubt what you think you’re capable of. We often underestimate our potential, so it can be beneficial to create the habit of doubting what you think you can do. It’s often much more than you think.

4. Feel before you do.

A lot of the time we create to do lists or start projects based on what we want to get done or want to accomplish. The feeling is supposed to come after we’re done. We’re supposed to feel good by accomplishing. While this approach seems very logical, it doesn’t always work too well. It’s much better to start with the feeling you want to create, and then choose the actions you want to take that will create that feeling. This is a hard habit to create, because it doesn’t seem reasonable and requires a lot of trust. You’ll also have to have the courage to stop doing a lot of things that don’t create the feeling you want. That takes a lot of guts. But it’s worth it.

5. What would happen if this was easy…?

As a culture we value people that work hard and beat the odds. We think it’s important to pay our dues and grind it out. But what if work didn’t have to be hard? What if your life didn’t have to be hard? What would happen if things were easy? Regularly asking yourself this question and seeing what comes up can be game changing.

6. What do I think is impossible…?

Sometimes we think that we’re only capable of a certain level of achievement. We doubt our own capabilities or think that a certain change would be too hard or impossible. We’ve set ourselves up to fail before we even begin. Ask yourself this question, then ask yourself why you think it’s hard or impossible. Then take a moment to pretend it wasn’t. What would you do differently?

7. What would I do if I had everything I needed already…?

A lot of the time we think we need more than we do in order to do what we want. We think we need more time. More money. More resources. More support. But is that really true? You can do a lot with a little. Many businesses are built with little to no start up money. Many great projects are started with a simple idea and a willingness to work hard. What if you didn’t need whatever it is you think you need to start? What if you had everything you needed right now?

These are just a few habits I’ve found that have made a huge difference for me. They’re a bit uncommon and take a while of practice in order to make them work, but once they’re installed you’ve essentially created a limit-breaking loop that leads you to higher and higher levels of success. It feeds on itself to grow.

So now my question for you is this: What habit has made the biggest difference for you? What one question or ritual has changed your life?

Read the full article →

100. Call to Action. Your One Life.

May 12, 2010

It is the people who make a country great. In every country, brave, compassionate people of action must be willing to assume the mantle of leadership and face the challenges to education, law, government, health care, the environment and human rights. If you live the Action Principles®, this person is you. Even as one, your [...]

Read the full article →

99. Be A Mentor. Become an Action Principles Champion.

May 11, 2010

If you want to learn first hand about a new subject and drastically shorten the learning curve, one of the best ways is to find a mentor. A mentor is an experienced per­son who is doing or has done what it is that you want to do and agrees to be your guide. Many successful [...]

Read the full article →