Permasalahan
(Apa yang akan dibahas ini kemungkinan besar sudah disadari oleh para pemilik atau manajemen puncak bank-bank, tapi sangat jarang disadari oleh kebanyakan karyawan bank, bahkan para account officer atau analis kredit sekali pun. So, tulisan ini lebih dialamatkan bagi para pemilik bank, bukan para karyawan bank pada umumnya.)
Bank SAT bukanlah sebuah nama bank.
Bank SAT adalah isitilah baru, perpaduan dari lembaga bernama bank dan perilakunya yang cenderung BANGSAT.
Ya, bank-bank, khususnya bank-bank swasta, adalah BANGSAT.
Kenapa?
Karena ketika kita “pinjam” uang dari mereka, yang terjadi pada dasarnya adalah bank-bank sat-sat itu menciptakan uang dari ketiadaan.
Mereka cukup menuliskan bahwa “rekening si X bertambah sekian rupiah sebagai pinjaman”. Tiba-tiba bank punya piutang (uang) dari ketiadaan.
Lho, bukankah bank memberikan pinjaman itu kepada nasabah dalam bentuk uang? Iya, tapi uang itu bukanlah uang milik bank tsb, tapi uang yang diambil dari dana nasabah secara bergilir, menciptakan ilusi bahwa bank punya “uang banyak”.
Bukti? Buktinya: coba semua orang mengambil “uang”-nya pada saat bersamaan, maka bank akan kolaps, dan akan ketahuan bahwa sebuah bank pada dasarnya tidak “menyimpan” uang kita. Sebagian besar (sekitar > 90%) “uang” bank hanyalah berupa “surat hutang” (atau “surat piutang” – tergantung dari sudut pandang siapa).
Penjelasan sederhana penciptaan uang mungkin bisa diambil dari sini:
Proses money creation bukanlah proses misterius yang hanya dimengerti para dewa… sederhana kok. Saya punya duit 10 jeti, saya depositoin ke bank, pulangnya saya bawa sertifikat yang ada tulisan 10 jeti dengan bunga sekian-sekian. Mekanisme fractional reserve memungkinkan bank tadi untuk meminjamkan SEBAGIAN duit saya ke orang lain dalam bentuk kredit untuk usaha. Mengapa kata SEBAGIAN saya tulis dalam huruf besar, karena itulah padanan kata dari FRACTIONAL. Bank cukup me-RESERVE 10% dari tabungan masyarakat, sisanya boleh dikucurkan dalam bentuk kredit. Karena saya masih pegang sertifikat deposito, maka saya yakin-seyakinnya masih punya duit 10jt di Bank, sementara si penerima kredit juga yakin-seyakinnya punya duit 9jt buat belanja bahan baku. Duit yang tadinya 10jt tiba-tiba jadi 19jt.
Perhatikan dalam contoh kasus di atas bahwa, melalui mekanisme fractional reserve, bank diberi dasar hukum untuk menciptakan uang dari ketiadaan sejumlah 9 juta rupiah. “Uang” baru itu tiba-tiba muncul dan menjadi milik bank, sementara peminjam harus bekerja keras menghasilkan uang riil untuk dikembalikan kepada bank.
Sekarang kalikanlah kejadian itu dengan ribuan atau jutaan transaksi sejenis yang berlangsung setiap hari di Indonesia. Berapa banyak bank-bank swasta itu – dengan enaknya – menciptakan uang sendiri yang kemudian menjadi milik mereka? Tidak aneh kalau bank-bank swasta itu memiliki keuntungan dalam jumlah triliunan setiap tahunnya.
Penciptaan uang secara masif seperti itu pada dasarnya tidak berbeda dengan PERAMPOKAN besar-besaran terhadap masyarakat luas melalui penurunan nilai uang (inflasi) yang dipegang seluruh masyarakat. Tentu saja, bank juga mengalami dampak tersebut, tetapi mereka adalah pihak yang paling diuntungkan, karena penciptaan uang terjadi ketika dampak inflasi dari penciptaan uang itu belum terasa sama sekali (karena inflasi membutuhkan waktu).
Ini persis seperti sistem fraud dalam skema investasi Koperasi Langit Biru. “Untung investasi” tinggi yang diberikan kepada investor berasal terutama dari dana investor-investor BARU. Sistem ini unsustainable seiring waktu.
Begitu juga sebenarnya dengan mekanisme fractional reserve banking yang kita anut. Sistem ini unsustainable, akan hancur pada suatu ketika, ketika penciptaan uang gila-gilaan lewat proses peminjaman melampaui batas, mengakibatkan efek domino ketika satu, dua, tiga, hingga seribu, sejuta, orang tidak lagi mampu membayar pinjaman karena pada dasarnya uang “riil” yang beredar sangat jauh lebih sedikit dibandingkan “uang” dalam bentuk rekening digital hasil dari proses peminjaman dari nasabah kepada bank.
Istilah “bank sebagai bisnis kepercayaan” memperoleh pemahaman baru: bagi saya, ini memang menunjukkan bahwa bisnis bank pada dasarnya adalah dekat dengan bisnis penipuan, sangat rentan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat, mirip seperti bisnis Koperasi Langit Biru di atas.
Inilah penjelasan fenomena siklus gelembung-kempes (buble economy, boom & bust). Fenomena itu tidak terhindarkan sebagai konsekuensi alamiah dari penciptaan uang dari ketiadaan ala fractional reserve banking system.
Siapa yang rugi dalam peristiwa itu? Yang rugi adalah masyarakat umum, karena tiba-tiba bank menambah suplai uang sehingga nilai uang secara keseluruhan turun (inflasi). Efeknya tidak langsung terasa, tapi mungkin terasa tiap tahun ketika setiap Lebaran atau tahun baru, harga-harga kebutuhan hidup meningkat secara signifikan. Efek itu juga terasa ketika anak atau cucu kita dalam beberapa dekade mendatang harus menanggung biaya atau harga rumah yang berkali-kali lipat dari harga saat ini.
Mereka dilindingi hukum lewat mekanisme fractional reserve.
Coba google berita dengan keyword “laba bank indonesia”, maka akan ditemukan bahwa di 2012 ini atau 2011 lalu jarang ada bank besar yang merugi, semuanya untung. Kenapa? Karena mereka BANYAK MEMINJAMKAN uang, dan karenanya banyak MENCIPTAKAN uang. Karena mereka menciptakan uang, bagaimana mungkin mereka tidak untung besar?
Itu dalam situasi normal.
Tetapi kalau dalam situasi buruk, seperti mis-manajemen, atau kongkalikong politik, nanti banksat-banksat itu akan diselamatkan oleh pemerintah, di-bailout. Pakai apa? Pakai uang masyarakat banyak sebagai pembayar pajak. Persis seperti kasus Bank Century, atau pada kasus krisis ekonomi ’97-’98 (hanya sekitar sembilan-sepuluh tahun setelah Paket Deregulasi Perbankan Oktober ’88 laknat itu), yang sampai-sampai pemerintah harus membentuk BPPN, dengan triliunan rupiah yang diambil dari uang rakyat sebagai pembayar pajak.
Jadi BPPN bukanlah “Badan Penyehatan Perbankan Nasional”, tapi adalah “Badan Penyelamatan Perampok Nasional”.
Banksat bukan?
Itulah enaknya jadi banksat. Mereka milik pribadi ketika untung, tapi menjadi “milik” umum ketika BUNTUNG (dalam arti, “dibayari” oleh semua orang, yang sebagian besarnya adalah rakyat kecil, rakyat miskin).
Yang KAYA makin kaya, yang miskin makin miskin. Itulah hasil dari mekanisme perbanksatan ini, yang dimulai dari mekanisme fractional reserve, hingga konsekuensi “too big too fail“, sehingga untuk mencegah “risiko sistemik” (bank run/bank rush), maka banksat-banksat itu harus diberi pertolongan, disuntik dengan uang rakyat puluhan, ratusan triliun rupiah.
Padahal itulah fenomena dimana terjadi “transfer kekayaan” dari mereka yang miskin kepada mereka yang kaya.
Masih nggak percaya kalau banksat-banksat itu menciptakan uang dari ketiadaan?
Kalau Anda nggak percaya, bisa dipahami kalau Anda masih bego bin culun seperti itu, karena saya pun belum lama ini saja bisa mengerti itu, yaitu setelah (dalam waktu liburan ini) punya cukup waktu untuk browsing, googling, youtube-ing. Makanya setelah saya paham, saya jadi marah luarbiasa dan nyumpah-nyumpah seperti ini. Bisa dimengerti juga ‘kan?
Tetapi bukan cuma Anda yang bego bin culun. Presiden kita juga bego dan culun. Bahkan para ekonom kita (yang kebanyakan lulusan Universitas Indonesia itu, seperti saya juga) juga bego bin culun.
Nggak percaya? Itu terjadi ketika pada krisis ekonomi ’98 lalu Soeharto diawasi dengan pongah oleh Michel Camdessus dari IMF untuk menandatangani pinjaman untuk “menyelamatkan” ekonomi Indonesia, dengan segala macam konsekuensi kebijakan yang mengikutinya; misalnya kebijakan floating currency alih-alih dollar pegging.
Soeharto Menandatangani Pinjaman IMF, Diawasi oleh Michel Camdessus
Hasilnya? Hancur lebur. Indonesia makin terperosok. Sementara Malaysia, yang dipimpin Mahathir, cerdas melakukan dollar pegging, dan hasilnya mereka melampaui Indonesia dalam hal kemajuan ekonomi.
Pinjaman IMF itu menghancurkan Indonesia karena pada dasarnya, IMF juga hanya melakukan penciptaan uang dari ketiadaan, padahal itu harus dibayar oleh Indonesia termasuk pokok dan bunganya.
Kenapa Pemerintah tidak menciptakan saja sendiri uang yang dibutuhkan (persis seperti yang dilakukan bank-bank swasta atau IMF itu), tapi kali ini dengan tingkat bunga 0% yang tidak membebani rakyat?
“All that we had borrowed up to 1985 or 1986 was around $5 billion and we have paid about $16 billion yet we are still being told that we owe about $28 billion. That $28 billion came about because of the injustice in the foreign creditors’ interest rates. If you ask me what is the worst thing in the world, I will say it is compound interest.”
Ya, dan Ibu Kita Yang Kita Kagumi Sri Mulyani sebenarnya bukanlah penyelamat ekonomi Indonesia, baik ketika menjadi kaki-tangan IMF, atau pun ketika sebagai Menteri Keuangan melakukan bail-out terhadap Bank Century. Mungkin beliau terlampau tercuci-otak oleh model-model matematik abstrak ekonomi ala Paul Samuelson yang seringkali lebih mengaburkan esensi permasalahan dibandingkan memperjelasnya.
Arus utama ekonom dewasa ini, di Indonesia dan tempat lain yang berkiblat pada Amerika, biasanya terlampau jauh tercerabut dari esensi dan akar permasalahan, dan tidak bisa memberi solusi kongkrit yang jelas. Heran, Amerika saja ekonominya sekarang ini carut-marut, kenapa model ekonominya masih kita percayai?
Lihat referensi di bawah ya (jangan males baca, jangan males mikir!).
Solusi?
OK setelah puas nyumpah-nyumpah saya mau ikutan share solusi.
Ini ngikutin saran dari Positive Money, yang menyatakan bahwa akar permasalahan banksat-banksat kita adalah ini:
- Ketika kita menyimpan uang, banksat-banksat itu bebas meminjamkan uang kita.
- Bank juga bebas menggunakan uang kita untuk “berinvestasi” pada apapun, termasuk untuk menyuap politisi, berinvestasi pada teknologi senjata pemusnah massal, berinvestasi pada industri perusak lingkungan, dll.
- Bank diperbolehkan menciptakan uang lewat mekanisme fractional reserve.
Dengan solusi (sederhana/disederhanakan) sbb.:
- Bank diharuskan mendapatkan ijin dari penabung untuk meminjamkan uang penabung tsb kepada nasabah lain.
- Bank diharuskan menginformasikan penggunaan uangnya.
- Kembalikan kekuasaan untuk menciptakan uang kepada kekuatan demokratik (sebuah lembaga pilihan/bentukan rakyat).
Solusi lain adalah penggunaan uang LOKAL, dan/atau kembali kepada BARTER.
Barter? Nggak repot tuh?
Dengan perkembangan teknologi yang ada saat ini, kita sampai pada situasi di mana sangat mungkin untuk melakukan hal itu.
Lihat sebuah software open source yang bisa melakukan hal itu.
Di Yunani, hal itu sudah dicobakan, lihat kisahnya di sini:
http://www.nytimes.com/2011/10/02/world/europe/in-greece-barter-networks-surge.html
http://www.guardian.co.uk/world/2012/mar/16/greece-on-breadline-cashless-currency
Tindak lanjut?
OK, siapa yang tertarik untuk berpartisipasi dalam proyek penciptaan uang lokal dan sistem barter menggunakan Cyclos?
Saya serius nih, nanti coba saya buatkan proposalnya di GAGAS.web.id (yang sepertinya sedang pingsan itu).
Partisipasinya tidak dalam bentuk uang, tapi dalam bentuk kontribusi ide dan kerja.
Ada ide, apa nama situsnya, apakah uanglokal.org, indobarter.org, atau yang lain?
Referensi:
1. Paul Crignon, “Money as Debt”, http://www.moneyasdebt.net
2. Ben Dyson, Positive Money.
3. Bob Chapman, “Money Creation and the Bankruptcy of Major Banks: The Roles of the IMF, The European Central Bank and the Federal Reserve”
4. Michael Hudson, “How the Banks Broke the Social Compact, Promoting their Own Special Interests”
5. Martin Zeis, “Famous Quotes about Fiat Money”
6. David McNally, “Follow the Money Trail: Behind the European Debt Crisis Lie More Bank Bailouts”
7. Richard C. Cook, “Seeing Through the Illusion of Money: Challenging The Money Power”
8. Adrian Salbuchi, “The Money Masters: Behind the Global Debt Crisis”
10. Referensi penggunaan Cyclos:
http://www.nytimes.com/2011/10/02/world/europe/in-greece-barter-networks-surge.html
http://www.guardian.co.uk/world/2012/mar/16/greece-on-breadline-cashless-currency
http://www.collapsenet.com/information-on-the-web/70-open-source/1272-cyclos-software
http://www.sunflower.ch/index.php?p=site4_cyclos&l=en
http://trado.info/node/10
http://www.correntewire.com/cyclos_alternative_currency_software
http://ccmag.net/cyclos/3/6
{ 0 comments }
